Monday, 20 March 2017

That One Comedic Delight is "Water Boys"


Kadang kala ada film yang membuat kita mengutuki diri sendiri setelah selesai menontonnya. Bukan karena kualitasnya jelek, tetapi karena menyesali kenapa tidak dari dulu-dulu menyaksikan film tersebut. Hal tersebut saya alami beberapa kali, salah satunya dengan Water Boys. Film yang rilis di Jepang tahun 2001 silam ini baru saya tonton 16 tahun kemudian... padahal file-nya sudah ter-download entah sejak kapan. Bego betul.

Water Boys, arguably, is one of the most hilarious Japanese movies I've ever watched.

Sangat menghibur. Kisahnya tidak ambisius ataupun pretensius. Bener-bener 'cowok SMA banget', yang mana masih mengedepankan soal persahabatan dan bertingkah bego bareng-bareng... tapi sudah mulai lirik-lirik cewek dan paham masalah mesum dikit-dikit. Saya sukses dibuat terbahak-bahak sejak sepuluh menit pertama. Film Water Boys ini lugu, apa adanya, tidak banyak tempelan sub-plot di sana-sini tapi tetap gokil.

Oh, lupa bilang. Ini film Jepang ya... karena saya #BudakYapan™.


Cerita dibuka melalui sudut pandang satu-satunya anggota klub renang SMA Tadano, Suzuki (diperankan Tsumabuki Satoshi), yang tidak pernah menang kejuaraan. Klub renang SMA Tadano tidak populer sehingga sulit mendapat anggota baru. Artinya, jika Suzuki lulus nanti, kemungkinan klub renang akan bubar. Sedih, kan. Suzuki pun sering mengalami existential crisis akibat merasa lemah dan tidak mampu menyelamatkan klubnya.

Bawaannya nangis di bawah shower. Persis kayak saya pas lagi sedih.


SMA Tadano kemudian kedatangan seorang guru, Sakuma Megumi, yang kemudian dimandati sebagai pengawas klub renang. Berhubung Sakuma-sensei ini cakep, sejumlah cowok pun berbondong-bondong mendaftar sebagai anggota baru klub renang. Namun ternyata oh ternyata... Sakuma-sensei bermaksud membentuk klub synchronized swimming dan bukan klub renang biasa. Cowok-cowok yang tadinya ingin bergabung ke klub renang pun langsung kabur semua karena synchronized swimming identik dengan anak perempuan. Tinggal Suzuki, Sato (diperankan dengan sangat geblek oleh Tamaki Hiroshi), Ohta, Kanazawa, dan Saotome yang masih tersisa.

Sakuma-sensei berencana mengadakan pertunjukan synchronized swimming untuk Festival Sekolah yang diselenggarakan sehabis libur musim panas. Masalah muncul ketika Sakuma-sensei harus cuti panjang oleh sebab suatu alasan mendesak. Suzuki dan teman-temannya jadi tidak punya pelatih untuk synchronized swimming, padahal mereka semua masih newbie. Apa yang harus mereka lakukan...?

Cowok-cowok yang termakan pesona Sakuma-sensei.

Lima orang yang tersisa.

Parah. Parah. Saya tidak bisa berhenti tertawa menyaksikan Water Boys. Minimal cengar-cengir. Bahkan memasuki beberapa menit awal saya sudah ngakak sampai tersedak-sedak. Kacau banget lah pokoknya. Walaupun terbilang sports movie, Water Boys sama sekali tidak menyentuh perkara turnamen-turnamen yang biasanya menjadi latar belakang motivasi 'kebangkitan' suatu klub atau tim olahraga. Gol tujuan Suzuki dan kawan-kawannya ya memang sebatas Festival Sekolah saja. Sederhana. Realistis. And funny as hell.

Film ini sangat ringan dan begitu happy-go-lucky, bahkan tidak ada karakter jahat di dalamnya (kalaupun ada... berarti saya yang cukup bego untuk tidak menyadarinya saking sibuk tertawa). Salah satu hal yang saya paling sukai dalam Water Boys adalah bagaimana interaksi antara Suzuki, Sato, Saotome, Ohta, dan Kanazawa diperlihatkan. Karakter mereka masing-masing berbeda, namun kelimanya bisa berteman akrab meski tidak jarang dihiasi berantem-berantem unyu yang kembali akur beberapa menit kemudian. Shots-shots yang memperlihatkan kelima cowok-cowok itu dalam satu deret juga merupakan favorit saya sepanjang film. Menyenangkan sekali melihat mereka tampil berentengan dengan kompak.

Tidak percaya? Nih, contoh-contohnya:




Seringnya, dalam sebuah film, kita sebagai penonton pasti punya satu atau dua adegan favorit yang paling membekas di kepala (kadang juga hati, soalnya bikin baper). Saya sulit menemukan scene favorit di Water Boys karena semuanya sangat kocak dan sulit untuk 'diabaikan'. Namun, ada sebuah peristiwa di game center yang paling sukses membuat saya nyengir geli. Screenshot-nya bisa dilihat di bawah ini:


Berdasarkan penilaian pribadi, saya berikan Water Boys 8.5/10. Agak bias karena saya diam-diam penggemar Tsumabuki Satoshi dan Tamaki Hiroshi, namun saya berani bilang bahwa Water Boys benar-benar menghadirkan sebuah hiburan murni yang menyenangkan dan menghangatkan hati. Bikin nostalgia pada masa-masa saya sekolah di Kyoto Tachibana High School, yang beberapa kisahnya bisa ditemukan di bagian awal-awal blog ini (mohon maklumatnya karena saya masih sangat alay di kala itu). Tentu saja, tampang cengoh Suzuki juga menjadi poin yang cukup saya nanti-nantikan sepanjang film. Tsumabuki Satoshi could totally look like a dumbass and I would still think that he's cute.


Kenapa coba nggak dari dulu nonton ini...
#PenyesalanMendalam

z. d. imama

Friday, 17 March 2017

On getting catcalled.


Sebagai gadis rantau yang hidup sendirian sebagai warga kos-kosan di kota Jakarta (jomblo pula) dan tidak punya banyak teman, pergi ke mana-mana sendirian adalah tindakan default saya sehari-hari. And for the love of God, setiap kali saya bepergian, minimal satu kali pasti mengalami di-catcall mas-mas atau bapak-bapak. Disiul-siulin. Digodain. Diledekin. Ditanya, "Mau ke mana Neng?" sampai dikatain sombong ketika saya memutuskan untuk tidak menggubris celetukan-celetukan itu. Sungguh saya tidak habis pikir. Ngapain sih? Saking seringnya mengalami kejadian macam begini, jika saja saya dapat Rp1000 untuk tiap catcall yang diterima, tampaknya saya sudah cukup kaya-raya.

