Thursday, 19 October 2017

Between clarifying and justifying


Sehubungan dengan self-proclamation saya sebagai whiny blogger, kali ini kita kembali pada episode ngomel-ngomel berikutnya. Terakhir kali saya menumpahkan isi pikiran tentang hal-hal yang saya lihat terjadi di sekeliling adalah dalam tulisan ini, yang entah bagaimana bisa bertengger di posisi puncak sebagai entri yang paling banyak dibaca orang. Okay, that is not too long ago. I know that. But my head is one noisy, crowded, hell so I need to put some things into 'Google Drive' kind of place and that place is this blog. Saya terus terang senang bukan kepalang jika ada yang membaca isi blog saya, but seriously, the eternal question from me would be: why?

"Manusia tempatnya kesalahan."

Mari kita awali tulisan ini dengan kalimat yang rasa-rasanya sudah overused tersebut. Namun yaa... memang tidak ada manusia yang sempurna, kok. Setiap orang pernah berbuat salah. Termasuk saya. Salah saya banyak banget, malah. Tapi yang terpenting sebetulnya seperti apa bentuk kesalahannya, lalu apa dan bagaimana yang dilakukan seseorang setelah kesalahan tersebut diperbuat. Ya nggak, sih? Atau saya salah lagi?

Sejauh saya lihat, banyak orang-orang di sekitar kita yang sangat, sangat, SANGAT sulit menerima kritik, saran, apalagi teguran saat melakukan kesalahan. Nggak perlu pakai kata 'salah', deh. Nanti sewot. Gini saja: banyak dari kita kerap melakukan hal yang mengganggu kenyamanan, menyerobot hak, memandang rendah serta mendiskriminasikan orang lain namun sewaktu ditegur justru reaksinya lebih ofensif dibandingkan yang memperingatkan. Kan lucu. These people, then, begin to make excuses. They start to justify themselves. And sometimes, that just won't do. If other people get your points wrong, or if you do make mistakes, it's okay (advisable, even) to make clarifications. But it's better not justifications.

Komik Calvin and Hobbes tentang justifikasi.

Barangkali banyak yang tidak mengerti―mungkin justru tidak peduli―bahwa ada perbedaan antara kedua hal tersebut. But you should care. You should know. Saya akan mencoba ambil pengertian yang mudah dipahami saja (bisa dilihat langsung di sini). Clarification is the act or process of making things clear, by freeing something from visible impurities, double entendre, or ambiguity. On the other hand, justification is an explanation, an excuse, a reason, that one try to offer which produces acceptable support for behavior, belief, or occurrence. Kelihatan kan bedanya? Saat seseorang mengatakan suatu hal yang heavily-contextual dan spesifik di ruang publik, lalu ada yang memaknai kata-kata tersebut dalam konteks berbeda, pihak pertama bisa kasih klarifikasi untuk meluruskan. Menghilangkan makna ganda. Atau jika memang kita berbuat keliru, bisa saja mengklarifikasi dengan, "Maaf. Tadi saya salah. Seharusnya tidak demikian."

Justifikasi juga boleh disebut 'pembenaran'. Ya gitu. Sesuai namanya, kita mati-matian mencari alasan yang dapat membenarkan perbuatan kita... yang kurang layak didukung. Contoh? Banyak. Beranggapan kaum LGBT adalah penyakit jiwa (dianggap menular, perlu direhabilitasi bahkan dikarantina), tapi saat dikoreksi bahkan dengan bukti-bukti ilmiah justru berlindung di balik 'kebebasan berpendapat'. Saya pernah menegur mas-mas pemotor yang naik ke trotoar sewaktu jalanan macet, eh dia malah bilang, "Lah itu mereka juga!" dengan sewot. Yaelah dasar sobekan sampo saset. Cuma gara-gara kalian melakukan itu berombongan, bukan berarti motor naik ke trotoar jadi tindakan yang oke.

Jenis-jenis justifikasi yang cukup sering saya temukan dalam masyarakat yang kadang rasanya sulit diharapkan ini di antaranya:

  • "Ya nggak apa-apa lah, kan kebebasan berpendapat!"
  • "Halah yang lain juga begitu!"
  • "Suka-suka gue, kan."
  • "Gue orangnya asik, terbuka, dan liar, jadi pikiran lo juga harus terbuka kalau ngomong sama gue." ― padahal aslinya cuma nggak mau dibantah aja.
  • "Berani ya anak jaman sekarang sama orang tua. Nggak sopan." ― kata seseorang yang kena tegur karena nyerobot antrian.
  • (Bisa ditambahkan sendiri di kolom komentar... jika berkenan.)

Sesulit itu ya menerima teguran, saran, atau kritik dari orang lain, bahkan yang diucapkan dengan sopan dan tanpa menyebut ungkapan-ungkapan yang merendahkan intelektualitas? Sebesar apa sih ego kita? Meski saya sendiri masih terus mencoba belajar untuk tidak ngeles kayak bajaj dan melemparkan pembenaran bertubi-tubi secara brutal ketika dapat masukan, perkara ego ini adalah hal yang tidak kunjung mampu saya mengerti. Entah kenapa.

*Heavy sigh*

z. d. imama

Monday, 16 October 2017

Farewell, THR Sriwedari. Thank you... and I'm sorry.


Another part of my childhood is dying. And to top it off, it is planned and expected to be gone forever by the end of this year. I lived and grew up on the outskirts of Surakarta, and for twelve consecutive―minus the part when I studied at a Japanese high school―years I went to schools located in the same city (my kindergarten was in Sukoharjo, though). As a regular kid, going to amusement park is like visiting a different world, filled only with fun things and exciting rides, not caring about how much our parents need to pay for the entrance tickets or souvenirs or snacks or everything. And for a kid living in Surakarta, a small city in the middle of the Island of People, Taman Hiburan Rakyat (THR) Sriwedari was my―and I bet, many other kids'―only savior. 

THAT PLACE, WAS, THE BOMB.


Until the day I realize it no longer can survive comes. Pagi itu saya duduk di depan komputer kantor dan mendapati berita yang menyatakan bahwa THR Sriwedari akan berhenti beroperasi setelah bertahan selama lebih dari 30 tahun, dan akan mem-PHK seluruh karyawannya. Reaksi pertama saya adalah tipikal, "Wait. WHAT?" yang ketika saya renungkan lagi, itu adalah kejadian yang barangkali tak bisa dielakkan. Bahkan saya mungkin juga berkontribusi di balik ketidaksanggupan THR Sriwedari mempertahankan napas eksistensinya. The following night, I cried a great deal of tears over chat conversation with a fellow high school mate, Fara, remembering old days and imagining how tough the past months, or years, must be for THR Sriwedari and all the people in it.

