Friday, 21 July 2017

First experience using PopBox


Ada yang sudah pernah dengar soal PopBox?

Hingga beberapa waktu lalu―tepatnya sampai saya lebih sering aktif berbelanja buku lewat situs Gramedia (yang postingannya juga ada di sini)―saya sama sekali asing dengan PopBox, baik nama maupun kegunaannya. Ketika "PopBox" muncul pada opsi pengiriman barang, rasa penasaran saya pun tergelitik dan akhirnya memutuskan mencoba menggunakan servis PopBox.

Ngomong-ngomong, saya nggak dibayar siapa pun untuk membuat tulisan ini.
Sedih, bos.

Jadi pada hakikatnya, PopBox adalah jasa layanan 'loker penitipan barang' atau 'kotak surat berbayar'. Barang-barang yang dikirimkan kepada kita baik itu dari online shop, laundry service, atau vendor-vendor lain yang bekerja sama dengan PopBox dapat diletakkan di dalam loker-loker ber-password yang mana bisa kita ambil sewaktu-waktu. Persebaran lokernya terbilang cukup banyak (sejauh ini tersedia di Jabodetabek dan beberapa kota lain yang dapat dilihat di situsnya), sehingga kita bisa memilih lokasi terdekat, atau tempat-tempat yang sering kita lewati. Barang pesanan sampai ke tangan kita tanpa harus menuliskan data pribadi seperti alamat tempat tinggal atau kantor! Tidak perlu pula mencemaskan kurir datang saat rumah kosong.

Penampakan loker PopBox. Cukup mentereng.

Bagian yang saya hitamkan itu berisi keterangan cabang loker PopBox. Tidak saya ungkap karena kebetulan saya memang memotret loker terdekat dengan 'daerah peredaran diri'. Jika layar kecil di sisi kiri itu disentuh, maka tampilannya akan berubah menjadi pilihan bahasa, seperti di bawah ini:

Foreigners-friendly.

Di situ juga ditunjukkan keterangan ada berapa loker yang tersedia dalam ukuran apa. Jadi jika ingin menyimpan barang yang relatif kecil (contoh: peralatan kosmetik), dapat diletakkan ke dalam loker XS agar tidak banyak ruangan terbuang sia-sia.

Sesudah memilih bahasa yang sesuai kemauan dan kemampuan kita, layar akan berpindah ke menu utama yang menampilkan aneka layanan dari PopBox. Selain servis andalannya sebagai drop box, ternyata PopBox juga bisa digunakan untuk melakukan pembayaran dengan e-money.

Ada FAQ juga tapi tidak saya coba tekan.

Saya kan memang bermaksud mengambil barang belanjaan dari Gramedia, maka saya pencet tombol "Mengambil Barang". Tahap selanjutnya adalah men-input password yang sebelumnya telah otomatis terkirim ke nomor ponsel (dalam bentuk SMS, bukan mendadak WhatsApp kayak abang-abang ojek online) kita ketika barang yang dipesan sampai ke PopBox tujuan.

Tombolnya besar-besar. Suka, deh.

Setelah kita menekan "OK", maka loker yang berisi barang milik kita akan terbuka secara otomatis. Tampilan layar akan menunjukkan nomor loker kita dan batas waktu pengambilan barang. Seru banget mendengar bunyi 'ceklek' ketika salah satu kunci loker dinonaktifkan dan katupnya bergerak sendiri. Bahkan saya (yang memang pada dasarnya gadis dusun) tidak bisa menahan diri untuk tidak cengar-cengir sewaktu menarik keluar belanjaan dari PopBox.

Agak nge-blur gambarnya. Maafkan saya huhuhu..

Come to me, my baby~

Biaya shipping dan handling PopBox terhitung sangat terjangkau. Saya kurang tahu apakah biaya berubah-ubah seiring berat barang yang dikirimkan, tapi ketika saya membeli buku seberat dua kilogram di Gramedia, tagihan pengiriman dengan PopBox hanya sebanyak Rp8,000. Padahal kalau dengan jasa kurir biasa (oke, pilihan shipment lain di situs Gramedia cuma ada JNE) akan dua kali lipatnya. Menurut saya, PopBox mampu menjadi alternatif yang sangat menarik untuk perkara kirim-mengirim barang.

Daftar vendor dan merchant yang bekerja sama dengan PopBox bisa dicek di situs mereka yah. Link-nya sudah saya sertakan di awal tulisan ini. Selain Gramedia online, ada pula PerfectBeauty dan sejumlah toko-toko online lain kok. Selamat mencoba menggunakan layanan PopBox! Kayaknya saya ketagihan sih...

z. d. imama

Thursday, 6 July 2017

Online Bookstore for the Rescue


Saya orangnya tidak mudah tergoda belanja-belanja pakaian. Begitu pula sepatu (sampai-sampai sepatu lari yang sudah berbulan-bulan rusak dan jebol tidak kunjung dibelikan penggantinya). Saya gampang terhasut kalau diajak ke toko buku, atau melihat-lihat seprai. Agak nggak nyambung, memang.

Beberapa waktu lalu saya iseng mampir ke Gramedia (karena kebetulan sedang ada perlu di gedung yang sama) dan terkaget-kaget karena harga komik Jepang edisi Indonesia sekarang sudah Rp25,000 per buah. Wah ngajak berantem, nih. Saya belum sembuh dari syok sejak harganya berubah dari Rp20,000 ke Rp22,500 lho. Apalagi jika mengingat bahwa semenjak komik di Indonesia harganya masih Rp5,500 tuh di Jepang sudah sekitar Rp40,000-an. Sekarang? Masih di range Rp40,000 sampai Rp50,000... semacam kayak nggak kenal inflasi.

Bete, kan. 

Harga komik-komik kesayangan saya yang makin merangkak, ditambah dengan ketidakpastian tersedianya stok sebuah judul di toko buku satu dengan lainnya membuat saya (yang sudah malesan ini) jadi semakin enggan jalan-jalan keluar hanya untuk mencari buku yang ingin dibeli. Ya sudah. Alhasil saya mulai beralih ke Gramedia versi online, yakni gramedia.com, yang Welcome page-nya bisa dilihat dari gambar di atas, atau di bawah ini.

Jika butuh asupan agama bisa beli kitab suci juga

"Eh, ini postingan berbayar ya?" bisik-bisik pengunjung blog dengan curiga.
Nggak, lah. Mana ada yang berkenan membayar saya selain kantor yang merupakan sumber tumpuan hidup. Hiks. Kenyataan pahit.
Saya terus terang belum pernah menggunakan jasa toko buku online selain Gramedia, jadi sebetulnya saya tidak membisa membuat perbandingan dengan situs toko buku serupa. Tetapi sejauh pengalaman pribadi, yang paling menjadi nilai plus dari situs ini (selain diskon musiman dan kecil-kecilan) adalah buku yang kita pesan bisa diambilkan dari gudang berbagai Gramedia berbeda!

Seriusan.

Tempo hari saat saya beli online satu judul serial yang total terdiri delapan jilid, buku-buku saya berdatangan dari beberapa gudang cabang-cabang toko buku Gramedia. Jadi kalau ternyata jilid pertama tidak ada di cabang A, misalnya, maka akan dikirimkan dari cabang B. Pokoknya pesanan kita terpenuhi lengkap. Pelanggan terima beres.

Kebaca kan tulisannya?

Kedelapan buku yang saya pesan diambilkan dari Gramedia Kelapa Gading, Gramedia Distribution Center Cakung, Gramedia Emporium Mall Pluit, dan Gramedia Grand Indonesia. Coba bayangkan jika saya memutuskan berburu secara... manual? Gempor, mak. Keburu dekil gara-gara keliling Jakarta. Belum lagi ongkos transportasi berpindah-pindah lokasi. Tambah ongkos beli es teh karena kehausan di jalan, blah blah blah. Kalau begini kan cukup membayar ongkos kirim dan handling, barang sudah dicarikan lalu dikirimkan.

Ada yang punya rekomendasi toko buku online lain?
Silakan tulis dan berbagi di kolom komentar yah.

z. d. imama

Friday, 30 June 2017

What I miss from hometown


Saya ini gadis dusun.