Anyway,

Awal bulan Maret lalu, di Jakarta diadakan event Women's March pertama. It's an important event all right, but I never realized how much we need that kind of movement until I saw someone who happened to be a Cleo's "eligible bachelor" went full ignorant mode on his Instagram account.

Screenshot from March 5th. "Eligible bachelor" mbahmu kiper...

Saya tidak akan membahas paragraf pertama karena di Twitter dan beberapa media sosial lain sudah cukup banyak yang memberikan counter argument dan memaparkan kenapa logika masnya nggak jelas dan sebatas sok cerdas. Saya pribadi justru tergelitik di paragraf kedua, yang mana jika wording-nya diganti akan kurang lebih menjadi seperti berikut: "Gue mau tanya nih, itu orang-orang yang bilang kalau mereka nggak suka di-catcall emangnya pernah dapet catcall? Emang ada yang sudi catcalling mereka?"

Bro, bro. Newsflash: I am this ugly and yet people still catcall me. Serius deh. Kalau memang "cewek-cewek jelek" dianggap tidak mungkin mendapatkan catcall, saya seharusnya bisa hidup damai tanpa pernah mengalami digodain mas-mas dan bapak-bapak saat pergi sendirian. But it doesn't work like that. It never works that way. And as much as I hate to say it, catcalling is something that has been present in our society for a long time.

Saya rasa banyak perempuan (if not all of us) yang setiap harinya merasakan kecemasan akan mengalami serangan dan pelecehan seksual, baik itu secara verbal maupun fisik ketika sedang beraktivitas sendirian. Bahkan 'hati-hati' rasanya tidak cukup. Bagi banyak perempuan, default status saat beraktivitas tanpa teman yang mendampingi adalah 'waspada'. Atau jika meminjam istilah Mad-Eye Moody di Harry Potter: Constant Vigilance.

Capek, guys. Lelah.


You see, when we girls are growing up, we are taught "the buddy system". Girls are advised not to go anywhere without telling an adult or without a friend or two. Nasihat-nasihat klasik seperti "Jangan pergi sendirian", "Kalau mau keluar sampai malem harus ada temennya", bahkan peringatan "Buat jaga-jaga aja kalau ada apa-apa" adalah sesuatu yang sangat akrab di telinga. It’s one kind of fear we girls learn to live with, and it’s one kind of fear that many men out there don’t understand (including the so-called Cleo's eligible bachelor). Tapi apakah ketika seorang perempuan melakukan berbagai kegiatan atau pergi ke bermacam-macam tempat tanpa ditemani siapa pun, maka dia 'layak' mendapatkan gangguan berupa catcall, dan 'layak' menerima komentar seperti "Lu sih perginya sendirian" saat mendapatkan perlakuan yang tidak diinginkan dari orang lain? I do not think soAnd even Playboy magazine made a flowchart about whether or not men should catcall women, if people still need a somewhat guide.

People also shall remember that the victim is never to blame.

Iya. Bukan salah pihak yang kena catcall. You read that correctly. The victim is never at fault, and that catcalls are not even close to compliments. Berkali-kali saya menerima catcalls dan tidak pernah satu pun di antaranya yang membuat saya senang atau tersanjung. Merinding sih iya. Marah sih banget (tapi mau tidak mau ya saya tahan dalam hati). So if they catcallers thought it would brighten my day, make me feel empowered, or even that I would be flattered that they took time out of their mundane day to shout words and whistle at me... I can surely say that never once I felt those things.

I dream of the day when I can walk home (or anywhere) without getting catcalled and/or whistled at by abang-abang PKL, mamang-mamang ojek pangkalan, bapak-bapak chatting in group at poskamling or basically men in general.

*Deep, long sigh.*

z. d. imama

Thursday, 2 March 2017

The Wolverine is now simply 'Logan'


Saya punya complicated relationship dengan franchise X-Men. Beberapa kali ekspektasi saya dilambungkan tinggi melalui film keren seperti X-Men: Days of Future Past hanya untuk dihempaskan lagi dengan film berbau 'Yaudah lah ya gaes, yang penting jadi' dan ada Mbak Olivia Munn kayak X-Men: Apocalypse. Maka ketika saya diajak nonton Logan oleh seorang kawan... ekspektasi saya nggak ada sama sekali. Lagian kalau boleh terus terang, saya nggak terlalu ngerti juga sih timeline di X-Men itu kayak gimana.

Tapi ya tetep berangkat ke bioskop.

Filmnya bubar jam 00:15. Lumayan juga durasinya.

Tadinya saya cuma termotivasi, "Okelah nggak apa-apa kalaupun ternyata filmnya embuh... minimal ada Om Hugh Jackman yang ganteng". Eh ternyata saya salah besar. Filmnya sih bagus, tapi di sini Om Hugh Jackman-nya jelek! Hahaha. Dekil, memprihatinkan, nggak terawat gitu (atau mungkin sengaja nggak merawat diri supaya sulit dikenali). Sepanjang film sama sekali tidak ada momen-momen yang bisa saya gunakan untuk fangirling. Padahal banyak banget adegan Om Jackman ke mana-mana cuma pakai kaos singlet pamer badan. Tetep gagah dan tinggi menjulang, sih. Tapi saya terlalu fokus ke ceritanya sehingga tidak terdistraksi melakukan hal aneh-aneh.

Kemarin Twitter sempat ramai membahas rating Logan yang tergolong dewasa (di tiket saya juga tertulis 17+, tapi menurut saya lebih baik 21+ sekalian), dan sungguh itu benar adanya. Sepuluh menit pertama―atau malah lima menit pertama?―penonton sudah disuguhi appetizer yang membuat kita punya bayangan, ke menit-menit berikutnya film ini bakal jadi kayak apa. Adegan berantemnya nggak tanggung-tanggung. Serpihan-serpihan daging manusia seringkali terpampang nyata seolah-olah itu remahan brownies. Jangan bawa anak-anak untuk nonton Logan ya Pak, Bu, jika kalian keberatan buah hati kalian terpapar kekerasan ekstrem. Kalau masih nekat bawa anak kecil tapi kemudian ngomel-ngomel ke pihak bioskop di media sosial itu sih tolol...

Nek ngeyel, takculek mripatmu!

