Sunday, 25 June 2017

How to Respond to Questions from Relatives on Eid


Selamat Hari Raya Idulfitri, teman-teman!

Terima kasih sudah bersedia meluangkan waktu untuk membaca isi dari blog saya yang kebanyakan nggak ada pentingnya ini. Hahaha. Berhubung sekarang hari Lebaran (dan saya belum mudik sehingga nganggur di kos), saya akan mencoba memberikan tips-tips sederhana mengenai cara-cara mengatasi pertanyaan sekaligus komentar―yang berbau ikut campur dan kadang terasa menyudutkan―dari saudara-saudara jauh saat acara kumpul keluarga besar ketika hari Idulfitri.

Lebaran, dengan budaya mudiknya, merupakan ajang bagi anggota extended family yang biasanya tidak saling bertemu menjadi berinteraksi dan saling kenal. Pertemuannya pun dalam setahun hanya bisa dihitung jari. Kalau bukan di momen Idulfitri yaa... Natal. Atau kegiatan lain yang melibatkan banyak orang (misalnya arisan keluarga besar). Tapi masalahnya, saudara-saudara jauh bermodal kepretan DNA dari eyang/leluhur yang mendadak mendekat ini sering―meskipun tidak selalu―tidak tahu diri sadar bahwa mereka jarang sekali berhubungan dengan kita dan hampir tidak punya andil besar pada suka-duka hidup kita. Banyak di antara mereka yang memilih menanyakan atau mengomentari hal-hal yang termasuk pilihan pribadi, prinsip, bahkan kadang-kadang memerintahkan sesuatu.

Hal-hal yang paling sering terkena serangan komentar dan pertanyaan kerabat jauh ketika Idulfitri kurang lebih sebagaimana tertera di bawah ini:

  • "Kapan lulus?" dan segala variasinya, khusus bagi mahasiswa yang sedang mengerjakan skripsi.
  • "Udah ada pendamping wisuda belum?" sebagai variasi dari "Masih jomblo atau udah punya pacar?" untuk mahasiswa-mahasiswa yang sudah lulus sidang skripsi tapi belum upacara wisuda.
  • "Lho, belum kerja?" yang biasanya ditujukan kepada lulusan universitas atau akademi yang masih bergulat mencari pekerjaan, atau yang memang memutuskan untuk mencari nafkah dengan cara non-kantoran (misalnya berjualan barang secara online).
  • "Kapan nikah?" dan segala repackaged version-nya, biasanya sudah mulai dilontarkan ke anak-anak perempuan yang sudah memasuki usia 20 tahun ke atas (kalau laki-laki saya nggak tahu karena nggak ngalamin), cenderung makin gencar dan makin sadis seiring bertambahnya waktu.
  • "Kapan punya momongan?" yang kerap digunakan untuk mencecar pasangan-pasangan yang sudah menikah tapi belum punya anak, memang menunda punya anak, atau memilih untuk tidak punya anak. 
  • "Kapan nambah?" ini bukan tentang nambah makan, tetapi menambah jumlah anak. Ya tentu saja sasarannya adalah pasangan suami-istri yang anaknya hanya satu. 
  • "Mainannya lucu, buat anakku satu ya?" adalah pertanyaan sekaligus permintaan ngelunjak yang tidak jarang dicetuskan oleh kerabat jauh kepada kita kalau mengoleksi barang-barang seperti Funko, Gunpla, action figure, atau sejenisnya.
Jika ada contoh pertanyaan lain, silakan ditulis di kolom komentar sebagai submission!

Inner me: "LEAVE. ME. ALONE!!"

Bagaimana cara untuk men-tackle pertanyaan-pertanyaan di atas? Ada beberapa alternatif yang bisa dipilih, tetapi efektivitas setiap opsi tidak bisa ditentukan karena yaaah... ngefek-nggaknya ke setiap orang kan beda-beda. Silakan putuskan sendiri siasat mana yang akan kalian gunakan ya!

- The "Senyumin Aja" Strategy

Nggak usah dijawab. Nggak usah ngomong apa-apa. Pokoknya senyum! Jika memungkinkan, saat kalian tersenyum manis kepada pihak penanya, lakukan sambil pindah dari posisi semula ke tempat lain yang jauh dari jangkauan suara dan tangannya. Sehingga sikap ini merupakan silent version dari, "No, I am not going to answer this. Bye."

- The "Jawab Asal-Asalan" Strategy

Ingin meladeni? Ingin menjawab? Tapi juga ingin sedikit rese? Bisa pilih metode menjawab ngasal. Sewaktu ditanya, "Kapan kawin?" misalnya, kalian bisa jawab "Minggu depan kali ya, mumpung bulan Ramadan sudah selesai". Atau justru mendapat pertanyaan, "Pacar kamu mana kok nggak pernah dikenalin"? Tenang. Coba bilang, "Lho, orangnya ada di sini kok," dan biarkan mereka menebak-nebak siapa di antara keluarga besar yang diam-diam kalian kencani (padahal fiktif).