Dan sepertinya nyaris semua orang yang pernah berbicara langsung dengan saya menyetujui hal ini. Saya ndeso dan medhok, dan tidak ragu mengakui bahwa nyatanya memang anak kampung yang merantau ke ibukota. Maka, salah satu kegiatan khas anak rantau―yang belum lama ini dilakukan berbondong-bondong oleh warga Jakarta dan kota-kota besar lainnya―adalah pulang kampung. Mudik.

Sebagai golongan manusia light traveler yang paling enggan membawa banyak barang saat bepergian jauh, packing tidak pernah menjadi persoalan. Justru perkara terbesar adalah waktu tempuh untuk mudik. Berhubung gembel dan hanya mampu beli tiket kereta ekonomi, saya mau tidak mau harus bersahabat dengan pegal-pegal akibat duduk di kursi selama kurang lebih sepuluh jam. Makanya... mengingat itu, kadang jadi agak malas untuk pulang kampung.

Tapi tentu saja ada beberapa hal-hal yang menjadi motivasi untuk kembali ke kota tempat kelahiran, yang akan saya sebutkan di bawah ini. Perlu diingat bahwa segala yang tertera nanti sifatnya sangat subjektif. Cuma bagi saya saja. Oh ya, dan saya tidak akan menuliskan "Bertemu keluarga" atau sejenisnya. Jangan anggap saya anak durhaka, oke? Sebab menurut saya, keinginan berjumpa keluarga bukan termasuk motivasi pulang kampung lagi. Itu sih, tujuannya.

Jadi, apa yang saya rindukan saat mudik?

1. Tempat tidur sendiri.

Bukan kamar saya.

Tempat tidur saya di kampung ukurannya jauh lebih luas dibandingkan yang di kos. Sehingga setiap kali pulang ke rumah, rasanya seperti upgrade dari kelas ekonomi ke... yah, eksekutif. Mau guling-guling kayak apa pun aman. Selain itu, barangkali ada faktor sentimental tersendiri yang membuat saya berpikir bahwa kasur yang sudah saya tiduri sejak pasang pembalut saja belum bisa bener ini lebih terasa nyaman dibandingkan kasur kosan di perantauan. Sense of familiarity, kali yah?

2. Koleksi buku-buku lama.


Buku-buku saya di rumah cukup banyak, dan terus terang nilai nostalgianya juga besar. Misalnya, komik Detektif Conan yang edisi kaver klasik (warna dasar putih) dari volume 1-40, Card Captor Sakura, Detektif School Q, Animorphs, Harry Potter, pokoknya segala macam buku baik novel maupun komik yang terbit hingga tahun 2012. Membaca-baca ulang buku-buku lama milik sendiri merupakan sebuah aktivitas langganan yang nyaris tidak pernah saya lewatkan setiap kali pulang (makanya daftar buku bacaan jarang bertambah, habis kerjaannya re-reading melulu). Beberapa judul komik yang saya taruh di postingan rekomendasi shoujo manga favorit juga ada di koleksi pribadi karena sudah pernah diterbitkan di Indonesia, dan pasti jadi sasaran utama untuk dibuka-buka lagi.

3. Makanan khas kampung halaman.

Salah satu makanan yang sampai sekarang nggak ketemu di Jakarta: Timlo

Makanan ala kota Solo ya memang paling bener belinya di kota Solo. Udah. Titik. Beberapa kali mencoba mampir di sejumlah warung makan atau restoran yang menjual menu dengan embel-embel kota Solo... tapi entah kenapa rasanya tetap salah, atau justru makanan yang saya cari tidak tersedia. Worst case scenario: ada yang jual, tapi rasanya tidak enak, dan harganya sudah berkali-kali lipat lebih mahal. Mendingan nunggu kesempatan pulang kampung deh...

4. Suasana jalanan yang tidak 'buas'.

Becak ini transportasi paling nggak taat sama rambu lalu lintas.

Percaya, deh. Kalau ada warga kota Solo bilang, "Ah Solo sekarang juga macet!" tapi yang bersangkutan belum pernah bepergian ke Jakarta, atau New Delhi, apalagi New York, nggak usah terlalu meyakini kata-katanya. Apa yang dibilang 'macet' bagi orang yang mendekam di kota Solo adalah "Wah jalanannya agak rame yah" bagi warga Jakarta. Mentok-mentok yaa... 'padat merayap', lah. Perjalanan mengendarai motor dari rumah saya ke SMA, yang jaraknya kurang lebih sejauh 10 KM, bisa ditempuh sekitar 10-15 menit saja tanpa harus melanggar lampu lalu lintas atau naik ke trotoar. Kurang chill apa, coba?


Apa yang bikin kangen dari kampung halaman kalian?

z. d. imama

Sunday, 25 June 2017

How to Respond to Questions from Relatives on Eid


Selamat Hari Raya Idulfitri, teman-teman!

Terima kasih sudah bersedia meluangkan waktu untuk membaca isi dari blog saya yang kebanyakan nggak ada pentingnya ini. Hahaha. Berhubung sekarang hari Lebaran (dan saya belum mudik sehingga nganggur di kos), saya akan mencoba memberikan tips-tips sederhana mengenai cara-cara mengatasi pertanyaan sekaligus komentar―yang berbau ikut campur dan kadang terasa menyudutkan―dari saudara-saudara jauh saat acara kumpul keluarga besar ketika hari Idulfitri.

Lebaran, dengan budaya mudiknya, merupakan ajang bagi anggota extended family yang biasanya tidak saling bertemu menjadi berinteraksi dan saling kenal. Pertemuannya pun dalam setahun hanya bisa dihitung jari. Kalau bukan di momen Idulfitri yaa... Natal. Atau kegiatan lain yang melibatkan banyak orang (misalnya arisan keluarga besar). Tapi masalahnya, saudara-saudara jauh bermodal kepretan DNA dari eyang/leluhur yang mendadak mendekat ini sering―meskipun tidak selalu―tidak tahu diri sadar bahwa mereka jarang sekali berhubungan dengan kita dan hampir tidak punya andil besar pada suka-duka hidup kita. Banyak di antara mereka yang memilih menanyakan atau mengomentari hal-hal yang termasuk pilihan pribadi, prinsip, bahkan kadang-kadang memerintahkan sesuatu.

Hal-hal yang paling sering terkena serangan komentar dan pertanyaan kerabat jauh ketika Idulfitri kurang lebih sebagaimana tertera di bawah ini:

  • "Kapan lulus?" dan segala variasinya, khusus bagi mahasiswa yang sedang mengerjakan skripsi.
  • "Udah ada pendamping wisuda belum?" sebagai variasi dari "Masih jomblo atau udah punya pacar?" untuk mahasiswa-mahasiswa yang sudah lulus sidang skripsi tapi belum upacara wisuda.
  • "Lho, belum kerja?" yang biasanya ditujukan kepada lulusan universitas atau akademi yang masih bergulat mencari pekerjaan, atau yang memang memutuskan untuk mencari nafkah dengan cara non-kantoran (misalnya berjualan barang secara online).
  • "Kapan nikah?" dan segala repackaged version-nya, biasanya sudah mulai dilontarkan ke anak-anak perempuan yang sudah memasuki usia 20 tahun ke atas (kalau laki-laki saya nggak tahu karena nggak ngalamin), cenderung makin gencar dan makin sadis seiring bertambahnya waktu.
  • "Kapan punya momongan?" yang kerap digunakan untuk mencecar pasangan-pasangan yang sudah menikah tapi belum punya anak, memang menunda punya anak, atau memilih untuk tidak punya anak. 
  • "Kapan nambah?" ini bukan tentang nambah makan, tetapi menambah jumlah anak. Ya tentu saja sasarannya adalah pasangan suami-istri yang anaknya hanya satu. 
  • "Mainannya lucu, buat anakku satu ya?" adalah pertanyaan sekaligus permintaan ngelunjak yang tidak jarang dicetuskan oleh kerabat jauh kepada kita kalau mengoleksi barang-barang seperti Funko, Gunpla, action figure, atau sejenisnya.
Jika ada contoh pertanyaan lain, silakan ditulis di kolom komentar sebagai submission!

Inner me: "LEAVE. ME. ALONE!!"