Saya tidak menyediakan subtitle bahasa Jawa bagi yang membutuhkan. Maaf.

Berita yang saya maksudkan. Pranala ada di paragraf atas.

I remember. Fara remembers. How years ago, with our parents, we excitedly visited THR Sriwedari, bringing our study report as a proof so that we can get freebies and gifts like small bag or other things. How years ago, along with other kids, we dressed up and joined drum band competitions for kindergartens held in THR Sriwedari. And like a slap across my face, it hit me hard: how everything is in past tense.

Kapan saya terakhir kali mengunjungi THR Sriwedari?

Tahun 2012. Sudah lima tahun silam. Ketika itu saya mengerjakan proyek buku tahunan bersama rekan-rekan sekelas dan memilih THR Sriwedari sebagai setting lokasi. Saat kami datang, suasana di dalamnya terbilang sangat sepi untuk sebuah taman hiburan. I didn't see it as a big deal, to be honest. Saya menganggap itu bisa dimaklumi karena kebetulan kami ke sana di hari kerja. Tapi di tahun-tahun berikutnya hingga detik ini, saya tidak lagi menginjakkan kaki ke sana. Barangkali rekan-rekan sekelas saya pun tidak. Bahkan adik saya, yang usianya terpaut nyaris satu dekade dengan saya, juga krisis kunjungan ke THR Sriwedari. We left. I left. My feet went somewhere else. I, as time goes by, forgot about that one particular place I once had terrific fun as a child. Maybe this is just me. But maybe there are also people like me, who moved to different city and not coming back. I return to my hometown not too often, and when I do, THR Sriwedari is always out of my "Place to Visit" list. I left it behind. I abandoned it.

Sehingga saat mas Kusumandaru mengunggah beberapa foto THR Sriwedari hasil bidikan kameranya di sini dan di sini, saya mati-matian menahan tangis di kantor. Gambar-gambar yang diambil petang hari menjelang magrib itu memperlihatkan keadaan THR Sriwedari saat ini. Taman hiburan yang teronggok di sudut kenangan. Lebih banyak terlupakan. Looking aged, frail, tired, and battered. Ditinggalkan oleh orang-orang yang semasa kecil pernah begitu girang menikmati segala yang ada di dalamnya―dan saya adalah salah satu dari mereka. Membuat dia, lama-kelamaan, mati perlahan.

Merry-go-round that is neither going around nor looking merry. Photo credit: Kusumandaru.
Kolam renang tanpa suara kecipak air. Photo credit: Kusumandaru.

Senyuman karakter-karakter pop dari balik cat yang mengelupas. Photo credit: Kusumandaru.

Boom-Boom Car yang tidak saling bertumbukan. Photo credit: Kusumandaru.

Photo credit: (still) Kusumandaru.

Seharusnya saya yang berterima kasih, THR Sriwedari. 

Thank you for being there in my childhood days. Thank you for being my source of happiness, splashing bright colors in my pretty ordinary elementary schooler life. Terima kasih banyak telah menemani masa kanak-kanak saya dan menghiasinya. Terima kasih atas segala tawa, senyuman, dan keriaan yang pernah saya rasakan sewaktu berkunjung ke sana. And I'm sorry for not doing anything to keep you around longer. I'm sorry I've forgotten about you, for years, until it's too late. You won't be here by 2018, but this short piece of writing will always stay in this blog of mine.

z. d. imama

Thursday, 12 October 2017

All that postcard in my hands


Sebagaimana yang sudah saya tuliskan di sini, belakangan saya cukup rajin mengirimkan kartupos kepada beberapa orang. Menuliskan hal-hal remeh nan tidak penting di kolom kosong yang kadang dipakai menyapa saja sudah penuh sesak. Membeli perangko dan mengirimkan ke kantor pos terdekat (yang mana artinya di lantai bawah gedung tempat kantor saya berada), lalu menunggu. Menanti kabar dari orang yang saya kirimi bahwa kartuposnya sudah tiba di tujuan. Dari pengalaman singkat yang saya miliki, terdapat satu kesimpulan aneh: kartupos yang dikirim ke luar Indonesia justru lebih sering sampai dibandingkan dengan yang alamat tujuannya masih dalam negeri. Entah kenapa. Mungkin yang di dalam negeri dicemilin sama pak pos sepanjang perjalanan kali ya, sebagai pengganti keripik.

Beberapa kartupos yang saya kirim mendapatkan balasan. Ada juga yang bahkan tanpa saya kirimi sebelumnya berkenan mengirim kartupos. Saya tersentuh, lho. Sumpah rasanya senang sekali. Sempat terpikir untuk membuat akun Instagram hanya demi memajang kartupos-kartupos yang berhasil sampai di tangan saya. Tapi akhirnya ya... niat itu urung diwujudkan. "Sudahlah, masukkan saja di blog..." begitu putus saya.

Mari kita mulai.


Kartupos dari mas Sandalian, yang  bermurah hati menawarkan saya untuk memberikan alamat tujuan karena akan dikasih kartupos. Huhuhu saya terharu. Sampainya relatif cukup lama (padahal sudah dikasih perangko lumayan banyak), tapi syukurlah berhasil tiba di tangan saya dengan utuh dan selamat. Suka deh dengan ilustrasi ala-ala gambar di koran lokal tahun akhir 1990-an begini. Pada bagian belakang kartu, dituliskan keterangan bahwa yang digambarkan adalah Festival Kesenian Yogyakarta 2014. Gemas. Sebagai warga asli dari provinsi sebelah (Jawa Tengah), nuansa dalam ilustrasi kartunya terasa sangat familier bagi saya juga. Jadi kangen rumah dengan segala urip selo-nya.

Terima kasih juga sudah main-main ke blog saya ya, mas. Tolong jangan kapok mampir kemari meskipun tulisan-tulisan yang saya unggah kebanyakan tidak berkualitas... *tenggelam dalam ketidakpercayaan diri*


Kartupos dari mbak Anggie, yang juga dengan kebaikan dan kemurahan hatinya meninggalkan pesan berbunyi kurang lebih, "Sini aku kirimin kartupos. Minta alamat". Bahkan saya dikirimi dua buah! Seandainya bisa ketemu langsung kayaknya saya bakal sungkem deh, mbak... saking senangnya. Namun di antara dua kartupos yang bertengger di meja saya pagi itu, The Olden Days Indonesia ini lebih menggelitik perhatian saya sehingga terpilih menjadi kartu yang saya pajang di blog. Melihat anak-anak di masa jadul berbagi satu bangku untuk tiga orang di sekolah membuat saya berpikir bagaimana jadinya jika saya sudah lahir di kala itu. Wong sebangku dua orang saja dulu hampir nggak ada yang mau ambil tempat di sebelah saya... hahaha. Barangkali saya bisa menguasai space untuk tiga siswa sendirian. Kayak naik pesawat Boeing di lajur tengah lalu kursi kanan-kiri nggak ada penumpangnya.