- The "Serangan Balasan!" Strategy

Jika kalian termasuk orang-orang yang paling tidak bisa merasa dipojokkan, ditindas, atau dicampuri urusan hidupnya, tampaknya siasat serangan balik ini cocok untuk kalian. GO FULL OFFENSIVE, PALS! Sebagai contoh, ketika kalian mendapat pertanyaan, "Kamu kok nggak lulus-lulus kuliah?" dari saudara yang kebetulan punya anak dengan usia di bawah kalian, bisa membalas dengan, "Ya minimal saya keterima di kampus bagus, kalau (masukkan nama anak si penanya) kan belum tentu". Kalian dapat komentar, "Nggak usah terlalu pilih-pilih jodoh"? Santai. Bisa dijawab, "Kalau saya nggak milih-milih, nanti kehidupan rumah tangga saya susah kayak Om/Tante". Koleksi mainan kalian diminta satu oleh kerabat dengan dalih untuk anaknya? Jangan panik. Bisa katakan, "Miskin ya sampai nggak sanggup belikan mainan untuk anak sendiri? Kebanyakan anak?" sebagai serangan balasan. Tapi harus diingat, strategi ini juga sangat efektif untuk membuat kalian jadi the black sheep of the family.

- The "Pura-Pura Sakit Tenggorokan" Strategy

Ini adalah siasat melarikan diri, alias cari aman. Kenakan masker sepanjang momen Lebaran. Berpura-puralah sedang sakit tenggorokan dan nggak sanggup ngobrol dengan orang-orang, niscaya kalian tidak akan harus repot-repot memberikan respon terhadap komentar dan pertanyaan mengganggu, bahkan tidak perlu turut berbasa-basi dengan semua orang. Cukup berikan sinyal yang menandakan bahwa kalian tidak bisa bicara, habis perkara!

Masker debu ya, bukan masker perawatan wajah...

Sudah memutuskan siasat mana yang akan diterapkan untuk Lebaran kali ini? Sekali lagi, selamat Hari Raya Idulfitri untuk kalian! Lebaran nggak Lebaran, yang penting ikut liburan!

z. d. imama

Monday, 19 June 2017

Japan Fest 101: Songs on Stage


Saya sudah cukup jelas menyatakan beberapa kali di blog ini bahwa saya adalah #BudakYapan, yang terbilang cukup akrab dengan produk-produk budaya dan kapitalisme mereka. Sebelum menjadi gadis rantau di area Jabodetabek, saya merupakan warga kota eks-karesidenan Surakarta yang relatif jauh dari hingar-bingar. Kehidupan remaja saya dihabiskan dengan jadi server tanpa upah di laboratorium komputer sekolah (yang selepas jam pelajaran beralih fungsi sebagai warnet), bolak-balik ke tempat persewaan buku dan video, ke bioskop setiap hari Senin karena ada promo Rp15,000, dan... mendatangi festival budaya Jepang yang diadakan SMA-SMA (serta kampus) lokal di kampung halaman.

Jika tidak salah ingat, saya mulai berkenalan dengan festival Jepang anak sekolah sekitar tahun 2007. Hingga tiba hari di mana saya berangkat exchange (dan kemudian disusul kuliah di luar kota), saya cukup sering menghadiri acara-acara serupa untuk menyadari sejumlah hal-hal tipikal, salah satunya lagu-lagu yang sering terdengar di sana.

Hence, I present:

#JapanFest101: Songs Performed on Stage Edition

Circa 2007-2012 untuk area Surakarta dan sekitarnya.

Guest band di festival Jepang SMA Negeri 1 Surakarta, "Sannin Party" ke-9

Acara festival Jepang sudah pasti diikuti dengan kompetisi band performance dan sejumlah bintang tamu untuk meramaikan acara. Entah kenapa, baik band yang mengikuti lomba maupun undangan, tampaknya punya beberapa lagu favorit yang hampir pasti dimainkan di panggung. Mungkin karena lebih gampang kali yah? Atau instrumen yang digunakan nggak butuh terlalu ribet? Tidak jarang dalam satu acara, ada lagu yang dibawakan hingga dua atau tiga kali oleh penampil berbeda. Sampai-sampai rasanya kalau lagu-lagu tersebut belum dimainkan, acara festivalnya kurang afdol. Tidak mabrur.

Berikut adalah beberapa lagu yang, hingga detik ini, ketika mendengar intro-nya saja saya sudah timbul hasrat mengangkat kedua lengan lalu jejingkrakan sendiri.