Bagaimana cara untuk men-tackle pertanyaan-pertanyaan di atas? Ada beberapa alternatif yang bisa dipilih, tetapi efektivitas setiap opsi tidak bisa ditentukan karena yaaah... ngefek-nggaknya ke setiap orang kan beda-beda. Silakan putuskan sendiri siasat mana yang akan kalian gunakan ya!

- The "Senyumin Aja" Strategy

Nggak usah dijawab. Nggak usah ngomong apa-apa. Pokoknya senyum! Jika memungkinkan, saat kalian tersenyum manis kepada pihak penanya, lakukan sambil pindah dari posisi semula ke tempat lain yang jauh dari jangkauan suara dan tangannya. Sehingga sikap ini merupakan silent version dari, "No, I am not going to answer this. Bye."

- The "Jawab Asal-Asalan" Strategy

Ingin meladeni? Ingin menjawab? Tapi juga ingin sedikit rese? Bisa pilih metode menjawab ngasal. Sewaktu ditanya, "Kapan kawin?" misalnya, kalian bisa jawab "Minggu depan kali ya, mumpung bulan Ramadan sudah selesai". Atau justru mendapat pertanyaan, "Pacar kamu mana kok nggak pernah dikenalin"? Tenang. Coba bilang, "Lho, orangnya ada di sini kok," dan biarkan mereka menebak-nebak siapa di antara keluarga besar yang diam-diam kalian kencani (padahal fiktif).

- The "Serangan Balasan!" Strategy

Jika kalian termasuk orang-orang yang paling tidak bisa merasa dipojokkan, ditindas, atau dicampuri urusan hidupnya, tampaknya siasat serangan balik ini cocok untuk kalian. GO FULL OFFENSIVE, PALS! Sebagai contoh, ketika kalian mendapat pertanyaan, "Kamu kok nggak lulus-lulus kuliah?" dari saudara yang kebetulan punya anak dengan usia di bawah kalian, bisa membalas dengan, "Ya minimal saya keterima di kampus bagus, kalau (masukkan nama anak si penanya) kan belum tentu". Kalian dapat komentar, "Nggak usah terlalu pilih-pilih jodoh"? Santai. Bisa dijawab, "Kalau saya nggak milih-milih, nanti kehidupan rumah tangga saya susah kayak Om/Tante". Koleksi mainan kalian diminta satu oleh kerabat dengan dalih untuk anaknya? Jangan panik. Bisa katakan, "Miskin ya sampai nggak sanggup belikan mainan untuk anak sendiri? Kebanyakan anak?" sebagai serangan balasan. Tapi harus diingat, strategi ini juga sangat efektif untuk membuat kalian jadi the black sheep of the family.

- The "Pura-Pura Sakit Tenggorokan" Strategy

Ini adalah siasat melarikan diri, alias cari aman. Kenakan masker sepanjang momen Lebaran. Berpura-puralah sedang sakit tenggorokan dan nggak sanggup ngobrol dengan orang-orang, niscaya kalian tidak akan harus repot-repot memberikan respon terhadap komentar dan pertanyaan mengganggu, bahkan tidak perlu turut berbasa-basi dengan semua orang. Cukup berikan sinyal yang menandakan bahwa kalian tidak bisa bicara, habis perkara!

Masker debu ya, bukan masker perawatan wajah...

Sudah memutuskan siasat mana yang akan diterapkan untuk Lebaran kali ini? Sekali lagi, selamat Hari Raya Idulfitri untuk kalian! Lebaran nggak Lebaran, yang penting ikut liburan!

z. d. imama

Monday, 19 June 2017

Japan Fest 101: Songs on Stage


Saya sudah cukup jelas menyatakan beberapa kali di blog ini bahwa saya adalah #BudakYapan, yang terbilang cukup akrab dengan produk-produk budaya dan kapitalisme mereka. Sebelum menjadi gadis rantau di area Jabodetabek, saya merupakan warga kota eks-karesidenan Surakarta yang relatif jauh dari hingar-bingar. Kehidupan remaja saya dihabiskan dengan jadi server tanpa upah di laboratorium komputer sekolah (yang selepas jam pelajaran beralih fungsi sebagai warnet), bolak-balik ke tempat persewaan buku dan video, ke bioskop setiap hari Senin karena ada promo Rp15,000, dan... mendatangi festival budaya Jepang yang diadakan SMA-SMA (serta kampus) lokal di kampung halaman.

Jika tidak salah ingat, saya mulai berkenalan dengan festival Jepang anak sekolah sekitar tahun 2007. Hingga tiba hari di mana saya berangkat exchange (dan kemudian disusul kuliah di luar kota), saya cukup sering menghadiri acara-acara serupa untuk menyadari sejumlah hal-hal tipikal, salah satunya lagu-lagu yang sering terdengar di sana.

Hence, I present:

#JapanFest101: Songs Performed on Stage Edition

Circa 2007-2012 untuk area Surakarta dan sekitarnya.

Guest band di festival Jepang SMA Negeri 1 Surakarta, "Sannin Party" ke-9

Acara festival Jepang sudah pasti diikuti dengan kompetisi band performance dan sejumlah bintang tamu untuk meramaikan acara. Entah kenapa, baik band yang mengikuti lomba maupun undangan, tampaknya punya beberapa lagu favorit yang hampir pasti dimainkan di panggung. Mungkin karena lebih gampang kali yah? Atau instrumen yang digunakan nggak butuh terlalu ribet? Tidak jarang dalam satu acara, ada lagu yang dibawakan hingga dua atau tiga kali oleh penampil berbeda. Sampai-sampai rasanya kalau lagu-lagu tersebut belum dimainkan, acara festivalnya kurang afdol. Tidak mabrur.

Berikut adalah beberapa lagu yang, hingga detik ini, ketika mendengar intro-nya saja saya sudah timbul hasrat mengangkat kedua lengan lalu jejingkrakan sendiri.

1. L'Arc~en~Ciel - Stay Away

(Alternative: Blurry Eyes, Ready Steady Go)
Pokoknya di rentang waktu tahun 2007-2012 tuh kalau sampai ada festival Jepang yang tidak melibatkan tiga lagu Laruku tersebut, bisa dibilang acaranya melempem. Apalah event perwibuan tanpa band dengan vokalis yang berambisi (dan berupaya semampunya) untuk meniru-niru teknik vokal Om Hyde?

Promotional video untuk Stay Away.

(*P.S: klik masing-masing judul untuk menonton video performance aslinya via YouTube jika kalian lupa―atau nggak tahu, tapi masa sih?―lagu-lagu ini tuh yang mana.)

2. Saint Seiya OP - Pegasus Fantasy

Sumpah saya baru tahu beberapa tahun belakangan bahwa original artist lagu ini adalah sebuah band metal bernama MAKE-UP. Sebelum itu ya hanya mengidentifikasi sebagai "Oh ini lagu opening anime Saint Seiya". Udah. So much for #BudakYapan, huh? Tapi terus terang, Pegasus Fantasy memang sangat seru jika dibawakan karena crowd pasti beramai-ramai ikut teriak, "Saint Seiya!!" saat bagian chorus.

Saya nulis postingan ini saja sudah kepengin headbang...

3. Asian Kung-fu Generations - Haruka Kanata

Of course. Haruka Kanata ini terbilang satu soundtrack Naruto yang paling kerap ditampilkan saat festival budaya Jepang anak sekolahan. Memang cukup 'meramaikan' dan catchy, ditambah lagi agak teriak-teriak jadi sekalipun si vokalis nyanyinya rada fales bisa disamarkan, sehingga wajarlah lagu ini dimainkan di sana-sini. Seingat saya, majalah khusus anime dan manga "Animonster" juga pernah memuat lirik lagu Haruka Kanata lengkap beserta terjemahannya. 

Pas opening-nya masih begini, Sasuke belum jadi cowok yang gampang dihasut

4. Do As Infinity - Fukai Mori

Vokalis cewek di band spesialis festival Jepang hampir bisa dipastikan pernah membawakan lagu ini. Bahkan beberapa pekan lalu, saat saya menghadiri Ennichisai 2017 di Blok M, masih ada performer yang memainkan Fukai Mori. Buset. Lagu abadi. Barangkali karena melodi lagunya tidak terlalu ribet jadi mudah dinyanyikan? Bisa jadi. Tapi sebagai pengunjung, saya pun cukup menyukai Fukai Mori karena bisa menonton sambil berdiri tenang tanpa perlu terbawa suasana yang menuntut lonjak-lonjak dan jejingkrakan.