Kemerdekaan tersendiri?


Kartupos dari Puti Andiyani (alias @astarlightinthegloom―yang menemani saya berkeliaran dengan liar di The World of Ghibli Exhibition Jakarta bulan lalu) sewaktu masih bisa kelayapan sepuasnya di Prancis. Sekarang yang bersangkutan sudah pulang ke tanah air dan harus berkutat lagi dengan Jawa Barat, tepatnya kota Tangerang, yang sungainya tentu saja tidak selebar dan sefotogenik kota Grenoble. Bagi kalian yang gemar main-main dengan makeup, atau sekadar suka nonton orang dandan karena nggak sanggup dandan sendiri, bisa lho subscribe YouTube channel milik Puti.


Kartupos dari mas Affan yang nasibnya mirip-mirip seperti Puti, cuma bedanya dia belum lama ini pulang dari Jepang. Entah memang disengaja atau tidak, tapi kartupos dengan ilustrasi Tsuutenkaku di Osaka lengkap dengan shopping street di bawahnya terasa cukup nostalgic bagi saya. Sudah lama sekali tidak ke sana, padahal saat masih pertukaran pelajar dulu lumayan sering main ke Osaka―meski SMA dan rumah host family di Kyoto―karena banyak teman-teman sekelas yang tinggal di prefektur tersebut. Apalagi dengan fasilitas kereta yang selalu tepat waktu, jumlah armada terjamin, dan keamanannya relatif terjamin. Ya udah deh jadi bolang melulu.


Kartupos dari seseorang di Taiwan. Buset. Ilustrasinya Taylor Swift, yang sekarang sayang sekali sudah menjadi almarhumah sehingga tidak bisa lagi mengangkat telepon. Istirahatlah dengan tenang, mbak TayTay. Lagu-lagumu hingga album 1989 akan senantiasa saya kenang. Semoga siapa pun yang saat ini mengaku-aku sebagai dirimu di kancah musik Amerika dapat segera dirukyah agar kembali ke jalan yang lurus.

Ngomong-ngomong saya penasaran deh, di mana sih kalian membeli kartupos lucu-lucu dan bagus-bagus kayak gini? Hmm? Coba tolong bagi teman-teman yang tahu, bagi-bagi informasi juga dong di kolom komentar... Ya ya ya? Mau ya? Mau dong. #Pemaksaan.


Kartupos keenam dikirim dari Denmark, dan terus terang, saya suka sekali dengan kombinasi warnanya. Color palette yang terasa sangat kental dengan warna-warna yang keluar saat matahari terbenam meskipun gambarnya sama sekali nggak menunjukkan itu. Bahkan saya nggak tahu itu sebetulnya foto batang sapu, pensil, atau kuas yang belepotan cat? Malah jangan-jangan cuma gulungan kertas kado bermotif abstrak? Hmm. Sungguh misteri yang sukar dipecahkan.

Tukar-menukar kartupos membuat saya menyadari bahwa ternyata, thank god, tulisan tangan saya tergolong mudah dibaca. Apalagi kalau disandingkan dengan tulisan orang-orang yang tinggal di daerah Eropa dan Amerika. Beuh. Rasanya ingin bersikap jumawa. Berkacak pinggang dengan kepala mekar. Ada beberapa kartupos yang pesan-pesannya sama sekali tidak bisa saya baca saking tingkat orisinalitas terlalu tinggi hingga menyerupai sandi rumput. Kartupos dari Spanyol di bawah ini, yang sampai ke meja saya kemarin lusa, termasuk kategori "Western people with neat, readable handwriting" and still it looks very close to notes from a doctor:

Alamatnya saya sensor yah ~

*Googling "Camino de Santiago" dulu*

Oh, ya. Jika ada yang berkenan mengirimi kartupos, saya dengan senang hati akan menerimanya lho! Saling bertukar juga tidak mengapa. Tinggalkan saja pesan di kolom fitur "Leave a Message" yang terletak di bagian bawah blog, karena nantinya akan langsung masuk ke e-mail saya, sehingga informasi pribadi seperti alamat tempat tinggal atau kantor tidak nongol di ruang publik. Tapi mungkin kunci utamanya harus bersabar... sebab sebagaimana yang telah saya katakan sejak awal, entah kenapa pengiriman kartupos dalam negeri justru lebih sulit sampai di tempat tujuan dibandingkan ketika ditujukan ke negara yang berbeda. Huft. Betapa lucunya Indonesiaku.

*Tendang bis surat*
(DEAR LORD WHO STILL REMEMBERS "BIS SURAT" THESE DAYS???)

z. d. imama

Wednesday, 20 September 2017

Japan Fest 101: Kinds of Cosplay You'll See


Setelah menulis mengenai lagu-lagu yang relatif sering dinyanyikan di kompetisi band dalam festival-festival budaya Jepang, saya ingin merambah ranah lain dengan membuat Japan Fest 101 episode berikutnya. Kali ini unsur yang ketiban apes untuk saya kelopeki adalah: cosplay. Yap. Costume play. Festival budaya Jepang menjadi excuse bagi sejumlah orang-orang penggemar produk-produk budaya Jepang khususnya animasi dan komik untuk mengekspresikan diri dengan menjelma sebagai tokoh-tokoh tertentu, berdandan seperti apa pun yang dimau. Semacam Coachella atau Halloween Party khusus para wibu.

Sebagai salah satu manusia yang terbilang cukup rajin hadir di festival-festival demikian (terutama kalau free entry atau entry fee-nya tidak mahal), saya mulai memperhatikan bahwasanya orang-orang yang cosplay ini ternyata bisa dikategorikan dalam golongan-golongan tertentu. Sebebas-bebasnya cosplayer bermain kostum, ternyata bisa dikelompokkan juga.

Let's get to the business.

The "Gini udah dianggep rada cosplay kan, ya?" Cosplayer

Jamaah ini biasanya datang ke festival kebudayaan Jepang dengan mengenakan sebuah-dua buah 'atribut cosplay' yang sesungguhnya juga mereka kenakan di suasana-suasana lain, bahkan ke kampus atau ke sekolah sehari-hari, karena terbilang lumayan aman. Contohnya saja: jaket oranye Naruto, jaket seragam Tokubetsu Sakusen-han dari Shingeki no Kyojin, atau untuk anak-anak era awal 2000-an ya... jaket klub tenis Seigaku-nya Prince of Tennis. Iya, yang dipakai jaketnya saja. Baju sih tetap kaos oblong dan celana jins. Biasanya sih yang kayak gini tuh antara males ribet―atau nggak punya duit―tapi bertekad ingin tetap menunjukkan identitas diri sebagai wibu.