1. L'Arc~en~Ciel - Stay Away

(Alternative: Blurry Eyes, Ready Steady Go)
Pokoknya di rentang waktu tahun 2007-2012 tuh kalau sampai ada festival Jepang yang tidak melibatkan tiga lagu Laruku tersebut, bisa dibilang acaranya melempem. Apalah event perwibuan tanpa band dengan vokalis yang berambisi (dan berupaya semampunya) untuk meniru-niru teknik vokal Om Hyde?

Promotional video untuk Stay Away.

(*P.S: klik masing-masing judul untuk menonton video performance aslinya via YouTube jika kalian lupa―atau nggak tahu, tapi masa sih?―lagu-lagu ini tuh yang mana.)

2. Saint Seiya OP - Pegasus Fantasy

Sumpah saya baru tahu beberapa tahun belakangan bahwa original artist lagu ini adalah sebuah band metal bernama MAKE-UP. Sebelum itu ya hanya mengidentifikasi sebagai "Oh ini lagu opening anime Saint Seiya". Udah. So much for #BudakYapan, huh? Tapi terus terang, Pegasus Fantasy memang sangat seru jika dibawakan karena crowd pasti beramai-ramai ikut teriak, "Saint Seiya!!" saat bagian chorus.

Saya nulis postingan ini saja sudah kepengin headbang...

3. Asian Kung-fu Generations - Haruka Kanata

Of course. Haruka Kanata ini terbilang satu soundtrack Naruto yang paling kerap ditampilkan saat festival budaya Jepang anak sekolahan. Memang cukup 'meramaikan' dan catchy, ditambah lagi agak teriak-teriak jadi sekalipun si vokalis nyanyinya rada fales bisa disamarkan, sehingga wajarlah lagu ini dimainkan di sana-sini. Seingat saya, majalah khusus anime dan manga "Animonster" juga pernah memuat lirik lagu Haruka Kanata lengkap beserta terjemahannya. 

Pas opening-nya masih begini, Sasuke belum jadi cowok yang gampang dihasut

4. Do As Infinity - Fukai Mori

Vokalis cewek di band spesialis festival Jepang hampir bisa dipastikan pernah membawakan lagu ini. Bahkan beberapa pekan lalu, saat saya menghadiri Ennichisai 2017 di Blok M, masih ada performer yang memainkan Fukai Mori. Buset. Lagu abadi. Barangkali karena melodi lagunya tidak terlalu ribet jadi mudah dinyanyikan? Bisa jadi. Tapi sebagai pengunjung, saya pun cukup menyukai Fukai Mori karena bisa menonton sambil berdiri tenang tanpa perlu terbawa suasana yang menuntut lonjak-lonjak dan jejingkrakan.

Fukai Mori sempat jadi lagu ending untuk anime Inu Yasha

5. Wada Kouji - Butter-Fly

Opening Digimon Adventure, salah satu serial anime pertama yang saya kenal (dan sayangi bahkan sampai hari ini). Tipe lagu yang setiap kali didengarkan langsung jadi bersemangat. Saya memang punya personal attachment tersendiri dengan serial Digimon dan lagu-lagu soundtrack-nya. Sumpah, sedih banget rasanya ketika Wada Kouji, original artist dari lagu ini, dikabarkan meninggal dunia bulan April 2016 lalu karena sakit kanker. Nyesek asli. 

SO. MUCH. FEELS.

Satu hal yang paling bikin saya lumayan gemas adalah, kadang-kadang vokalis band yang sedang tampil lupa lirik lagunya (mungkin karena beda bahasa jadi sulit dihapalkan dan kebetulan darah wibu dalam diri sang vokalis kurang kental), lalu dengan sengaja mengarang bunyi-bunyian asal. Berharap nggak ada yang menyadari kali yah... Mungkin disangkanya, "Ah bahasa Jepang ini, salah ngomong juga nggak bakalan pada ngerti."

Padahal sebenernya penonton juga nggak sebuta itu lho...
 
Nah. Apa kalian punya contoh lagu-lagu lain yang hampir selalu bisa didengar di panggung festival budaya Jepang? Kata salah seorang teman saya sih, sekarang lagu-lagu ONE OK ROCK juga sudah mulai merajalela sebagaimana L'Arc~en~Ciel beberapa tahun silam. Saya tidak bisa mengecek kebenarannya karena sudah tak seaktif dulu lagi dalam menyambangi festival-festival, tapi kalau menurut dugaan saya yaa... lagu ONE OK ROCK yang sering dimainkan paling-paling Heartache, Wherever you are, atau The Beginning. Starter pack aja.