Fukai Mori sempat jadi lagu ending untuk anime Inu Yasha

5. Wada Kouji - Butter-Fly

Opening Digimon Adventure, salah satu serial anime pertama yang saya kenal (dan sayangi bahkan sampai hari ini). Tipe lagu yang setiap kali didengarkan langsung jadi bersemangat. Saya memang punya personal attachment tersendiri dengan serial Digimon dan lagu-lagu soundtrack-nya. Sumpah, sedih banget rasanya ketika Wada Kouji, original artist dari lagu ini, dikabarkan meninggal dunia bulan April 2016 lalu karena sakit kanker. Nyesek asli. 

SO. MUCH. FEELS.

Satu hal yang paling bikin saya lumayan gemas adalah, kadang-kadang vokalis band yang sedang tampil lupa lirik lagunya (mungkin karena beda bahasa jadi sulit dihapalkan dan kebetulan darah wibu dalam diri sang vokalis kurang kental), lalu dengan sengaja mengarang bunyi-bunyian asal. Berharap nggak ada yang menyadari kali yah... Mungkin disangkanya, "Ah bahasa Jepang ini, salah ngomong juga nggak bakalan pada ngerti."

Padahal sebenernya penonton juga nggak sebuta itu lho...
 
Nah. Apa kalian punya contoh lagu-lagu lain yang hampir selalu bisa didengar di panggung festival budaya Jepang? Kata salah seorang teman saya sih, sekarang lagu-lagu ONE OK ROCK juga sudah mulai merajalela sebagaimana L'Arc~en~Ciel beberapa tahun silam. Saya tidak bisa mengecek kebenarannya karena sudah tak seaktif dulu lagi dalam menyambangi festival-festival, tapi kalau menurut dugaan saya yaa... lagu ONE OK ROCK yang sering dimainkan paling-paling Heartache, Wherever you are, atau The Beginning. Starter pack aja.

*Kabur sebelum dilindes pakai truk semen.*

z. d. imama

Saturday, 10 June 2017

Presenting... Quick Book Sale 2.0!!


Saya butuh THR.

Tapi sebagai anak kemarin sore di kantor yang belum berhak atas bonus hari raya yang didamba... ya apa boleh buat jika hal itu hanya sebatas angan-angan. However, life doesn't care. It is freaking expensive already and approaching 'Lebaran' just makes it a bit worse. Gadis rantau dan obligation untuk mudik yang sayangnya tidak diikuti dengan keramahan ongkos pulang ke kampung halaman. *Heavy sigh*

So without further ado, saya berniat melepaskan (dengan amat sangat, SANGAT, berberat hati) buku trilogi favorit. Salah satu trilogi fiksi non-fantasy dan non sci-fi terbaik yang pernah saya baca. Tom Rob Smith, is indeed, a great writer. Dipikir-pikir saya sebenarnya cenderung enggan menjual buku-buku ini karena terlanjur sayang... tapi masalahnya―di luar alasan kemiskinan―sebagai anak kos yang hidup hanya bermodal sepetak kamar dan sebuah lemari kecil, saya memang mengalami krisis ruang penyimpanan barang.

Thus... I decide to let them go. Let them get a new home. New owner.
All three of them.

Child 44

Buku pertama dari trilogi ini sekaligus novel debut Tom Rob Smith. Saya nggak menyangka sama sekali kalau ini karya perdana. Sebagus itu. Deskripsinya lancar dan cukup rinci tapi tidak ada kesan ambisius estetika.

Kondisi kaver depan

Kaver belakang, isinya pujian semua.

Secara umum, trilogi karya Tom Rob Smith ini berkisar pada kisah Leo Demidov, seorang anggota pasukan militer khusus Uni Soviet. Menurut saya, penuturan negara di dalam buku ini sangat... apa ya, proporsional? Sebagai pembaca, kita sudah mampu merinding membayangkan betapa tegangnya menjadi warga Uni Soviet di kala itu, tetapi masih cukup 'santai' untuk dapat dinikmati sambil goler-goleran tidak berfaedah. And this book is really good I kinda hope it will become another classic as the years pass by.

Saya paparkan ringkasannya deh:

"There is no crime." Stalin's Soviet Union strives to be a paradise for its workers, providing for all of their needs. One of its fundamental pillars is that its citizen live free from the fear of ordinary crime and criminals. But in this society, millions do live in fear... of the State.
Death is a whisper away. The mere suspicion of ideology disloyalty―owning a book from the decadent West, the wrong word at the wrong time―sends millions to the Gulags or to their executions. Defending the system from its citizens is the MGB, the State Security Force. And no MGB officer is more courageous, conscientious, and idealistic than Leo Demidov.
Kekuatan Tom Rob Smith dalam menyusun cerita, kalau berdasarkan sudut pandang saya, adalah bagaimana dia bisa membuat banyak hal yang terlihat seperti 'loose ends' bisa menyatu di babak terakhir. Membaca trilogi ini membuat saya beberapa kali berbisik pada diri sendiri, "Eh anjir ini kan yang di awal-awal itu..."

The Secret Speech

Lanjutan dari Child 44 dengan masih memberikan fokus utama pada Leo, tetapi kini ditambahkan eksplorasi terhadap kehidupan keluarga barunya. Saya tidak bisa banyak bercerita mengenai buku ini karena takut malah spoiler alert! untuk Child 44.

Desain kaver depannya harus saya akui: KEREN YAH.

Kaver belakang tidak ikut saya sertakan fotonya karena tulisan-tulisan yang tertera di sana hanyalah pengulangan pujian-pujian tentang Child 44. Barangkali penerbit tidak menyertakan sinopsis karena mereka, seperti saya, tidak mau membocorkan beberapa poin terkait buku sebelumnya lewat excerpt cerita. Namun saya pikir bagi pembaca yang belum sempat menyentuh Child 44 sekalipun, The Secret Speech bisa diikuti ceritanya dengan nyaman-nyaman saja.

Agent 6

Buku ketiga alias penutup trilogi ini. Menurut saya, sebagai sebuah pamungkas kisah trilogi, Agent 6 mampu menghasilkan cerita yang decent dan masih menarik untuk diikuti, sementara banyak di luar sana buku-buku yang sekuel penutupnya lebih terasa seperti disappointment karena ampas (misalnya: Veronica Roth's Allegiant *cough cough*). Pokoknya baca sendiri dulu saja ya. Supaya paham. Hehehe.

Kavernya bernuansa putih lagi.

IMPORTANT NOTE:
Ketiga buku ini merupakan edisi berbahasa Inggris dan hardback. Iya, hardback. Alias hardcover, whatever you name it. Jadi seperti kitab suci buku ensiklopedia yang suka kita temui di perpustakaan sekolah gitu. Karena ini merupakan koleksi pribadi saya, jadi perawatannya terbilang baik karena yang pegang-pegang juga paling-paling saya sendiri (the perks of not having friends #102: barang-barang kamu nggak ada yang pinjam).

Saya berniat melepas mereka dengan harga Rp185,000 per buah, tapi kalau ada yang bersedia ambil langsung tiga-tiganya (berhubung trilogi), ada diskon jadi Rp480,000. Kondisi buku 87-90%. Pokoknya masih sangat layak baca dan barangkali malah bisa dikatakan lebih oke dari komik-komik di Gramedia yang segelnya sudah dilepas para pengunjung karena ingin numpang baca gratisan. Apalagi ini edisi hardback. Cukup susah lho mencarinya. Serius. Ditambah lagi kalau mau beli baru di toko buku mahal betul... satuannya bisa mencapai Rp400,000 bahkan lebih. Bahkan di situs Periplus, Child 44 edisi paperback saja harganya sudah Rp224,000 sendiri. Kray.

Harga Agent 6 edisi hardback yang baru. Kudu nangis.