Cerita Logan berlatar di tahun 2029, saat James Howliett (alias Logan alias Wolverine) sudah mulai uzur dan Charles Xavier sudah menjadi tua bangka. Di sini saya menyadari, Hollywood telah belajar satu hal penting: tahun 2029 pun hidup manusia juga kayaknya bakalan gini-gini aja. Ingat kan, gegap gempita semasa mendekati tahun 2000? Semua film berlomba bikin konsep tahun 2000-an yang futuristik lengkap dengan mobil terbang, gedung mengambang, pintu ke mana saja, blah blah blah. Pret. Mimpi, bro. Di Logan, Hollywood tampak realistis dengan tidak menampilkan hal-hal yang terlalu wow nan utopis. Biasa aja... kayak La La Land.

*Kemudian dibakar hidup-hidup oleh netizen.*

Oke. Logan dikisahkan hidup mengasingkan diri bersama Profesor X di pinggiran Meksiko dengan bantuan mutan lain bernama Caliban. Demi mencari nafkah, Logan bekerja sebagai supir limusin sewaan (kayaknya sih sistemnya semacam Uber atau GrabCar gitu deh). Harapan Logan sebenarnya hanyalah menjauhkan diri mereka sebisa mungkin dari khalayak ramai. Ditambah lagi, dunia sekarang tidak mutant-friendly.

Tapi demi perkembangan cerita... angan-angan Logan harus tidak terkabul. 

Sesosok perawat bernama Gabriela menemui Logan dan meminta pertolongan untuk mengantarkan dia dan anak perempuan bernama Laura keluar dari Meksiko. Menuju North Dakota. Dibayar, sih. Lumayan mahal pula. Masalahnya, ternyata mereka berdua diincar oleh sekelompok orang jahat (anggap saja begitu). Logan akhirnya dilanda dilema. Perlukan dia menolong Gabriela demi uang bayaran yang lumayan? Atau berlagak cuek dan pura-pura nggak kenal demi menjaga stabilitas status quo?


Kehadiran Laura, gadis kecil yang dibawa Gabriela, tadinya membuat saya punya kesan bahwa film ini berbau Disney-ish. Macem Iron Man 3, gitu. Iya sih, terasa mirip film Disney... tapi ditujukan bagi anak-anak yang terlalu cepat tumbuh dewasa. You will get what I mean when (or after) you watch this movie.

Jujur saya iri dengan Dafne Keen, pemeran Laura. Umur segitu dia sudah main film action dari franchise terkemuka bareng Hugh Jackman serta Patrick Stewart, dengan kualitas akting yang mumpuni. Mungkin karena dia belum kenal jaim jadi justru bisa lebih bebas. Sementara saya ketika seusia Dafne, perilaku yang paling mendekati 'action' adalah memanjat pohon talok dan pohon pete di halaman depan sekolah. Kesenjangan nasib dan talenta ini sungguh membuat saya insekyur.


Nonton Logan ini capek. Sumpah. Menguras emosi. Not in the Dangal level of 'emotionally engaging', but it exhausts us nonetheless. Perasaan penonton dilibatkan di setiap adegannya, membuat Logan bisa dikatakan sebagai film X-Men yang paling down-to-earth dan 'apa adanya'. The emotions are so raw and so there. Beberapa kali saya bawaannya kepengin menghampiri Om Jackman lalu ngepuk-puk bahu dia yang alamak itu.

Kisah Wolverine selama sekian tahun ini telah ditutup oleh 'Logan' dengan baik. Bukan akhir yang ideal. Bukan pula akhir yang sempurna. Bahkan mungkin bukan akhir yang diinginkan beberapa orang. Tapi hidup manusia memang hampir tidak ada yang ideal dan sempurna kan? Hidup juga tidak selalu berjalan sesuai keinginan. Some gains and some losses. But everything still works out fine.

Bagi saya, film ini 8.3/10.

Mau nggak seandainya ada yang ngajak nonton lagi? Waduh.. nggak deh. Hati saya nggak kuat menghadapi intensitasnya. Hahaha. Haha. Ha. #DasarLemah

z. d. imama

Sunday, 26 February 2017

Mother Game (How You Play Parenting Game)


Japanese drama (atau disingkat J-drama) merupakan soap opera alias sinetronnya televisi Jepang. Sekadar trivial information, saya suka sekali menonton dan mengoleksi J-drama. Entah sudah berapa terrabyte memori HDD eksternal saya habis demi menyimpan semua file tersebut. Sungguh Budak Yapan yang hakiki, bukan? Menurut saya pun, drama Jepang masih lebih bagus dibandingkan Korea dari segi kisah maupun penuturan. J-drama cenderung lebih kompleks dan padat, tidak bertele-tele, karena satu serial biasanya hanya 6-12 episode sudah tamat. Bandingkan dengan drama Korea yang rata-rata dua puluh sekian episode.

Apalagi Tukang Bubur Naik Gaji, eh... Haji.

Saya hendak mengisahkan sedikit tentang J-drama yang belakangan saya tonton dan anggap bagus. Well, yeah, I must admit, as much as I love Japanese dramas, sometimes I find one or two series that feel quite 'meh'. Biasanya yang begitu gara-gara aktor dan aktrisnya masih ABG. Maklum, baru debut, kualitas aktingnya rata-rata masih kaku kayak kanebo kering. Nah, J-drama terbaru yang nyangkut di hati saya kali ini berjudul:

Mother Game

Tayang di Jepang tahun 2015 lalu, dan rating-nya di AsianWiki mencapai 92%. Tinggi banget kayak apartemen-apartemen Agung Sedayu. Bisa ditebak dari judulnya, kisah Mother Game adalah seputar kehidupan menjadi seorang ibu. Tapi dikemas dalam setting dan alur yang menyenangkan, menegangkan, nyata, dan sekaligus hangat.


Kamahara Kiko (diperankan Kimura Fumino) adalah seorang single mother dari anak laki-laki umur lima tahun bernama Haruto. Alasan jadi single mother? Biasalah, dulu nikah muda, punya anak, eh ternyata hari ke hari suaminya makin nggak jelas dan nggak bisa diandalkan sehingga akhirnya mereka bercerai. Same old story, people, same old story. Sebagai orang tua tunggal yang harus bekerja demi menafkahi keluarga kecilnya, Kiko pusing karena jasa penitipan anak di tempat yang selama ini jadi langganannya tidak bisa diperpanjang. One thing turns to another, dan Kiko kebetulan bertemu dengan Naraoka Fumi, seorang ibu-ibu yang mengaku sebagai kepala Taman Kanak-Kanak Shizuku. "Gimana kalau Haruto didaftarkan saja ke TK kami? Kan bisa bermain sambil belajar," begitu tawaran sang ibu-ibu.