Satu-satunya karakter yang cenderung di-cosplay-kan kelompok ini adalah L dari Death Note. Ya iyalah, cuma tinggal pakai kaos putih lengan panjang kedodoran dan celana jins belel. Lack-of-sleep look bisa dibuat dengan bantuan pencil eyeliner. Kelar. Atau mungkin... Heero Yuy dari Gundam Wing, mengingat upaya yang diperlukan untuk cosplay tokoh tersebut hanyalah kaos singlet warna hijau olive dan celana pendek hitam ketat, yang notabene bisa didapatkan di seluruh store Adidas. Masih kemahalan? Toko khusus baju olahraga di ITC, deh. Ada.

Jaket begini masih oke kan dipakai ke mana-mana?

The "Gue cuma bisa pakai baju ini di sini" Cosplayer

Sedikit stepping up the game dari golongan pertama namun masih bersahaja, cosplayer-cosplayer aliran "Gue cuma bisa pakai baju ini di sini" cenderung memilih tokoh-tokoh yang sederhana untuk dibuat kostumnya, tanpa properti-properti ekstra seperti senjata dan sebagainya, cuma kok ya jika mereka mau mengenakan pakaian itu di luar event festival kebudayaan Jepang tetep dipandang aneh. Kadang malah mereka tidak membawakan karakter komik/animasi, tapi cuma berdandan dengan style tertentu saja. Misalnya: mengenakan kostum maid, butler, seragam sailor/gakuran (atau seragam-seragam sekolah dari judul komik/animasi seperti Vampire Knight), yukata, hingga kimono, gothic lolita, tampil sebagai ganguro, dan sebagainya.

Mbak-mbak ganguro dengan dandanan mereka yang mentereng.

The "Always Classic" Cosplayer

Sebagaimana namanya, cosplayer ini hadir dengan kostum tokoh-tokoh yang dipandang klasik: sangat populer sampai hampir nggak ada orang yang nggak tahu, tapi sudah relatif lawas. Himura Kenshin dari Rurouni Kenshin, contohnya. Berbagai karakter serial Dragon Ball, Naruto, Bleach, One Piece, Meitantei Conan, Inu Yasha. hingga Sailor Moon dan Cardcaptor Sakura pun termasuk yang kerap dibawakan oleh cosplayer barisan spesialis klasik. Referensi look-nya banyak (bahkan kostumnya tidak jarang bisa dibeli online, lumayan nggak perlu ke penjahit) dan tak lekang dimakan waktu, sehingga merupakan cosplay yang paling aman untuk dipilih.

Perut six-pack mas Luffy digambar pakai shading..

The "Keeping Up with the Latest Trends" Cosplayer

Kaum yang paling kekinian sejagad dunia cosplaying. Mereka tidak pernah lelah, apalagi gagal, dalam mengikuti perkembangan dunia animasi, komik, tokusatsu, hingga game keluaran terkini dan selalu mampu membawakan karakter-karakter yang saat itu sedang ramai dibicarakan dalam forum-forum wibu. Tahun 2015-2016 lalu, cosplayer golongan ini dengan penuh semangat menjelma menjadi tokoh-tokoh dalam serial animasi Mobile Suit Gundam: Tekketsu no Orphans berhubung dia memang sedang sangat diperbincangkan.

Geng mas-mas Tekkadan dari Gundam Tekketsu no Orphans.

Ngomong-ngomong, jaket seragam Tekkadan juga bau-baunya berpotensi menjadi atribut langganan cosplayer kubu pertama. "Gue kalau pakai ini hitungannya udah lumayan cosplay kan, ya?"

The "I am Super-Skilled, Level Advanced, and I Will Prove It" Cosplayer

Barisan paling bikin penonton ngiler sekaligus rival jiper. Kontingen cosplayer yang hampir selalu membawakan karakter-karakter dengan desain kostum yang rumit, atau properti-properti ekstra yang wah... and they will pull it off. Rada nyebelin, memang. Tidak jarang tokoh yang dipilih mereka justru agak edgy. Kamen Rider, misalnya. Tokoh musuh di suatu game tertentu lengkap dengan pedang, panah, hingga beragam persenjataan mentereng lain. Gundam―iya, ada kok beberapa orang yang sedemikian niatnya untuk hadir di festival kebudayaan Yapan dengan tampil sebagai Gundam. Mereka relatif tampil all-out, tidak peduli seberapa banyak uang yang dikeluarkan dan seberapa banyak anggota tubuh yang disembunyikan (atau diperlihatkan ke publik) demi mencapai hasil maksimal. Cosplayer kategori ini kerap memenangkan kompetisi cosplay, bahkan diundang ke acara-acara serupa sebagai bintang tamu atau anggota dewan juri.

Hobi bercampur ambisi, gitu.

   
Menjelma jadi Angemon dan Angewomon. Foto dari sini.

Seumur-umur bergelimang menikmati pop culture Jepang, saya belum pernah cosplay karena tidak percaya diri dan takut akan merusak visual karakter yang dibawakan. Hahaha. Tapi bagi yang mungkin pernah mencoba atau malah sangat suka cosplay, ngomong-ngomong dari beberapa kategori di atas,  kalian termasuk geng yang mana?

z. d. imama

Wednesday, 13 September 2017

One morning, with a clouded mind


"Self-love is fucking overrated."

I said this morning, in front of the mirror, as blood dripped down my right palm really slowly because I was stupid enough to grab the cutter by its blade and injured my own hand. I felt the sharp, piercing pain from the cut, and yet I breathed out in relief. For the last few days my head has been a very busy place and it's not exactly in a good way. Doing foolish thing like getting myself cut was actually helping because at least the noise inside my head died down, overshadowed by the distracting pain across my palm.

Barangkali jika hidup saya adalah sebuah kisah dalam novel pop, maka saya bukan merupakan seorang tokoh utama yang bagus. Editor-editor mungkin akan membenci saya yang kerap menatap keluar jendela bus (terutama TransJakarta karena nyaman, sejuk, dan bebas pengamen fakir upaya yang kerap ditemukan pada Kopaja dan Metromini) dan melamun. Mempertanyakan apa ada yang bisa diharapkan dari masa depan. Sejatinya saya ini, setitik bakteri di semesta, apa cuma hidup sebagai perwujudan ambisi orang tua untuk berketurunan dan mati sekian tahun kemudian. Bertanya-bertanya sebenarnya hidup enaknya dipakai ngapain. Apalagi kalau miskin. Social script level medioker yang diikuti sebagian besar masyarakat seperti menikah dan beranak-pinak semata-mata berdasar argumen "Mumpung masih muda" sama sekali tidak terdengar menarik di telinga. Gimana mau sukses kena pitching propaganda pernikahan kalau aset tidak punya dan orang yang ingin diajak (dan bersedia diajak) hidup bersama pun tidak ada? Marriage is a constitution indeed, but to live with it is not as simple as, "Eh lo belum punya temen ya? Ya udah kerja kelompok bareng gue, mau nggak?"