Bagi kalian yang berminat, silakan kontak saya langsung via LINE dengan username chocolatefudgecake. Mohon maaf saya tidak melayani hal ini via Twitter, sehingga jika memang ada yang ingin ditanyakan, atau misalnya bermaksud minta foto-foto referensi tambahan, bisa lewat LINE message saja.

Harap dimaklumi jika mungkin masih tidak bisa semurah buku obral di Big Bad Wolf karena... saya tidak punya sponsor. *Dilempar ATM Bank Mandiri*

Please adopt my books!

UPDATE 10/06/17:
SOLD. Ketiga buku ini sekarang sudah berpindah pemilik!
Terima kasih kepada teman-teman yang bersedia membantu menyebarkan informasi dan mengontak saya. *Peluk satu per satu*
z. d. imama

Friday, 2 June 2017

Recommendation Olympics: Shoujo Manga Edition


Ooookay. Berhubung di blog post sebelumnya yang mengupas review singkat tentang Akatsuki no Yona, saya sudah menjelaskan apakah 'shoujo manga' itu, jadi saya tidak usah membahasnya lagi. Ngomong-ngomong, "Recommendation Olympics" ini sesungguhnya bukan merupakan kompetisi apa pun. Cuma berhubung kedengeran keren secara bahasa Inggris maupun Indonesia dan saya adalah manusia dangkal, itulah yang saya pilih untuk melabeli serial postingan edisi perdana ini. *Dilempar timun suri.*

Judul-judul shoujo manga yang saya masukkan dalam Recommendation Olympics, meskipun ada nomor urutnya, bukan berarti saklek bahwa yang paling bawah jauh lebih jelek kualitasnya dibanding yang teratas. Nggak kok. Tetapi urutan puncak memang lebih memiliki... apa ya, cengkeraman impresi dan kesan yang sangat kuat saja dalam diri saya pribadi. Semacam, "You guys are good but this one is the King for me," gitu.

Langsung mulai saja, yuk.

10. Mint-na Bokura (We Are Twins) - Yoshizumi Wataru.

Kembar fraternal dampit―kembar sepasang cewek dan cowok, kalau yang 'dempet' itu istilahnya kembar siam―, Minamino Maria dan Minamino Noel sangat akrab dan tidak bisa dipisahkan sejak kecil, sampai-sampai Noel yang laki-laki mengidap sister complex. Ketika Maria naksir seorang cowok hingga minta pindah sekolah ke SMP Morinomiya agar perjalanan romansanya menjadi lebih mudah, Noel yang overprotektif pun menyusul saudara kembarnya ke sekolah berasrama tersebut. Namun sayangnya slot untuk murid laki-laki sudah penuh. Tidak ada lagi kamar di asrama cowok yang tersisa. Menolak menyerah, Noel pun rela menyamar sebagai perempuan demi bisa mendaftarkan diri sebagai murid baru di SMP Morinomiya! Kehidupan mereka berdua di sekolah, lika-liku persahabatan Noel dengan Sasa Ryuujiace klub basket yang keren tapi maniak mancing ikan, dan insiden-insiden konyol yang terjadi akibat kesalahpahaman orang-orang yang menyangka Noel perempuan membuat serial ini sangat asyik dinikmati.

Ringan. Seru. LUCU BANGET.

Tiga hal itu merupakan kesan-kesan terkuat saya ketika membaca serial ini. Ngakak parah, sumpah. Kadang-kadang saya ketawa terlalu keras dan lama sampai sakit perut. Panjang cerita yang hanya 6 volume membuat Mint-na Bokura jadi selingan manis yang tepat porsi. Sebelum kisahnya berubah cheesy, eh sudah tamat. Oh ya. Nggak usah terpesona sama Sasa Ryuuji, deh. Pokoknya nggak usah repot-repot.

9. Heroine Shikkaku (No Longer Heroine) - Kouda Momoko.

Serial yang dibukukan dalam sembilan jilid ini langsung menarik perhatian saya dari bab pertama. Premisnya adalah bagaimana Matsuzaki Hatori, seorang gadis SMA yang menyukai teman sepermainannya sejak kecil, Terasaka Rita, merasa bahwa dirinya adalah 'tokoh utama' dari sebuah kisah percintaan remaja. Nah, sebagai 'tokoh utama', Hatori beranggapan bahwa semestinya dia dan Rita sudah ditakdirkan untuk bersama dan berpacaran. Namun ternyata... kenyataan tidak semanis angan-angannya. Hatori gagal menjadi seorang heroine yang dia khayalkan! Jangan-jangan dia cuma tokoh figuran numpang lewat? Waduh?!

Saya berkali-kali tertawa membaca komik ini. Walau kadang tawa saya bercampur rasa kasihan pada Hatori yang sering apes melulu, tanpa saya sadari di tengah cerita, pembaca mau tidak mau bersimpati dan mendukung 'perjuangan' dia menggapai cintanya. Ide 'failed main protagonist' yang terbilang cukup segar sekaligus 'mengejek' tipikal shoujo manga genre romance ini, menurut saya, adalah daya tarik terbesar Heroine Shikkaku. Apalagi eksekusinya terbilang cukup oke. 

8. Shinshi Doumei Cross (The Gentlemen Alliance Cross) - Tanemura Arina.

Otomiya Haine bersekolah di Teikoku Gakuen, SMA elit yang mana murid-muridnya terbagi dalam sistem kasta: Bronze, Silver, Platinum, dan Gold. Anggota OSIS harus berstatus minimal Silver, dan ketua OSIS disebut Koutei (Emperor; Kaisar) serta merupakan pemegang kasta Gold satu-satunya. Haine yang merupakan golongan Bronze berusaha mati-matian untuk bisa menjadi anggota OSIS karena dia naksir berat dengan Touguu Shizumasa sang ketua OSIS. Namun setelah berhasil mendapatkan posisi di antara anak-anak OSIS, Haine mulai menyadari bahwa Shizumasa bukanlah orang yang seperti ini dia bayangkan.

11 volume komik ini saya baca (secara online karena tidak diterbitkan di Indonesia) saat awal-awal SMA dan hingga sekarang masih berhasil mengaduk-aduk perasaan. Let me tell you: this series is not your regular school romance or drama tale. Lapisan-lapisan subplot serta konfliknya bertumpuk-tumpuk, hadir silih-berganti, dan cukup menguras hati, Wajar jika rasanya ada pikiran, "Masa sih yang begini tuh pengalaman hidup anak SMA???" melintas beberapa kali di benak pembaca.

Well done, Tanemura-sensei. Well done.

7. Aoharaido/Ao Haru Ride (Blue Spring Ride) - Sakisaka Io.

Yoshioka Futaba, tokoh utama serial ini, dikisahkan memiliki inferiority complex yang membuat dia merasa harus bisa fitting in dengan teman-teman sekelasnya di SMA setelah gagal mendapatkan circle/peers semasa SMP. At this point, she relates so much to me because I'm such a failure in building circles even now. Ternyata Futaba tidak disukai kawan-kawan SMP-nya karena dia berwajah manis (this is the part where I cannot relate), sehingga ketika bersikap feminin, banyak yang menganggapnya kecentilan. Futaba dikisahkan berjumpa lagi Mabuchi Kou, cowok yang sempat disukainya waktu SMP saat nama keluarganya masih Tanaka dan bukan Mabuchi. Kaget karena sikap dan karakter 'Tanaka-kun' yang sempat dia kenal kini berubah 180 derajat, Futaba pun berusaha mengenal ulang Mabuchi, dan di saat yang sama belajar untuk mengenal apa artinya pertemanan sebenarnya.

Baper banget baca komik ini. Sumpah. Some things hits too close to home, and sometimes I turned green with envy because at the end of the day Futaba managed to get what she wants in her youth and I was not. Walah jadi curhat... but anyway, komik yang totalnya 13 volume ini menyenangkan. Porsi romansanya juga tidak berlebihan dan believable untuk ukuran anak SMA.

Mabuchi Kou rambutnya menggoda untuk diacak-acak banget. Huft.