Berhubung butuh... diiyakanlah tawaran tersebut oleh Kiko.

Ternyata oh ternyata, Taman Kanak-Kanak Shizuku merupakan TK elit yang terkenal di kalangan kaum menengah atas (beberapa rada ngehe juga sih). Setiap hari seluruh murid diantar ibu mereka masing-masing naik mobil mewah. Ibu-ibu ini pun selalu pakai barang mahal tiap mengantar anaknya. Semacam pamer harta dan menjaga kasta. Hanya Kiko yang jelata. Pakai baju biasa, Haruto diantar dengan sepeda.


Setiap episode Mother Game mengangkat kisah hidup Kiko dan para ibu-ibu di TK Shizuku. Perjuangan mereka sebagai istri dan orang tua, sekaligus sebagai perempuan pada umumnya. Diperlihatkan pula Kiko, satu-satunya #SobatKizmin di sekolah elit, berusaha mendobrak hierarki dan melakukan perlawanan terhadap tekanan-tekanan yang dia terima dari beberapa ibu-ibu lain. Saya suka bagaimana drama ini menyampaikan episode demi episode. Memperlihatkan Kiko yang tadinya sempat jadi musuh bersama (berhias bisik-bisik, "Ini ngapain anjir ada gembel nyasar di sini?" dari kanan-kiri), lambat laun mulai memperoleh tempat di tengah-tengah ibu-ibu kelas atas, berkat keberanian dan ketulusannya.


Jujur saja, minat saya untuk mulai nonton Mother Game timbul bukan disebabkan oleh judul maupun ringkasan ceritanya yang terdengar menarik. Tetapi karena mbak Kimura Fumino jadi tokoh utama. Iya, faktor bias. Persis seperti ketika saya memutuskan nonton The Girl on the Train cuma gara-gara ada mbak Emily Blunt. Mohon maaf, saya memang orangnya begini.

Di mata saya, Kimura Fumino adalah satu dari aktris Jepang favorit saya yang aktingnya terbilang jago dan terlihat sangat alami. Kayak nggak pakai usaha. Nggak takut ekspresi mukanya tampak norak bahkan jelek di depan kamera. Nggak jaim. Tapi anehnya, walau Kimura Fumino selalu all out dalam berakting, entah kenapa lihat wajahnya saja sudah bikin hati saya adem. Seolah-olah ada aura khusus yang menguar dari dalam. Jenis orang yang―bagi saya―dipandang berkali-kali pun tidak akan bosan. I can spend hours just looking at her face and feeling at ease.



Tetapi ternyata dalam perjalanan menyimak episode-episode Mother Game, saya menemukan kejutan menyenangkan lain. Sosok Naraoka Shinnosuke, wali kelas Haruto, diperankan oleh Seto Koji (yang juga adalah salah aktor favorit saya karena ganteng banget yaa Rabb). Saya sedikit kaget melihat di sini Seto Koji memerankan sosok guru, mengingat dia lebih sering mendapat karakter anak muda yang cengengesan dan semau gue―menyesuaikan pembawaannya yang manis dan cenderung asik.

But then again, I wouldn't bother complaining if I had a teacher who looks like this.



*Ngelap iler yang berceceran di muka karena kebanyakan halu.*

Oke, mari kita kembali fokus.

Untuk Mother Game saya sematkan rating 9.5/10. Sebagus itu, kok. Alur ceritanya dituturkan dengan baik, kecepatan perkembangan cerita juga believable. Total ada 10 episode, yang mana intensitas masing-masing episode terbilang kompetitif. Tidak ada yang berlebihan, tidak ada yang terlalu santai atau draggy. Kualitas produksinya top-notch. Bisa terlihat dari berbagai detil termasuk pengambilan gambar, pernak-pernik properti, akting, kostum (bahkan baju-baju milik Kiko tidak pernah ada yang fashionable), dan lain-lain. Saya sama sekali tidak menyesal melenyapkan 11GB free space dari HDD eksternal saya agar drama ini bisa tersimpan aman. One of the best J-dramas I have ever watched, and this is definitely going up to the first half of the list.

Jadi single mother itu sungguh penuh perjuangan...

z. d. imama

Friday, 24 February 2017

#WhateverCuisine: When cabbage and meat get a fusion.


Tulisan ini entah sudah berapa lama nyangkut di draft saya nggak sempat dipublikasikan. Akhirnya saya revisi sedikit sebelum diposting. Daripada semakin mengerak. Dia telah berstatus draft lebih lama dari proses move on para netizen, tampaknya. Halah. *Digebukin warga sekampung karena jayus*

Jadi ceritanya begini. Beberapa waktu lalu (somewhere around mid 2016) ketika saya pulang ke rumah, seperti biasa yang saya lakukan adalah menggeledah-geledah kulkas karena hanya di rumah sendiri saya bisa melakukan hobi terpendam: iseng-iseng ngulik di dapur dan bikin makanan aneh-aneh. Modalnya cuma satu, yakni memanfaatkan bahan-bahan yang ada. Kadang juga diada-adain sih, toh supermarket ada di seberang jalan. Sumpah, tinggal nyeberang jalan raya doang sudah nyampe.

Saya tidak tahu masakan ini namanya apa. Mari kita namakan saja dia Meat On Top, supaya keminggris dan kedengaran keren. Padahal sebenarnya saya cuma bingung ketika menemukan sebutir kubis yang bulat sempurna di dalam kulkas. Iseng-iseng menjajal begini-begitu, eh ternyata jatuhnya kok bisa dimakan.

Langsung saja ya saya bagi-bagikan eksperimen ini.

What you need.

- Kubis (yang putih jangan yang ungu), dipotong tipis memanjang seperti pasta.
- Sedikit garam.
- Air bersih secukupnya untuk merebus.
- 1/4 kilogram daging giling/cincang (boleh ayam boleh sapi).
- 2 bawang merah, potong kotak kecil.
- 2 bawang putih, potong halus.
- Beberapa buah cabai, potong halus.
- Satu bungkus saus pasta siap saji rasa barbekyu (itu lho macam La Fonte.. ahahaha!).
- Minyak secukupnya untuk menumis.
Ukuran di atas ini nggak precise, sih. Namanya juga eksperimen jadi saya cuman cemplang-cemplung? *Kabur sebelum didemonstrasi rame-rame.*

What you need to do.