Oh, tapi untuk urusan kerja kelompok sih saya sering jadi favorit banyak orang. The one who cleans up everyone's mess. The one who says, "Ayo fokus, ini belum dibahas. Itu juga belum didiskusikan" in group discussion every time the topic went somewhere else. Tidak asyik dan terlalu serius, kata orang-orang. Saya tipe manusia yang kadang-kadang dianggap dibutuhkan untuk membantu mendongkrak IPK, namun tidak pernah diundang ke acara pesta.


So there are days when you wonder if people are actually liking you. Sometimes you hear yourself saying, maybe also in front of the mirror as you dress for the day, "Bodo amat orang mau suka sama gue atau nggak! Take it or leave it!" Because you are a bad-ass person. You are strong. You kick ass. You do everything by yourself to this day. You are independent and all. You don't care about what people say. You ditch all those 'toxic humans'. But then when you see some certain faces, like a boomerang flying back to you at full speed, that wondering and unanswered questions come back home. Even worse when you don't really like yourself to begin with.

"Hey, do you like me?"
"What makes you stay?"
"Is it okay for me to be here?"
"What do you see in me?"
"Can I tell you something that I'm so afraid to tell other people?"
Kata-kata dan pertanyaan yang biasanya hanya mati di ujung lidah. Tercekat di tenggorokan. You can't ask that. Because you need to be strong. And you are strong. You are a bad-ass person. You kick ass. You can do everything by yourself to this day. You don't need any validation from other human being. You can't be weak, or sounds weak. Menyuarakan pertanyaan-pertanyaan tersebut akan membuat orang-orang berkomentar, "Kenapa sih? Menye banget lo. Jangan baper-baper, lah!" dan itu adalah hal yang tidak diharapkan. 'Menye' is not strong. 'Baper' is bad. So you swallow them all.

Nevertheless, you still wonder whether people like you or not. And you think, "Why should they like you, let alone love, when you don't even like yourself?" Di luar sana orang-orang selalu beramai-ramai mengkampanyekan self-love, mengatakan bahwa seseorang baru bisa dicintai―atau mencintai―orang lain setelah dia mencintai dirinya sendiri. "You should love yourself first," they say. "Don't forget to love yourself," they remind you every day. So you start to question, quietly, of course, letting the sentence just roam inside your head: "Does that mean I don't deserve and I am not supposed to love someone, or to be loved by one, simply because I fail to love myself?"

That makes you angry. 

Angry and disappointed, for your incapability of doing something that everyone think you should do. And, if anything, makes you hate yourself even more for not even able to love yourself. Does that make sense? They say, "To love yourself is easy". They say, "You just need to take care of yourself. Wear clothes you like. Eat good stuffs. Do things that makes you happy."

Guess what?

You can wear your best dress and still don't really care if you're hit by a bus. You can take care of yourself, slathering that face with moisturizer every morning, cleanse that makeup off your face every night, doing fun things with other people, having fun with yourself by doing things you like, and before bedtime you realize that you still hate yourself. Surprise, surprise. Self-love is fucking overrated.

z. d. imama

Tuesday, 12 September 2017

Why I don't think that particular "tweetwar-focused" account is okay


Saya berpikir lama sebelum menulis ini. Lama sekali. Berbulan-bulan. Melihat dan mengingat berbagai macam gunjingan, perkataan merendahkan, olok-olok, dan segala bentuk 'serangan balik'―dari sebatas komentar "Takut kalah saingan ya?""Memang situ siapa sih?", "Dasar maha benar!", "Alah sok bijak", sampai terkadang merambah ke cacian fisik―yang pernah dilontarkan sejumlah pengikut akun tersebut terhadap segala pendapat bertentangan maupun kritik yang ditujukan untuk akun bersangkutan (atau entah siapalah orang yang menjadi administrator di baliknya), terus terang saya sedikit was-was. Ucapan-ucapan itu barangkali dengan mudah akan berubah haluan, jadi dialamatkan kepada saya. Yakin, siap menghadapi kemungkinan digrudug atau minimal dirasani oleh netizen lokal lalu dicap anu-anu... seandainya ketahuan bikin beginian?

Sakjane yo ora siap, ndhe.

Tapi siapalah saya ini, hanya seorang internet user biasa, yang bermaksud memaparkan kenapa menurut saya Twitter darling yang menjadikan 'tweetwar' orang lain sebagai bahan utamanya bukanlah akun yang baik. Menyuarakan ketidaksetujuan pribadi terhadap akun berpengikut 55 ribu yang berprinsip, "Netizen bersatu tak bisa dikalahkan". Akun yang secara khusus menempatkan beberapa 'selebtwit' atau 'selebtwat'―yang maksud dan definisinya sampai sekarang cenderung tidak jelas―sebagai pihak antagonis, bahkan musuh bersama. Akun yang, sedihnya, rajin diikuti, disimak, bahkan diidolakan dan dipuja-puja banyak orang termasuk beberapa pihak-pihak yang saya kenal dengan pembelaan pamungkas, "Let people enjoy things".

The popular meme

Terdapat beberapa hal yang membuat saya berpendapat bahwa akun yang menghadirkan screenshots demi screenshots 'tweetwar' orang lain di Twitter tersebut cenderung mengarah ke jahat daripada menghibur. Saya bukan penulis kondang, bukan pula jurnalis, apalagi 'peramu kata', tetapi saya akan berusaha menguraikan kekusutan di dalam benak ini secara sederhana.

Glorifikasi dan amplifikasi 'tweetwar'

Sebelum nantinya mungkin ada pihak-pihak berkomentar, "Halah ini sih caper aja, paling-paling cuma pengin masuk timeline-nya dan dibahas!", saya sampaikan sejak awal: tenang, bos, tweet saya sudah pernah di-screenshoot dan diposting di sana. Waktu itu―sekitar bulan Mei, ketika akun spesialis 'tweetwar' belum sepopuler saat ini―saya dengan @es_twr membahas penulisan romaji salah satu anggota grup Arashi. Utas percakapan kami di-screenshoot dan diunggah dengan caption kurang lebih berbunyi, "Twitwor tentang cara penulisan bahasa Jepang", yang saya ketahui berkat informasi seorang teman (saya tidak follow akun pengumpul 'tweetwar' itu). Berhubung perbincangan tadi bukan 'tweetwar' dan saya tidak berkenan masuk ke timeline yang bersangkutan, saya meminta postingan itu dihapus. Syukurlah sang admin, setidaknya pada waktu itu, masih bersedia menggubris consent orang lain dan memenuhi permintaan saya. Entah kalau sekarang.