6. Omake no Kobayashi-kun (The Extra Kobayashi) - Morio Masami.

SMA Himawari kedatangan murid pindahan bernama Kobayashi Yamato, yang ditempatkan di kelas 1-A. Masalahnya... di kelas tersebut sudah ada tiga murid lain dengan nama keluarga sama: Kobayashi. Ada Kobayashi Fubuki si gadis ketua kelas yang bisa diandalkan, cool, dan terkesan tak kenal takut, Kobayashi Kengo atlet berbadan tinggi besar menjulang yang pendiam, serta Kobayashi Chihiro tukang usil dan biang kerok. Ketiga murid ini dianggap sebagai 'Segitiga Bermuda' oleh murid lain karena imej mereka yang cenderung sulit didekati dan diajak berakrab-akrab. Namun keberadaan Yamato yang polos, ceria, dan periang perlahan-lahan mulai mendekatkan mereka semua.

Saya sayaaaaaaang sekali dengan serial ini. Sudah pernah diterbitkan oleh m&c! dan saya mengoleksi  ke-16 volume komiknya. Andaikata punya kantong ajaib yang bisa muat banyak dan portabel, Omake no Kobayashi-kun jelas termasuk salah satu judul yang akan saya bawa ke mana-mana. Interaksi keempat Kobayashi sangat menyenangkan dibaca. Menghangatkan hati, pula. Kisahnya sangat manis dan tidak over-dramatic, konflik yang diciptakan pun realistis. Sepanjang membaca, saya sering sekali tersenyum-senyum sendiri. Fangirling. Apalagi sama Kobayashi Kengo yang atletis dan nggak banyak omong itu. Tapi sekalinya dia ngomong langsung bikin deg-degan. 

Alamakjan. Ampun, Kengo, ampun.

5. Kanata Kara (From Far Away) - Hikawa Kyoko.

Sudah diterbitkan di Indonesia oleh Elex Media Komputindo―bahkan sekarang sudah dicetak ulang―dengan judul "Dunia Mimpi". Mengisahkan Tachiki Noriko, seorang siswi SMA, yang akibat suatu insiden sepulang sekolah, secara misterius terlempar ke dunia misterius di mana sihir dan monster-monster berada. Di tengah panik bercampur kebingungannya, Noriko bertemu Izark Kia Tarj, seorang pengembara yang ternyata merupakan reinkarnasi Sky Demon (mau nulis 'Iblis Langit' tapi kesannya kok ya jadi kurang greget). Izark yang lambat laun tidak tega membiarkan Noriko tersesat sendiri di dunia yang asing, akhirnya menerima keberadaan Noriko di dekatnya. Mereka berkelana bersama-sama, dan pelan-pelan mulai diketahui penyebab hadirnya Noriko ke dunia tersebut. 

Aduh. Serial ini. Aduh. Perkembangan karakter-karakternya sangat menyenangkan untuk disimak dan chemistry antara Noriko dan Izark bagus banget. Meleleh deh melihat mereka berdua, huhuhu. Hikawa-sensei juga terhitung memperhatikan detil-detil kecil yang sering dilupakan orang, misalnya rambut Noriko yang tadinya pendek mulai tumbuh panjang sedikit demi sedikit seiring berjalannya cerita. Artwork terbilang sangat konsisten di keseluruhan 14 volume buku. Kita nggak akan bisa nyeletuk iseng, "Lah si A kok tampangnya sekarang begini hahaha..."

Baca deh, Kanata Kara. Mampirlah ke toko buku terdekat lalu beli rilisan ulang serial Dunia Mimpi. Nggak akan menyesal kok.

4. NG Life - Kusanagi Mizuho.

Kalian percaya reinkarnasi? Itu betulan ada, lho. Hanya saja, demi kelancaran dan kebahagiaan dalam hidup baru, kebanyakan dari manusia tidak memiliki ingatan tentang kehidupan mereka sebelumnya. Tapi bagi Saeki Keidai tidak begitu. Dia terlahir di masa kini dengan membawa seluruh memori dari kehidupan masa lalunya sebagai seorang gladiator di Pompeii bernama Sirix Lucretius Fronto, yang meninggal akibat bencana meletusnya gunung Vesuvius tahun 79SM dalam kondisi terpisah dari istrinya, Serena. Masalah muncul ketika reinkarnasi Serena kembali hadir di hari-hari Keidai... tetapi selain tak memiliki ingatan masa lalu, Serena kini lahir sebagai cowok SMP bernama Ujoh Yuuma. Sementara sahabat terbaik Sirix di Pompeii, Loleus, justru bereinkarnasi sebagai Serizawa Mii, cewek teman sekelas Keidai. Keidai pun mau tidak mau menjalani hari-hari 'gila sendiri' akibat dihantui memori masa lalu yang membayangi masa kininya.

I was in the first chapter when I had my first stomachache from laughing too much. Saya berulang kali harus berhenti, mengusap air mata yang keluar akibat ngakak kebanyakan, lalu meneriakkan "GOBLOOOOOOSSSSS!!" sendirian ke udara. Ke dalam kamar yang nggak ada siapa-siapa kecuali saya. Sekacau itu. Selucu itu. Sekonyol itu. Sebego itu. Adegan Keidai terbayang-bayang istrinya setiap kali melihat wajah Yuuma amat-sangat-super priceless. Adegan-adegan manis ala shoujo manga yang membuat jantung dag-dig-dug-der berkecamuk juga digambarkan dengan sangat halus, natural, dan cantik.

Total serial ini ada 9 volume. Pernah diterbitkan oleh m&c! sampai tamat, tapi sayangnya ketika itu saya belum menyadari betapa luar biasanya komik NG Life. Kalian yang ingin baca, ada kok scanlation-nya di situs-situs komik online. Saya saja bacanya via situs.

Tebak kira-kira nasib Keidai yang terkutuk ini bagaimana?

3. Daa! Daa! Daa! (UFO Baby) - Kawamura Mika.

Kouzuki Miyu terpaksa dititipkan di rumah sahabat lama orang tuanya, biksu Saionji Houshou, karena ayah dan ibunya yang bekerja di NASA harus pindah ke Amerika (Miyu tidak bisa ikut karena alasan pendidikan). Meski dengan berat hati, Miyu pun bersedia dititipkan. Tapi tak lama kemudian biksu Saionji harus pergi ke India dalam waktu lama dan meninggalkan Miyu berdua dengan putra semata wayangnya―sekaligus teman sekelas Miyu di sekolah―, Saionji Kanata. Saat hari-hari mereka mulai terasa awkward karena hanya berduaan, pada suatu malam, Miyu dan Kanata mendapati ada sebuah UFO terdampar yang berisikan seorang bayi alien dan pengasuhnya, Wannyaa. Sedang panik-paniknya, bayi alien berkuatan ajaib yang dipanggil Ruu itu justru menyebut Miyu sebagai Mama dan Kanata sebagai Papa! Alhasil mereka berdua pun mengasuh Ruu bersama-sama, dibantu Wannyaa, sembari menunggu datangnya pertolongan dari planet Otto, tempat para alien ini berasal.

Dulu saya rajin sekali nonton versi animenya sewaktu ditayangkan RCTI hari Minggu pukul enam pagi. BAYANGKAN. Sungguh motivasi untuk bangun awal di hari libur. Saionji Kanata pun tergolong cowok-cowok fiktif gebetan saya edisi early bird. Sebelum sempat naksir cowok di sekolah―yang beneran manusia hidup―saya sudah terkesima pada Kanata...

So that explains my sad, good-for-nothing, love life.

Daa! Daa! Daa! ini salah satu longtime favorite. Setiap kali buka komiknya pasti tenggelam lagi dalam rasa sayang kayak pas lagi baca-baca SMS lama mantan terindah. Saking sukanya, gara-gara pas Daa! Daa! Daa! diterbitkan Elex Media Komputindo di awal tahun 2000-an saya belum terlalu paham komik Jepang, setelah dewasa saya bela-belain berburu buku secondhand serial ini. Hanya 9 buku, kok. Tidak panjang-panjang amat.