- Pertama-tama, untuk kubisnya kita rebus sebentar dengan cara dimasukkan ke dalam air mendidih yang sudah digarami selama beberapa saat. Sebentar aja, sumpah. 10-15 detik cukup (asal airnya beneran sudah mendidih ya). Jangan sampai lembek pokoknya. Bisa juga di-steam, tapi karena saya agak males ya udah sih.
- Saring dan sisihkan kubisnya. Kita kembali lagi nanti. Eh tapi kalau mau nyiapin kubisnya belakangan juga bisa sih. Toh cepet.
- Panaskan minyak. Persiapkan bawang merah yang tadi sudah dipotong halus lalu tumis. Tambahkan bawang putih lalu tunggu sampai aroma wanginya keluar.


- Setelah bawang merah dan bawang putihnya terlihat sudah mulai berubah warna, masukkan daging giling atau cincang, aduk rata.
- Masak sampai dagingnya menjadi cokelat gelap. Kalau mau masukin potongan cabai halus di tahap ini juga boleh.


- Masukkan saus pasta siap saji. Aduk rata.
- Tutup sebentar panci atau wajan kalian (tapi sisakan sedikit lubang supaya uap bisa keluar) sampai daging giling/cincang yang tadi dimasukkan sedikit lebih empuk.


- Kalau sudah dirasa cukup, angkat.
- Susun kubis di atas piring saji, tuangi dengan saus daging.
- Hias dengan sedikit keju parut.
- MARI MAKAN!

Lebih bisa dimakan daripada yang saya duga.

Sudah. Memang cuma gitu doang.
Tertarik mencoba?

z. d. imama

Thursday, 23 February 2017

On being a girl.


I personally think that being born as a girl means that you have to be ready for a continual struggle as long as you live. Yup. Being a girl is hard. So freaking hard. But this is my personal view, anyway, so please feel free to disagree. Or to give me a piece of your mind. Or to "correct" me if you think I'm mistaken. Yet nonetheless, I think being a girl is effing... wearying.

Saya akan menuliskan beberapa hal membuat saya berpendapat bahwa menjadi seorang perempuan itu tidak mudah. Disclaimer: basis dari postingan ini adalah pengalaman pribadi saya. If you guys experience something better, then it's good. Just... know that not everyone has the privileges, or even luck.

The monthly hassle.

Pada postingan sebelumnya sudah saya ceritakan betapa hakiki penderitaan yang saya alami setiap bulan karena menstruasi. Sebenarnya pernah periksa ke dokter, lalu diresepkan... birth control pills. Cuma masalahnya ketika mau ditebuskan ke apotek, apoteknya nggak mau ngasih karena saya tidak bisa menyerahkan kopi surat nikah yang mereka minta. Sedih banget kan. Sudah mencoba ke beberapa apotek pun hasilnya sama. Ada juga yang langsung bilang, "Wah nggak ada, Dek" saat saya tunjukkan resep.

Jadi ya sudah. Hingga saat ini pun saya masih bergelut dengan kram perut dan nyeri-nyeri (tidak) sedap ketika tamu bulanan itu datang berkunjung.

You can find Sarah's Twitter account here.

Moving on.

The blurred lines between friends or foes.

I grew up as a misfit. At school. At the neighborhood. Basically anywhere. Ketika jam istirahat saya lebih sering bersemedi di perpustakaan sekolah membaca semua koleksi buku yang ada di sana. Semasa SD, saya menerima banyak ejekan karena ukuran tubuh (bahkan sampai sekarang pun masih sering disindir-sindir oleh sejumlah orang―yang mana sama sekali tidak membantu psychological state diri ini yang naturally insecure). Bangku SMP hingga kuliah, saya tidak terlalu sering bergabung dengan circle-circle pertemanan karena entah mengapa tidak merasa nyaman. Berlama-lama nongkrong di kantin bukan hal yang menarik bagi saya. Mentok-mentok 45 menit. Itu pun sudah penuh perjuangan (biasanya saya rela memperjuangkan ini karena saya memang bokek kronis, jadi menunggu ada teman yang jajan supaya bisa dicicipin).

Jika dipikir-pikir, terakhir kali saya berada dalam 'geng' yang anggotanya perempuan semua adalah masa SMP. And in all seriousness, I never really knew who my true friends are when I was in an all-girls circle. The problem with many girls-only circles is that almost everyone is competing against almost everyone instead of supporting each other. Saya punya beberapa sahabat perempuan terbaik, tapi mereka justru hadir dalam single serving yang terpisah-pisah layaknya pisang Sunpride alih-alih satu rombongan.

Saya rasa, perempuan punya kecenderungan untuk bersikap lebih kejam justru terhadap sesama perempuan. Sedih nggak, sih? Gimana feminisme mau maju di negeri ini dan dimasyarakatkan dengan baik kalau yang (lebih) sering slut-shaming, body-shaming, bahkan victim-blaming seorang perempuan adalah perempuan juga. I've seen many girls―or womenshowing much, much less empathy to other girls/women. Nggak usah jauh-jauh deh. Itu di dalam KRL Jabodetabek, mau tahu di mana titik paling barbar dan lawless? Gerbong khusus wanita. That is where the real Hunger Games occurs.

But we have no Katniss Everdeen here.

The insanely ridiculous beauty standard.

Beberapa waktu lalu saya membaca tulisan dari dua orang yang 'berperang artikel' di Magdalene. Temanya sama: mengenai 'menjadi cantik'. Pertama, "Everyone is Beautiful: A Necessary Campaign" yang ditulis oleh Nadila Dara, seorang editor dan penulis di Female Daily Network. Well... yes. I guess that explains why she has such an opinion. Meskipun frase "Creating our own beauty standard" adalah sebuah hal yang bisa saya terima sebagai sesuatu yang cukup penting, saya tidak begitu menyetujui saat pada tulisan itu dikatakan bahwa "random standard classify them as ugly". I think the standards are not exactly 'random'. They are picked, shaped, and nurtured in the society, and my take is that beauty pageants are also preserving the so-called standards. Lha kalau memang yang diutamakan adalah tiga aspek berupa Brain, Beauty, Behavior dan semua orang (sebagaimana kata penulis artikel) sudah memiliki kecantikan dalam diri mereka masing-masing... harusnya kriteria berat dan tinggi badan nggak usah dimasukkan toh? Tapi yo ini cuma opini saya sebagai rakyat kecil.