Kembali ke glorifikasi dan amplifikasi 'tweetwar'.

Pemaparan di atas seharusnya sudah bisa menjadi contoh apa yang saya maksud dengan glorifikasi. Segala bentuk pertukaran pendapat, dari yang santai damai, sarkastis, hingga marah-marah berhias emosi dan caci-maki, nyaris selalu dilabeli sebagai 'tweetwar' (atau 'twitwor') sebelum diunggah ulang. Akun tersebut juga berperan sebagai mikrofon yang mengamplifikasi jangkauan suatu 'tweetwar', sehingga pihak-pihak yang tadinya tidak terpapar sebuah perdebatan jadi bisa turut menonton. Beramai-ramai menikmati orang bertengkar, atau diposisikan seolah-olah sedang bertengkar. Seperti seseorang yang giat berseru di kerumunan, "Eh lihat tuh di sini ada yang lagi berantem! Sebelah sono juga lagi ribut-ribut! Pojokan situ juga!" kemudian menyuguhkan rekamannya kepada hadirin setelah di-repackaged dengan sepatah-dua patah 'kata pengantar'.


"Ya udah sih kalau nggak cocok sama kontennya ya jangan follow. Kalau perlu block. Ribet amat???"
Trust me, I am doing all of those things. Tombol mute dan block sudah ditekan karena saya tidak mau terpapar materi akun tersebut, juga tidak bersedia jika screenshot tweet saya kembali masuk ke dalam timeline-nya. Namun seberapa efektif kedua fitur tadi jika dihadapkan pada lebih dari 55 ribu follower, ditambah netizen tidak-follow-tapi-rajin-scroll-feed, yang dengan senang hati menyumbangkan screenshots dari ponsel mereka? Apalagi spesialis kolektor 'tweetwar' tampaknya tidak mengenal batasan privasi, sebab screenshot tweet dari akun yang dikunci bisa tetap bermunculan di linimasa.

Caption yang cenderung 'labelling'

Hal lain yang secara pribadi tidak bisa saya anggap lucu dan menghibur dari penghimpun 'tweetwar' adalah caption dari screenshots-screenshots yang diunggah. Sama seperti nyaris seluruh diskusi/pertukaran argumen dilabeli 'twitwor', administrator di balik akun tersebut kerap menggunakan istilah-istilah tertentu untuk disematkan sebagai label dalam caption dengan nada condescending. Mulai dari 'selebtwit'―beserta segala variasi: 'selebtot', 'saleptwit', 'selebtwat', dan entah apa lagi―yang menyasar akun-akun personal dengan jumlah pengikut segambreng, 'drama', 'maha benar', hingga yang jelas mengarah ke seseorang seperti 'Mbak bronis ketek'. Label-label tersebut lalu digunakan pula oleh para follower-nya dalam caption pada screenshoot-screenshoot sumbangan serta di kolom reply. Semenyenangkan itu, kah? Apa memang sebegitu memuaskan ya, berlindung di balik tagline "Netizen bersatu tak bisa dikalahkan"?

Saya mengerti bahwa di internet bertebaran manusia-manusia rese. Ada yang kurang ajar, nggak tahu diri, norak, tukang marah-marah, gemar mencerca orang lain, harassing kanan-kiri, semata-mata menyebalkan karena bagi kita persona online-nya berengsek atau sekadar... pencitraan. Tapi saya nggak paham apa urgensi dari mendedikasikan diri untuk terus-menerus antagonizing sejumlah orang tertentu. Apalagi secara sadar memberikan ruang menghujat berjamaah bagi orang-orang yang memang tidak menyukai pihak yang sama. Kalau yang rutin dimaki-maki koruptor, tukang fitnah, pemerkosa, pelanggar HAM, pejabat bangsat, atau kriminal sih yowis lah ya bos. Lha ini kan cuma 'selebtwit' dan 'netijen'? 

Ya Rabb, aku kudu istighfar. Terlalu banyak energi psikologis yang saya curahkan hanya demi menulis satu postingan. Terbilang panjang, pula.

Tolong jangan jahat-jahat di internet, lah.

"Sekarang isinya nggak melulu soal 'tweetwar', kok! Kadang ada yang lucu, kadang juga informatif."
Mungkin benar. Namun bolehkah saya kembalikan lagi ke username akun tersebut dan tagline-nya: Info Twitwor & Drama? Ibarat pedagang, jika dagangan utamanya sate kambing maka dia tidak mungkin menuliskan 'soto ayam' besar-besar di warungnya, kan? Seandainya ada, itu sebatas menu sampingan saja. Agar menarik lebih banyak pelanggan. Expanding market.

If you are reading this, so it means I finally had enough courage to click "Publish". 

z. d. imama

Wednesday, 6 September 2017

The World of Ghibli Jakarta: A Taste of Fantasy, A Different Sense of Reality (Part One)


Studio Ghibli. Dua kata yang baru saya kenal sejak kurang lebih tujuh tahun terakhir, tapi merupakan satu dari segelintir perkenalan yang paling saya syukuri sepanjang hidup. Pengalaman perdana nonton film Ghibli memang saat masih duduk di bangku SMP, hanya saja ketika itu saya nggak tahu sama sekali mengenai studio pembuat filmnya. Yeah, that happens a lot.

Rasa suka (dan terima kasih) kepada Studio Ghibli menjadi motivasi utama keikutsertaan saya pada event #GhibliJKT tahun 2016 silam. Ternyata event itu ditindaklanjuti tahun ini dengan serentengan acara Studio Ghibli di Jakarta―bahkan beberapa kota-kota lain di Indonesia. Mulai dari movie screening tiap bulannya, lomba mewarnai untuk anak-anak, dekorasi mobil, film festival, hingga puncak acara yakni exhibition (alias: pameran) The World of Ghibli, yang diselenggarakan di Ballroom Ritz-Carlton Pacific Place Mall, 10 Agustus - 17 September 2017. Saya yang sampai detik ini terlalu bokek untuk pergi ke Museum Ghibli di Mitaka, Jepang sana, tentu saja tidak akan melewatkan kesempatan berkunjung saat ke pamerannya bisa hadir di Jakarta. Sorry, AirAsia. Won't buy your ticket to Tokyo in the near future. I have what I need here. That girl using popcorn box to get Suzuki Toshio-sensei's autograph is coming to The World of Ghibli Exhibition in Jakarta.