2. Akatsuki no Yona (Yona of the Dawn) - Kusanagi Mizuho.

Sebagaimana yang sudah saya jabarkan sambil setengah fangirling di postingan ini, Akatsuki no Yona adalah current favorite. SAYA. SUKA. BANGET. SERIAL. INI. Panjang, sudah lebih dari 20 volume buku dan belum selesai, tapi terasa sekali kalau bukan karena extension, melainkan memang main plot-nya besar dan megah. Saya pernah menghabiskan malam-malam tidak bisa tidur cuma gara-gara kepikiran dengan lanjutan ceritanya. Harapan saya cuma satu, semoga ending dari saga ini bisa memuaskan dan nggak meninggalkan kesan "Yaelah gitu doang". Nggak kayak Naruto atau Bleach, maksud saya.

AND FOR GOD'S SAKE, THE MAN CALLED SON HAK IS JUST SUBHANALLAH BEYOND BELIEF.

Kusanagi Mizuho, harus diakui, punya kualitas karya-karya yang terbilang konsisten bagus. Menurut saya pribadi saja ada dua judul dari dia yang layak masuk daftar Recommendation Olympics. Penasaran sih dengan perkembangan dia sebagai manga artist ke depannya... apalagi jika sudah berhasil menamatkan Akatsuki no Yona.

1. Card Captor Sakura - CLAMP.

This is it. This is IT. The number one longtime favorite. There are so many things I love about this manga series to the point where I do have numerous complaints regarding its own anime adaptation. Card Captor Sakura menceritakan tentang Kinomoto Sakura, gadis kecil yang penuh energi dan jago olahraga tapi bego di matematika (yeah, so am I). Tanpa sengaja Sakura membuka segel sebuah buku sihir misterius bertuliskan The Clow pada sampulnya, dan membebaskan kartu-kartu sihir Clow Card ke dunia. Clow Card ini memiliki kekuatan. Mereka bisa membuat onar di kota Tomoeda, sehingga dibantu penjaga buku, Cerberus―yang dengan seenaknya disingkat menjadi 'Kero'―, Sakura berjuang kembali mengumpulkan kartu-kartu yang lepas dan mengembalikannya ke dalam buku. Tentu saja sambil ditemani sahabat terbaik sekaligus sepupunya, Daidouji Tomoyo, yang berambisi mengabadikan aksi-aksi Sakura dengan kamera video miliknya.

I have so much to say about Card Captor Sakura. Oh, God. Komik ini adalah shoujo manga pertama yang saya kenal. Komik ini pula yang memperkenalkan saya arti keikhlasan dalam naksir tokoh fiktif. You guys know Kinomoto Touya, Sakura's older brother?  Ya itu dia cinta (2D) pertama saya. Kepribadian Touya yang sehari-hari bandel, usil, jahil, kalau ngomong suka nyebelin, tapi ternyata penyayang dan selalu bisa diandalkan benar-benar bikin klepek-klepek.

Apalagi tampilannya begini:

Katanya kelas 2 SMA. Tapi pas saya SMA nggak ada mas-mas yang kayak gini...

Dari Card Captor Sakura juga, saya mulai belajar bersentuhan dengan konsep-konsep #LoveWins dan berbagai preferensi seksual in the least sexual way possible. Pengenalan terhadap gender dan preferensi seksual yang sangat subtle dan ramah anak-anak ini menurut saya, penting. Tapi ya CLAMP suka terlalu permisif soal ini sih... coba saja tengok interaksi antara Sasaki Rika (teman sekelas Sakura) dengan wali kelasnya, Terada Yoshiyuki.

Huhuhu.

Demikian Recommendation Olympics: Shoujo Manga Edition versi saya. Cukup segini saja karena kesepuluh judul sudah disebutkan. Saya juga sudah nyerocos panjang. Ada nggak shoujo manga lain yang kalian gemari? Atau barangkali kebelet mengomentari judul-judul yang terpapar di atas ini? Silakan saja lho!

 z. d. imama

Wednesday, 31 May 2017

A short rant about Detective Conan, which, as a series, is not short at all


Tempo hari saya mengobrol dengan seorang teman (aspek hidup yang sangat jarang dimiliki penulis blog ini―red.) di suatu family restaurant di Pacific Place. Perbincangan ini, entah bagaimana awalnya, menyerempet ke arah serial-serial komik Jepang superpanjang, dan berbuah teman saya nyeletuk dengan tampang setengah sebal, setengah geli, "Eh, aku udah ngikutin Conan sejak dua puluh tahun lalu ya berarti? Aku masih kelas lima SD loh pas pertama kali baca."

Sekadar heads-up, usia saya dan sang teman terpaut cukup jauh.

But then again, I think we agree that twenty years are not a short amount of time. Saya sendiri mengenal serial Detektif Conan ketika masih kelas tiga SD, saat kebetulan berkunjung ke tempat saudara jauh yang mempunyai koleksi komiknya. Apesnya, sentuhan perdana saya dengan serial ini adalah volume 19 dan 4, di mana dalam volume empat terdapat kasus ksatria baju zirah yang berlatarkan sebuah museum nyaris tutup.

Detektif Conan Chapter 30 (Volume 4), "The Armored Knight" 

Kebayang nggak anak kelas tiga SD baca sebuah komik untuk pertama kalinya dan disuguhi panel se-wow itu? Alhasil saya 'dihantui' gambar tadi hampir selama satu minggu penuh. Semenjak hari bersejarah tersebut hingga yaaah... lulus SD lah, saya sampai mengasosiasikan serial Detektif Conan bukan sebagai serial detektif, melainkan serial horor. Apalagi waktu itu belum kenal serial Detektif Kindaichi (yang 27 volume original series, ya, bukan sekuelnya yang sekarang keluar lagi).

Terus terang saya suka Detektif Conan. Banget. Bahkan saya hapal kasus apa terjadi di volume keberapa, setidaknya sampai volume 45 rilis. Habis itu rasa-rasanya tidak ada kasus yang layak direkam secara khusus dalam ingatan (bagi saya lho, ya) KECUALI episode-episode plot utama yang langsung melibatkan Organisasi Berbaju Hitam (OBH―iya ini singkatannya memang disengaja) dan tidak mengandung fake leadPada suatu titik tertentu setelah volume 40, saya perlahan menyadari bahwa formula kasus-kasus lama mulai sering di-recycle untuk kasus filler yang lain dan keberhasilan trik pembunuhan mulai banyak tergantung pada faktor keberuntungan. Bahkan kecurigaan Conan terhadap tersangka sering terletak pada hal-hal remeh-temeh nggak penting yang membuat saya ingin menjerit emosi, "Yaudah sih emangnya manusia nggak boleh ya mendadak kepengin makan tanpa cuci tangan atau garuk-garuk pantat terus lanjut ngupil????"

Detektif Conan Chapter 178 (Volume 18): "Code Name: Sherry"

Jika ditanya tokoh favorit, sepertinya saya bisa menjawab yakin: Haibara Ai. Kemungkinan besar karena kami sama-sama ngantukan dan jiwa kami berdua cenderung diliputi kegelapan. Terus terang saya agak marah kepada Gosho Aoyama karena keberadaan Ai seperti sengaja tidak dimaksimalkan untuk mem-boost kecepatan laju alur cerita, padahal dia muncul kali pertama di volume 18 dan pada volume 19 sudah ketahuan bahwa Ai merupakan adik dari Miyano Akemi yang terbunuh di volume 2! Coba, Conan sekarang volume berapa? Ini pasti gara-gara tim redaksi dan editornya Shogakukan yang nggak mau Detektif Conan cepet tamat. Hih.

Saya kagum sekali dengan sistem waktu di kisah Detektif Conan. Zaman berubah dan teknologi berkembang tapi umur tokoh-tokohnya dan tingkat pendidikannya gitu-gitu aja. Ada nggak sih di antara kalian semua yang cukup kurang kerjaan untuk menghitung:

  • Berapa kali musim semi, panas, gugur, datang silih berganti
  • Selaras dengan poin sebelumnya, berapa kali Valentine dan Natal dialami
  • Berapa kali Ran ikut ujian sekolah
  • Berapa kali Ran disinggung lagi persiapan, sedang, atau habis ikut turnamen karate
  • Berapa kali Shinichi bilang, "Aku belajar (masukkan suatu skill) di Hawaii, diajari ayahku."
Bahkan kalau diingat-ingat, ada beberapa peralatan canggih dari Profesor Agasa yang mau tidak mau harus 'tenggelam dihempas masa'. Misalnya seperti mesin fax portabel berbentuk kotak makan (lauknya asli) atau telepon selular berbentuk anting. Tapi ya gitu, biarpun dulu di komik Conan ada orang mainan pager dan sekarang di mana-mana sudah pakai smartphone dan selfie bermodal tongsis, semua orang tetap hidup abadi dengan usia tidak bertambah bagaikan bangsa Elf.