Artikel kedua, ditulis oleh Ellyati Priyanka dan berjudul "I am a Feminist, I Stand Against 'Everyone is Beautiful' Narrative". Walau menurut saya dia tidak perlu pakai acara mendeklarasikan diri sebagai feminis di judul artikel (buat apaan sih?), isi tulisannya cukup menjelaskan bahwa berpikir "I am ugly but that is totally okay" bukan merupakan hal buruk. There is still many things we can do even when we are not considered 'beautiful', even in our own eyes. And that is perfectly fine. Kalimat penutup artikelnya yang berbunyi "We don’t always have to be beautiful, sometimes we just have to be human" juga mengingatkan saya pada seseorang yang pernah bilang bahwa jauh lebih penting menjadi seorang manusia yang baik daripada apa pun. This is more like a writing about acceptance, in my very own opinion. 

Let's jam forever to 2NE1 - Ugly.


Susah ya jadi perempuan? Bahkan urusan menjadi cantik atau tidak saja nggak pernah berhenti diperbincangkan. Hahaha. Haha. Ha.

I should go get myself some lunch.

z. d. imama

Friday, 10 February 2017

The Period Virginity


Today I'm ovulating and my lower abdomen suffers a series of cramps and it just reminds me how much I feel that menstruation is an inconvenience. But of course, I need to deal with it―like I always do―because not getting my monthly period means big, BIG trouble. What a catch, Donnie! (Pardon the Fall Out Boy reference.)

Seriusan.

MENSTRUASI. ITU. NGGAK. ENAK.

Paling tidak demikianlah yang saya rasakan selama ini. Saya penasaran apakah ada saudari-saudari sesama perempuan yang menikmati momen-momen menuju datang bulan (atau haid, alias menstruasi) hingga mengalami datang bulan itu sendiri? Meskipun tidak menikmati, ya minimal biasa-biasa saja lah. Tidak dirundung penderitaan atau membutuhkan perjuangan ekstra. Ada nggak? Soalnya saya nggak gitu. Hiks.

Setiap kali menstruasi (saya tekankan: setiap kali, yang itu secara otomatis juga berarti setiap bulan) perut saya kram luar biasa dan kadang sakitnya menjalar sampai ke tulang selangkangan. Kalau sudah begitu kadang suka minum Kiranti dua atau tiga botol sekaligus. Sumpah. Habis sakit (dan Kiranti rasanya enak, jadi antara butuh bercampur doyan gitu deh). Not to mention that it's bloody and messy and so wet and sticky and... lethargic. Lelah adek, Bang.

Bangkit dari kasur adalah siksaan.

Maka sesuai dengan judul postingan yang tertera di atas, "The Period Virginity", saya bermaksud berbagi kisah singkat sekaligus nostalgila mengenai menstruasi perdana. Hahaha. Iya, jadi tulisan ini sesungguhnya adalah cerita berdarah... literally. Saya tidak tahu apakah teman-teman sesama perempuan juga masih inget bagaimana dan apa saja yang terjadi saat menstruasi pertama kali, tapi kalau saya sih semuanya masih terekam jelas di ingatan.

It was such a long week of nightmare.

Saya mengalami menstruasi perdana saat usia sembilan tahun. Mungkin karena saya gembrot kali yah, jadi kebanyakan hormon (trivia: julukan saya semasa SD adalah Gajah Bengkak Hamil dan rata-rata teman-teman sekelas enggan duduk sebangku dan berbagi meja karena katanya saya ini makan tempat). Ketika itu saya masih kelas 3 SD, akhir semester mendekati liburan kenaikan kelas. BAYANGKAN. Udah kayak istri nabi aja, datang bulan umur sembilan tahun. *Kemudian didemo atas tuduhan penistaan agama.*

AND WHAT A TORTURE IT TURNED OUT TO BE.

Apalagi saya ketika itu sedang ada di... sebuah kegiatan sekolah. Bukan pas sekolahnya, ya. Biasalah kalau full-day school ala-ala sekolah swasta kan suka ada kegiatan aneh-aneh. Hari itu saya menjalani hari-hari khas anak sekolahan bau iler yang selalu diejekin teman-teman sekelasnya karena badan kegedean dengan agak tidak nyaman. Entah kenapa perut saya sejak pagi nggak enak banget rasanya. Bawaannya cuma kepengin bergulung-gulung di atas kasur. Ogah ngapa-ngapain.


Moment of Renaissance came when I finally went to the restroom. Kebelet pipis kan. Ya sudah ke kamar mandi. Buka celana dalam. YAA RABB ITU DI BAGIAN SELANGKANGAN UDAH HITAM LEGAM. LIKE, PITCH BLACK. Mungkin karena pertama kali, jadi yang dibuang benar-benar darah lama alias old blood (oke ini sotoy). Baunya pun darah banget. Agak heran sih kenapa sejak pagi nggak mencium aroma aneh apa-apa sampai celana dalam dipelorotkan. But thanks God, waktu itu saya pakai seragam Pramuka yang bawahannya berwarna coklat-tua-nyaris-hitam sehingga seumpama luber-luber ya tetap tidak ketahuan. Bingung dan masih belum nyadar bahwa sebenarnya saya sedang menstruasi, saya lalu menghampiri seorang guru dan bilang, "Bu, dari selangkangan saya keluar darah warna hitam".

Entah polos entah bego.
Yang jelas, akhirnya saya dipulangkan lebih awal.

Sampai di rumah isinya cuma njingkrung (bergelung) di atas kasur sambil nunggu ibu saya pulang kerja. Nggak mau gerak sama sekali. Sekitar setengah jam setelah menginjakkan kaki ke rumah, perut saya seolah diblender. Sakit banget. Lalu dua hari berikutnya saya izin nggak masuk sekolah...

Tampaknya saya telah ditakdirkan menderita menstrual cramps. Since day one, even. Kurang ngenes apa coba. *Menggaruk tembok sambil meratap*

z. d. imama

Monday, 6 February 2017

A very spoilery review of Resident Evil: The Final Chapter


Kalian tahu nggak sih rasanya ketika seseorang yang kalian sayang bertingkah sangat norak sampai lihatnya aja bikin kepengin jedot-jedotin kepala ke atas meja, tapi kalian tetep menabahkan diri karena sudah terlanjur sayang? Nah. Ya kurang lebih seperti itu carut-marutnya perasaan saya ketika menyaksikan Resident Evil: The Final Chapter beberapa waktu lalu di CGVBlitz Grand Indonesia atas traktiran Kak Chika yang baik hati. Film ini dari segi penceritaan sangat embuh, tapi tetap saja saya tonton dan keputusan itu tidak disesali karena empat alasan: Mbak Milla Jovovich, Mbak Milla Jovovivh, Mbak Milla Jovovich, dan Mbak Ali Larter. Iya, saya biased parah. Keterlaluan. Sungguh tidak sayentifik.