Noboby can stop me. Not even the fact that I have no money. Nabung, bos! I started saving my ticket's worth of penny since the day Kaninga announced they are doing an official Ghibli exhibition in Jakarta. LOOK WHAT YOU MADE ME DO, STUDIO GHIBLI! LOOK!

Saya berangkat ditemani Puti, seorang beauty enthusiast sekaligus vlogger yang nggak tahu kesambet apa bersedia menjadi teman saya. Kami janji ketemuan di Stasiun Sudirman sebelum bersama-sama berangkat ke lokasi pameran di Pacific Place Mall yang ada ATM tarikan minimum dua juta rupiah itu. Proses masuknya pun relatif mudah. Setelah melalui gerbang pemeriksaan, tinggal menuju meja registrasi untuk pendataan nomor tiket dan mendapatkan gelang akses.

Coba tebak tangan saya yang mana?

Secara garis besar, The World of Ghibli Exhibiton punya dua area. Pertama adalah area luar pameran yang terdiri dari merchandise stall dan performance stage. Di panggung luar pameran itulah beberapa penampil akan membawakan lagu-lagu soundtrack film Ghibli. Jadi bagi pengunjung yang sudah capek muter-muter di dalam, atau menunggu anak/pasangannya yang masih belum puas keliling pameran, bisa duduk-duduk di depan performance stage sambil menikmati musik yang dimainkan. Tidak jauh dari panggung ada stall yang tampaknya juga menjual refreshments, sehingga tidak perlu cemas kalau tenggorokan haus.

Area pameran dibagi lagi menjadi tiga sektor. Saat gelang akses di-scan, mbak-mbak usher volunteer berpesan bahwa untuk dua area awal tidak diperbolehkan mengambil gambar maupun merekam video. Pokoknya cuma boleh ditatap mata dan diukir dalam kenangan. Oke, mbak. Beres. Tenangno pikirmu aku ora arep njepret foto ning kene. Selangkah memasuki sektor pertama―yang saya rasa adalah bagian perkenalan Studio Ghibli―pengunjung disambut oleh foto dan profil eyang-eyang pionir yang berperan penting membesarkan Studio Ghibli. Termasuk salah satunya, Miyazaki Hayao-sensei yang rajin dikabarkan mau pensiun tapi beberapa bulan kemudian bosen dan memutuskan pensiun dari pensiunnya. Di dalam sektor pertama ini juga dipamerkan variasi poster-poster film Studio Ghibli, desain karakter, serta sketsa-sketsa mulai dari Tenkuu no Shiro Laputa hingga Red Turtle: Aru Shima no Monogatari. Bagus-bagus banget. Selain tidak boleh direkam serta difoto, segala yang dipamerkan di bagian ini tidak boleh dipegang. Biar awet. Supaya nggak cepat kotor akibat terjamah tangan sekian banyak manusia. Mari dipatuhi bersama-sama peraturannya.

Berikutnya adalah Trailer Room. Sebagaimana namanya, di sini ada pertunjukan trailer film-film Studio Ghibli yang selama ini sudah pernah dirilis. Hitung-hitung mencicipi gimana rasanya nonton trailer film-film kesayangan dengan layar lebar (biasanya kan cuma modal laptop/TV). Meski tidak ada bangku yang disediakan di Trailer Room, berhubung karpet Ritz-Carlton empuk jadi tinggal duduk atau goler-goler sesuka hati jika mau menikmati semua trailer yang diputarkan. 

The Third Zone: Exhibition Area

Finally. Setelah menyaksikan beberapa trailer yang diputar (berakhir baper pasca nonton trailer Kaze Tachinu), saya dan Puti meneruskan perjalanan. Menuju zona di mana kami sudah dihalalkan untuk menekan tombol shutter kamera sepuasnya. Cuma kamera HP XiaoMi, sih... but still. Memasuki area pameran, yang kali pertama menyambut mata pengunjung adalah kipas angin gantung kastil di Tenkuu no Shiro: Laputa

Enak juga ya punya kastil terbang?

Jika kalian sudah bertemu kastil sebagaimana terlampir di atas, siapkan diri untuk kejutan-kejutan menyenangkan berikutnya. Tarik napas dalam-dalam sebelum menoleh ke arah kiri. Pemandangan yang akan memanjakan mata kalian aslinya jauh, jauh, JAUH lebih cakep dibandingkan hasil potretan kamera HP saya yang murah meriah ini. Studio Ghibli really strikes at you. BRACE FOR IMPACT.


Display-display yang dipamerkan bagus-bagus banget. Ya Rabb. Saya nggak pernah ke Ghibli Museum yang di Mitaka jadi tidak bisa membandingkan―secara subjektif dan objektif―tapi begini saja saya sudah senang sekali. Ada beberapa yang menurut saya masih bisa dikembangkan dan diperbaiki, namun khusus mengenai saran, masukan, dan uneg-uneg akan saya paparkan semua di tulisan terpisah yang baru akan saya taruh di blog setelah pamerannya usai. Ulasan World of Ghibli Jakarta bagian pertama ini isinya seputar fans yang bahagia karena akhirnya bisa foto bersama Totoro. Boleh, kan? Boleh, dong. Nggak apa-apa, kan? Nggak apa-apa, dong.

Ada sekitar 20-an buah full-length film yang telah dirilis Studio Ghibli. Apakah semua film ada display-nya? Sayang sekali tidak. Jadi, film-film mana saja yang cukup beruntung untuk dibuatkan display 3D-nya di area pameran? Total ada sebelas judul yang dipilih, yakni Tenkuu no Shiro Laputa, Kaze no Tani no Nausicaa,  Kurenai no Buta, Gake no Ue no Ponyo, Sen to Chihiro no Kamikakushi, Howl no Ugoku Shiro, Majou no Takkyuubin, Mononoke Hime, Karigurashi no Arietty, Omoide no Marnie, dan tentu saja... Tonari no Totoro. Film Ghibli favorit kalian termasuk yang dibuatkan display-nya, kah? Soalnya favorit saya nggak. Hiks. Nasib jadi hipster. *Mengusap-usap muram poster Mimi wo Sumaseba.*

Saya tahu kalian nggak berminat melihat serentengan foto-foto kunjungan saya ke World of Ghibli Jakarta. Lagipula memang akan jauh lebih oke jika kalian pergi ke pamerannya dan melihat dengan mata kepala sendiri, namun sebagai netizen tidak populer yang bahkan nggak punya akun Instagram, saya bisa pamer di mana lagi jika bukan di blog pribadi? Apalagi saya sangat jarang berfoto. So please bear with me and my pictures, guys.