Volume pertama rilis di Jepang tahun 1994, kayaknya.
Hayo siapa yang belum lahir?

Kadang terpikir juga di benak... adakah di antara kalian yang cukup niat (dan sekaligus kurang kerjaan pula) untuk merangkum sebenarnya bagian-bagian penting di Conan itu seharusnya cuma makan berapa volume komik sih? Serius. Buang saja kasus-kasus filler nggak relevan, episode fanservice yang nggak penting (ini biasanya dibikin untuk shipper Shinichi-Ran), lalu rangkum cerita-cerita seputar plot utama, kasus-kasus tertentu yang trik serta ceritanya terbilang masih baru, serta episode yang memuat petunjuk signifikan saja. Berapa duit dari ongkos total pembelian sekian puluh jilid buku yang mestinya bisa dihemat pembaca?

CONFESSION: Sejak volume 55 ke atas, saya masih rutin beli Detektif Conan sudah bukan karena memang menantikan kelanjutan kisahnya. Tapi lebih ke pertempuran harga diri. Semacam ingin meneriaki tumpukan komik di lemari dengan, "UDAH NGUMPULIN SEJAUH INI! GUE AKAN KEJAR LO SAMPE TAMAT! LIAT AJA!"

And please, please please, don't get me started on Detective Conan movies.

Pokoknya, cara paling direkomendasikan supaya bisa menyaksikan film-film Conan versi bioskop dengan seru, nyaman, dan riang gembira adalah mematikan segala unsur kecerdasan, pengetahuan, common sense, dan logika kita. Conan yang notabene berpenampilan anak kecil kelas 1 atau 2 SD masuk jalan tol naik skateboard turbo kebut-kebutan sama penjahat? Nggak apa-apa! Conan terjun bebas dari atas pesawat? Nggak apa-apa! Conan yang diceritakan buta nada tiba-tiba, demi mengungkap kasus, bisa menyanyikan lagu dengan pitch sangat akurat? Nggak apa-apa!

Woles is, always, the key.

Tolong bantu sampaikan pertanyaan ini ke Pakdhe Gosho, ya.

Berhubung takut malah makin baper kalau ngomelnya kepanjangan, saya sudahi saja sampai di sini. Jadi fangirl serial yang panjangnya amit-amit macam Detektif Conan tuh rasanya pedih, guys. *Berpelukan dengan fans One Piece dan HunterXHunter.*

z. d. imama

Monday, 22 May 2017

Lewat Tengah Malam: one (simple) book review


Saya mengenal nama Sweta Kartika belum lama. Barangkali semenjak 2013 (atau 2014?) ketika Shani Budi dan Mbak Ines bekerja sama dengan Sweta untuk membuat webcomic superhero berjudul NusantaRanger. Lewat NusantaRanger, yang ketika serialnya berjalan selalu rajin saya ikuti dengan penuh semangat, saya mulai mengenal karya-karya Sweta yang lain seperti Grey & Jingga―bukunya bisa dibeli di sini dan di sini, Wanara―sudah terbit dua volume, bisa didapatkan lewat sini dan sebelah sini, dan masih banyak lagi... tapi saya nggak baca judul-judul lainnya karena masih belum sempat ngulik.

Oktober 2016 lalu, melalui akun Twitter-nya, Sweta mengumumkan akan merilis sebuah buku khusus di acara Mangafest Jogjakarta. Berhubung saya belakangan berdomisili di area Jakarta sebagai gadis rantau, saya titip pada seorang teman yang memang hidupnya berkubang di Jogja untuk membelikan satu eksemplar. Mumpung katanya dia juga mau berkunjung ke acara tersebut. Sekalian, lah.


Sebenarnya saya berharap supaya sang teman mengirimkan buku ini ke Jakarta, makanya dengan sengaja saya transfer nominal yang cukup. Tapi ternyata... seluruh sisanya diambil sebagai 'uang lelah'. Hahaha. Ya sudahlah nggak apa-apa. Selepas acara, buku saya pun masih berada dalam cengkeraman teman.

Waktu berlalu.

Syukurlah pada acara Ennichisai 2017 yang digelar tanggal 13-14 Mei, teman saya mengatakan kalau dia akan ke Jakarta dalam rangka berpartisipasi cosplay dan mengajak bertemu untuk serah terima barang. A-KHIR-NYA! Setelah tertunda berbulan-bulan, saya pun bisa menyentuh buku ini, membacanya, dan membuat review terkait di blog pribadi karena kalau nggak begitu blog saya bisa nggak ada isinya sama sekali.

"Lewat Tengah Malam" adalah kumpulan kisah cerita misteri yang dihadirkan dalam bentuk sebuah buku sederhana setebal 58 halaman (+2 halaman kaver dalam dan copyright). Beneran sederhana, sebab hanya dijilid dengan staples biasa. Semacam majalah Bobo atau album Donal Bebek, gitu. Lucu deh. Ilustrasi sampul depan bisa dilihat sebagaimana gambar pembuka postingan di atas, sedangkan untuk sampul belakang adalah seperti ini:

Itu apa ya yang netes-netes...

Secara keseluruhan, Lewat Tengah Malam terdiri dari delapan kompilasi cerita pendek, satu cerita bergambar, dan satu komik. Judul-judul cerita pendek tersebut jika diurutkan berdasar daftar isi adalah

  1. Lima Malam di Rumah Bengkot,
  2. Lukisan Ny. Telasih,
  3. Misteri Sepotong Kepala,
  4. Tangisan Bayi di Kolong Ranjang,
  5. Roh-Roh Halus Itu,
  6. Misteri Bus Malam,
  7. Maut di Tanah Pasir, dan
  8. Suara-Suara dari Salemba.
Semua cerita pendek tersebut dilengkapi dengan ilustrasi-ilustrasi yang membantu menjelaskan cerita dan sebagai pendamping judul. Supaya lebih jelas, saya sertakan foto halaman pertama deh.

Saya selalu heran dengan yang sanggup gambar seram. Nggak ketakutan sendiri gitu?

Cerita-cerita pendek dalam Lewat Tengah Malam cukup enak dibaca. Beberapa kisah memang tidak terlalu seram (saya sedikit curiga hal ini mungkin disebabkan oleh kekurangan penulis dalam penyampaian narasi), namun ilustrasi-ilustrasi Sweta yang top-notch selalu sukses memberikan boost yang mampu membuat pembaca merasa cukup 'terganggu'. Terlebih untuk cergam Misteri Ladang Tandus di Kaki Gunung Tengkorak dan komik Setan Ketandan, waduh... saya sempat merinding berat di beberapa adegan tertentu.

Secara umum, Lewat Tengah Malam cukup bagus sebagai bacaan iseng-iseng di kala senggang. Hanya saja, beberapa kesalahan EYD dalam penulisan narasi terasa agak mengganjal pemandangan dan mengurangi kenyamanan membaca. Kesalahan-kesalahan ini antara lain peletakan awalan dan kata depan 'di', penempatan tanda titik dan tanda koma, atau typo. Sayang, sih. Semoga untuk rilisan berikutnya, hal-hal semacam itu bisa lebih mendapatkan perhatian khusus.

(Kak Sweta kalau butuh proofreader, bisa hubungi saya di coldbutterbeer@gmail.com lho. Hehehe. #ShamelessSelfPromotion.)

Sebagai penutup, saya lampirkan ilustrasi pembuka komik Setan Ketandan yang menjadi judul terfavorit di Lewat Tengah Malam.  Komik sembilan halaman ini vibe mencekamnya nggak main-main, apalagi halaman ketujuh dan kedelapan berhasil membuat saya kaget sampai-sampai melemparkan buku di tangan ke seberang ruangan.

Kuburan kalau digambar sedemikian rupa kok creepy banget...

Apakah ada di antara kalian yang juga memiliki buku ini?
Atau mungkin karya Sweta Kartika lainnya?

z. d. imama