Perkenalan perdana saya dengan franchise Resident Evil adalah suatu malam di pekan Halloween sekitar tahun... berapa ya? Waktu itu pokoknya saya masih kelas 6 SD, dan Bioskop TransTV menayangkan Resident Evil (2002) dan Resident Evil: Apocalypse (2004) dua malam berturut-turut. Saya nonton sendirian karena ibu saya meninabobokkan adik sampai ikut ketiduran, dan ayah saya seperti biasanya nongkrong di warung kopi sambil ngobrol bersama tetangga. Sejak malam bersejarah itu saya jatuh cinta dengan Mbak Milla Jovovich yang sungguh tsantik subhanallah dan terlihat sangat badass sebagai Alice.

I mean, how could you not love her after watching this scene?????

Sebelum masuk ke studio bioskop, saya menyempatkan diri melakukan mental recall terhadap plot-plot film-film Resident Evil sebelumnya―dan membuat saya menghadapi realita bahwa saya cuma ingat isi cerita hingga film ketiga, Resident Evil: Extinction (2007). Selebihnya? Buram. Hanya ada potongan satu-dua adegan yang masih menempel di memori, tapi storyline sudah rontok semua tak bersisa. Pertanyaan saya: emang Resident Evil sehabis film ketiga tuh masih ada ceritanya ya?

Oke, begini saja. Demi menuju pembahasan Resident Evil: The Final Chapter yang lebih hakiki, marilah kita lakukan napak tilas seluruh serinya bersama-sama. Setuju? Setuju. Siap? Mulai.

Resident Evil (2002)

Terjadi kebocoran virus yang disebut T-Virus di pusat penelitian genetika rahasia milik Umbrella Corporation, The Hive, yang berlokasi jauh di bawah tanah Raccoon City. Akses menuju dan keluar dari The Hive diblokir total oleh The Red Queen, AI yang mengontrol seluruh sistem, setelah memastikan seluruh makhluk hidup di dalam The Hive mati supaya infeksi virus tidak merembet ke permukaan tanah. Sementara itu, Alice, seorang security operative, bergabung bersama dengan tim khusus yang dikirimkan Umbrella Corporation untuk menyelidiki The Hive yang mendadak tidak ada aktivitas. Mereka turun ke TKP dan segera menyadari bahwa The Hive telah berubah menjadi sarang para Undead―alias zombie―akibat terpapar T-Virus, dan sesegera mungkin berusaha keluar dari sana. (TL;DR: Menceritakan usaha Alice dan rekan-rekannya untuk kabur dengan selamat dari The Hive yang sudah penuh zombie.)

Oh iya, ada Michelle Rodriguez juga!

Resident Evil: Apocalypse (2004)

Alice dan Matt yang berhasil keluar dari The Hive tertangkap oleh orang-orang Umbrella, dan Alice terbangun sendirian di semacam ruang operasi. Seluruh Raccoon City telah berubah menjadi kota mati karena ternyata para zombie di The Hive berhasil naik ke permukaan tanah. Di film ini dijelaskan bahwa T-Virus awalnya diciptakan oleh Dr. Charles Ashford untuk anaknya, Angela, yang menderita lumpuh. Bersama Jill Valentine dan Charles Olivera, Alice berusaha membantu Angela dan Dr. Ashford keluar dari Raccoon City yang hendak dibom demi menekan penyebaran infeksi. Di akhir film, Alice tertangkap pihak Umbrella dan dijadikan "Project Alice" yang membuat dia memiliki kekuatan di luar kemampuan manusia normal. (TL; DR: Alice dan rekan-rekannya berjuang untuk bisa pergi dari kota. Sejarah asal mula T-Virus terungkap.)

Cuma Jill Valentine yang bisa berantem lawan zombie pake kemben.

Resident Evil: Extinction (2007)

Alice, yang sekarang punya kemampuan telekinesis, kabur dari Umbrella Corporation dan mengembara sebagai buronan, menjelajah dunia yang sudah tandus akibat penyebaran T-Virus. Di tengah jalan Alice bertemu rombongan survivor di bawah komando Claire Redfield, yang hendak menuju Arcadia, Alaska, suatu tempat yang berdasarkan kabar burung (entah burung siapa) masih steril dari infeksi. Di film ini diperlihatkan bahwa laboratorium Umbrella Corporation membuat banyak klon Alice... untuk mencari mana yang memiliki kemampuan terdekat dengan 'Alice asli'. Di akhir film, Alice mengirimkan pesan ultimatum ke petinggi Umbrella bahwa dia akan mengajak 'teman-temannya' melakukan penyerbuan ke markas pusat. (TL; DR: Klon Alice. Telekinesis. Alaska. Oh, Mbak Ali Larter yang jadi Claire keren banget sumpah.)

Siluet aja bagus bener yaa Rabb... *jelata tersedu*

Resident Evil: Afterlife (2010)

Saya cuma inget ini film latarnya di Tokyo terus ada Nakashima Mika jadi zombie di perempatan Shibuya. Udah gitu doang. Oh.. dan Alice-nya banyak banget gara-gara klon-klon yang ditemukan dalam RE: Extinction sebelumnya diajakin meng-ambush markas besar Umbrella Corporation. Ada bos pake kacamata item sok SWAG gitu gayanya, namanya Wesker, entah jabatan dia di Umbrella Corp apaan saya nggak inget. Mungkin film ini ibarat The Raid tapi polisinya Alice semua dan yang ditembakin bukan preman melainkan prajurit ber-armor, zombie, sama mutan.

Milla Jovovich di mana-mana, jiwa fangirl saya bahagia.

Resident Evil: Retribution (2012)

Ya ampun. Setelah ngomongin kepunahan (Extinction) dan akhirat (Afterlife), saya beneran nggak paham kenapa masih dibikin film lagi yang dikasih judul.. azab. Oke, oke, 'penghukuman' deh biar agak bener terjemahannya. Saya nggak inget sedikit pun dari film ini kecuali tiga hal: ada mbak-mbak Asia bernama Ada Wong yang berantemnya pakai high heels dan gaun pesta dengan belahan setinggi kahyangan, kapal gede amit-amit penuh berisi orang pakai baju putih-putih, dan di akhir film mendadak muncul naga-naga mutan beterbangan di mana-mana. Embuh banget. Tapi Mbak Milla Jovovich tetap badass seperti biasa. Saya tetep sayang.


Sekarang mari kita memasuki pokok bahasan sesungguhnya dari postingan ini.