Here you go.

 
 Flaptter dari film Tenkuu no Shiro Laputa

Undakan di belakang flaptter boleh dinaiki pengunjung sampai anak tangga terakhir. Siapa tahu mau lihat control panel pilot, sekalian foto-foto. Tapi tidak boleh sampai menginjak badan flaptter-nya.

Aslinya jari tangan saya tidak sampai bersentuhan dengan display-nya.

Bulan Agustus kemarin, saat display pameran belum semuanya selesai, saya dan Puti sudah menyempatkan berkunjung. And it was such a wise thing to do. Beberapa tempat yang awalnya tidak dilarang dinaiki/diinjak, rupanya sekarang ada yang diberi pagar pengaman. Off limits. Salah satunya adalah jembatan merah ikonik dalam film Sen to Chihiro no Kamikakushi. Untung bulan lalu saya sudah pernah melakukan pose Kaonashi ala-ala di atasnya. Thank God for this golden chance.

Kaonashi yang tidak kurus.

  
Rumah pemandian Yubaba. Saat didekati, dari dalam terdengar gemericik air.

Ada beberapa display yang pengunjung perlu mengantre agar dapat masuk lalu berfoto-foto di sana. Tentu saja Totoro dan Nekobus termasuk! Dua titik display ini terbilang paling populer bagi anak-anak. Maklum sih... dilihat saja sudah terasa empuk. Beberapa kali saya dan Puti memergoki para volunteer Ghibli menyisiri bulu Totoro agar tidak kempes. Demi Totoro yang selalu camera ready.

Experiencing the life as Totoro.

  
"Di sampingku ada Totoro."

Sadar nggak bahwa foto kanan dan kiri di atas dipotret pada hari yang berbeda? Foto kiri diambil awal bulan September, saat pameran dikabarkan sudah selesai 100% instalasinya. Sementara foto kanan diambil pada kunjungan pertama saya dan Puti, sekitar pertengahan Agustus. Bagian display yang berwarna hitam―yang dimaksudkan sebagai batu-batuan―sebenarnya ringkih dan tidak boleh diinjak. Namun kayaknya memang susah banget mencegah sekian banyak pengunjung menapakkan sepatunya di bagian itu, sehingga sebagaimana bisa dilihat di foto kiri, display bebatuannya sudah agak rusak.

Pengunjung diperbolehkan masuk ke rumah keluarga Kusakabe (Tonari no Totoro) yang terletak di sisi display Totoro. Hanya saja, ruang belajar ayah Satsuki dan Mei yang bertebaran buku-buku dan barang-barang di mana-mana hanya bisa dilihat dari kejauhan. Foto yang diizinkan pun dari luar saja. Oke, ora popo, aku bocahe manutan kok

  
Seperti di rumah sendiri: berani terima tamu dan angkat jemuran keluarga Kusakabe.

Berlatar belakang ruang belajar Bapak Kusakabe, ayah Satsuki dan Mei

"You jump, I jump?"

Di depan rumah Arietty sambil membawa sebongkah gula. Nggak dibukain pintu.

Salah satu display yang belum bisa diakses ketika kunjungan perdana tetapi sudah all you can enter saat kedatangan kami berikutnya adalah hutan dalam film Mononoke Hime. Dihadirkan di The World of Ghibli Jakarta lengkap dengan tuyul-tuyul putih... yang saya lupa nama sesungguhnya apa. Tolong saya dibantu, dong.

 
Layaknya hutan beneran... dalemnya gelap banget, guys.

Toko rotinya Kiki (Majou no Takkyuubin) pun merupakan spot populer di The World of Ghibli. Ya gimana nggak... perintilan-perintilannya ternyata makanan beneran. Dulunya, sih. Roti-roti itu sudah diawetkan dengan resin dan entah apa sehingga sudah tidak edible lagi. Tapi visualnya masih kayak enak banget. Pengunjung yang mau berfoto di dalam toko dipinjami bando berpita khas Kiki serta plushie Jiji, kucing piaraan Kiki, agar kian hakiki.



Sebuah transaksi jual-beli fiktif yang dipotret dengan gemilang oleh @ruarrrbiyasa.

Foto saya (bersama Puti) selama di The World of Ghibli Jakarta terus terang masih ada segambreng lagi, tetapi demi prinsip sederhana "Tidak akan memposting foto semua display yang ada di pameran" dan supaya kalian yang membaca tidak terkena muntaber akibat terlalu banyak terekspos foto-foto saya... akhirnya sampai di sini saja. Saya senang sekali bisa datang ke The World of Ghibli. If you are a Studio Ghibli fan, you have to come. Semacam fardu 'ain, hukumnya. Jangan puas hanya dengan melihat foto-foto yang diunggah orang lain ke internet. Harus lihat sendiri.

Jangan lupa mampir ke merchandise stall. Buang semua sisa uang kalian di sana! Harga souvenir/official merchandise Ghibli yang tersedia memang tidak bisa dibilang murah (barangkali faktor ongkos dan... pajak), tetapi jika mengingat bahwa kita nggak usah bayar tiket pesawat Indonesia-Jepang bolak-balik, jatuhnya tetap lebih hemat kok. Kali ini saja lupakan logika dan biarkan cinta berbicara. Boroooong!

This is where you should burn all your money.


Terima kasih, Studio Ghibli. 

Terima kasih banyak telah bersedia menghadirkan dunia Ghibli ke Jakarta. Terima kasih telah memanjakan fans-fans film Ghibli di Indonesia. Terima kasih kami sudah boleh foto-foto padahal di Jepang saja nggak dikasih izin. Terima kasih juga untuk semua anggota tim produksi pameran The World of Ghibli Jakarta dan keseluruhan event Ghibli di Indonesia tahun ini. Terima kasih mas-mbak usher volunteer yang selalu stand by dan sigap meng-assist pengunjung mengambil foto. Mengenai kritik, saran, masukan, serta uneg-uneg lain... menyusul, ya. Hahaha. Sekarang saya hanya ingin mengucapkan terima kasih dari lubuk hati. Semoga di lain waktu akan ada lagi acara-acara begini. 

Jangan kapok datang ke Indonesia!

Teman-teman yang belum sempat mengunjungi pameran ini, ayo berangkat laah... Masih ada waktu kok sampai tanggal 17 September 2017. Bagi yang sudah ke sana, boleh lho menuliskan kesan-kesan dan cerita di kolom komentar. Saya senang membaca-baca respon dari kalian.



z. d. imama

*P.S.: Ulasan The World of Ghibli juga hadir dalam bentuk vlog di channel YouTube milik Puti (astarlightinthegloom). Part One bisa ditonton di sini, dan silakan klik di sini untuk Part Two!