Resident Evil: The Final Chapter (2017)

Suatu hari, The Red Queen mengontak Alice dan memberitahu bahwa Umbrella Corporation sesungguhnya telah mengembangkan antivirus penangkal wabah T-Virus yang telah berlangsung selama sepuluh tahun terakhir. Alice terkejut dan menanyakan ada di mana letak antivirus itu. Kata Red Queen, benda penting tersebut tersimpan di dalam The Hive, yakni tempat yang menjadi awal mula bencana global ini.

Baru sampai situ, kening saya sudah berkerut. LAH KAYAKNYA DARI FILM PERTAMA UDAH JELAS KALAU T-VIRUS SEBENERNYA ADA PENANGKALNYA??? Sejak awal kan telah diperlihatkan bahwa ada dua tabung: biru dan hijau? Warna biru adalah virus dan yang hijau antivirus? Ini gimana sih maunya? Di film kedua (Apocalypse) bukannya Alice juga sempat pegang―bahkan menginjeksi―antivirus yang dibawa Angela supaya mutasi tubuhnya nggak melampaui batas? Dia ngapain pakai acara terkejut segala? Oh, ternyata dulu antivirusnya harus disuntik langsung, tapi kalau yang baru kelar dikembangkan ini airborne jadi lebih efisien. Okelah. Yowis aku manut.

*Menarik napas dalam-dalam*

Alice pun pulang ke Raccoon City, yang mana ternyata di sana ada Claire Redfield serta beberapa orang lain yang berhasil selamat dan bertahan hidup. Entah gimana ceritanya kok orang-orang itu bisa di sana, kayaknya sih dikasih tahu tapi saya nggak begitu nyimak. Claire dan geng terdekatnya menawarkan diri menemani Alice masuk kembali ke The Hive demi mengambil antivirus. Namanya dapet temen pasti seneng lah, jadi diiya-iyain aja sama Alice.

Setibanya di The Hive, Alice, Claire, dan Doc si pacarnya Claire yang diam-diam ternyata pengkhianat berhasil berhadapan dengan Wesker dan Dr. Isaac. Dr. Isaac ini adalah petinggi Umbrella Corporation yang punya ide atas Project Alice. Dan nggak ada petir nggak ada kentut... mendadak masalah muncul di sini. Saya ulangi: Masalah. Muncul. Di. Sini. Entah kenapa mak jegagik diceritakan bahwa sesungguhnya T-Virus diciptakan oleh pendiri Umbrella Corporation, yakni James Marcus, untuk menyelamatkan hidup putrinya yang bernama Alicia. Dik Alicia ini menderita kelainan genetis yang menyebabkan sel-selnya menua dengan sangat cepat, sehingga tidak bisa menjalani hidup normal. James Marcus akhirnya mati dibunuh oleh Wesker dan Dr. Isaac yang ingin menguasai perusahaan, tapi Alicia Marcus ternyata sampai sekarang masih hidup―walau sudah tua, peyot, nan kempot sebelum waktunya. Dia dibiarkan hidup oleh Dr. Isaac karena dianggap lemah dan tidak berbahaya. Lalu saat sepertiga akhir film, dengan tenangnya Alicia Marcus ini menampakkan diri di hadapan Claire, Alice, Dr. Isaac, serta Wesker lalu rumpi-rumpi nostalgia seolah mereka lagi di acara arisan keluarga.

Dan Alice yang selama ini menjadi tokoh sentral dalam franchise Resident Evil dengan berbagai sepak terjang badassery-nya rupanya adalah sesosok klon dari Alicia yang terkuat, tercerdas, tersukses, ter... segalanya. Alice bukan mantan security operative Umbrella Corporation, bukan pula sesosok anomali yang tubuhnya secara misterius mampu menimbulkan reaksi berbeda saat diinfeksi dengan T-Virus. Dia cuma klon dari Alicia Marcus, seorang karakter yang nggak pernah disebut-sebut sepanjang lima film sebelumnya tapi tahu-tahu nongol aja gitu jadi tokoh penting di film terakhir.

Are. You. Freaking. Kidding. Me???

LHO YA TERUS DR. CHARLES ASHFORD SAMA ANGELA YANG NONGOL DI RE: APOCALYPSE ITU SIAPA??? DULU BUKANNYA UDAH BIKIN BACKSTORY UNTUK BENCANA T-VIRUS?? KENAPA MENDADAK SOK NGIDE PAKE ACARA DIGANTI SEGALA??? Demi apa pun juga kepala saya pening seketika. At this point I really wanted to scream at the big screen, "Mau elo apa siiih???" from the top of my lungs. Tapi berhubung saya anak baik dan memahami tata krama di ruang publik, saya harus puas hanya dengan menyet-menyet pipi sendiri tanpa suara. Belum lagi revelation bahwa pihak Umbrella Corporation sebetulnya sengaja melepaskan T-Virus karena mereka ingin menciptakan 'kiamat' demi menguasai sumber daya di bumi.

I. AM. EFFING. CRYING. I AM SO DONE.

T-Virus tuh bukannya pertama kali 'bocor' (atau dibocorkan) di dalam The Hive, ya? Kalau memang mau bikin kiamat kenapa sepuluh tahun lalu nggak langsung pecahkan saja gelasnya biar ramai tabung virusnya di tengah kota New York atau mana kek yang populasi manusianya lebih banyak dibandingkan laboratorium rahasia bawah tanah dengan sistem keamanan top-class? Sumpah nggak ngerti. Resident Evil: The Final Chapter ini amat sangat embuh sampai-sampai kalau yang main bukan Mbak Milla Jovovich tetapi―katakanlah―Kristen Steward, saya nonton ditraktir pun ogah. Maunya dibayar. Itu juga di dalam studio saya bakal tidur aja.

*Hands up in defeat*

Saya bahkan nggak sanggup untuk ngasih skor. Film ini terlalu... terserah. Huhuhu. Pokoknya kalau kalian bias dengan Mbak Milla seperti saya, atau memang menggemari film action zombie, sah-sah saja kok nonton Resident Evil: The Final Chapter. Toh ini film terakhir. Paling tidak marilah kita sama-sama bersyukur karena Paul W. S. Anderson selaku penulis sekaligus sutradara franchise Resident Evil (dan suami Milla Jovovich) masih bersedia menamatkan cerita ini. Minimal udah kelar sebelum storyline yang kian amburadul menyebabkan penonton terpelatuk untuk melakukan vandalisme di dalam studio.

Ya udahlah ya... namanya juga 'film keluarga'.

z. d. imama