*Kabur sebelum dilindes pakai truk semen.*

z. d. imama

Saturday, 10 June 2017

Presenting... Quick Book Sale 2.0!!


Saya butuh THR.

Tapi sebagai anak kemarin sore di kantor yang belum berhak atas bonus hari raya yang didamba... ya apa boleh buat jika hal itu hanya sebatas angan-angan. However, life doesn't care. It is freaking expensive already and approaching 'Lebaran' just makes it a bit worse. Gadis rantau dan obligation untuk mudik yang sayangnya tidak diikuti dengan keramahan ongkos pulang ke kampung halaman. *Heavy sigh*

So without further ado, saya berniat melepaskan (dengan amat sangat, SANGAT, berberat hati) buku trilogi favorit. Salah satu trilogi fiksi non-fantasy dan non sci-fi terbaik yang pernah saya baca. Tom Rob Smith, is indeed, a great writer. Dipikir-pikir saya sebenarnya cenderung enggan menjual buku-buku ini karena terlanjur sayang... tapi masalahnya―di luar alasan kemiskinan―sebagai anak kos yang hidup hanya bermodal sepetak kamar dan sebuah lemari kecil, saya memang mengalami krisis ruang penyimpanan barang.

Thus... I decide to let them go. Let them get a new home. New owner.
All three of them.

Child 44

Buku pertama dari trilogi ini sekaligus novel debut Tom Rob Smith. Saya nggak menyangka sama sekali kalau ini karya perdana. Sebagus itu. Deskripsinya lancar dan cukup rinci tapi tidak ada kesan ambisius estetika.

Kondisi kaver depan

Kaver belakang, isinya pujian semua.

Secara umum, trilogi karya Tom Rob Smith ini berkisar pada kisah Leo Demidov, seorang anggota pasukan militer khusus Uni Soviet. Menurut saya, penuturan negara di dalam buku ini sangat... apa ya, proporsional? Sebagai pembaca, kita sudah mampu merinding membayangkan betapa tegangnya menjadi warga Uni Soviet di kala itu, tetapi masih cukup 'santai' untuk dapat dinikmati sambil goler-goleran tidak berfaedah. And this book is really good I kinda hope it will become another classic as the years pass by.

Saya paparkan ringkasannya deh:

"There is no crime." Stalin's Soviet Union strives to be a paradise for its workers, providing for all of their needs. One of its fundamental pillars is that its citizen live free from the fear of ordinary crime and criminals. But in this society, millions do live in fear... of the State.
Death is a whisper away. The mere suspicion of ideology disloyalty―owning a book from the decadent West, the wrong word at the wrong time―sends millions to the Gulags or to their executions. Defending the system from its citizens is the MGB, the State Security Force. And no MGB officer is more courageous, conscientious, and idealistic than Leo Demidov.
Kekuatan Tom Rob Smith dalam menyusun cerita, kalau berdasarkan sudut pandang saya, adalah bagaimana dia bisa membuat banyak hal yang terlihat seperti 'loose ends' bisa menyatu di babak terakhir. Membaca trilogi ini membuat saya beberapa kali berbisik pada diri sendiri, "Eh anjir ini kan yang di awal-awal itu..."

The Secret Speech

Lanjutan dari Child 44 dengan masih memberikan fokus utama pada Leo, tetapi kini ditambahkan eksplorasi terhadap kehidupan keluarga barunya. Saya tidak bisa banyak bercerita mengenai buku ini karena takut malah spoiler alert! untuk Child 44.

Desain kaver depannya harus saya akui: KEREN YAH.

Kaver belakang tidak ikut saya sertakan fotonya karena tulisan-tulisan yang tertera di sana hanyalah pengulangan pujian-pujian tentang Child 44. Barangkali penerbit tidak menyertakan sinopsis karena mereka, seperti saya, tidak mau membocorkan beberapa poin terkait buku sebelumnya lewat excerpt cerita. Namun saya pikir bagi pembaca yang belum sempat menyentuh Child 44 sekalipun, The Secret Speech bisa diikuti ceritanya dengan nyaman-nyaman saja.

Agent 6

Buku ketiga alias penutup trilogi ini. Menurut saya, sebagai sebuah pamungkas kisah trilogi, Agent 6 mampu menghasilkan cerita yang decent dan masih menarik untuk diikuti, sementara banyak di luar sana buku-buku yang sekuel penutupnya lebih terasa seperti disappointment karena ampas (misalnya: Veronica Roth's Allegiant *cough cough*). Pokoknya baca sendiri dulu saja ya. Supaya paham. Hehehe.

Kavernya bernuansa putih lagi.

IMPORTANT NOTE:
Ketiga buku ini merupakan edisi berbahasa Inggris dan hardback. Iya, hardback. Alias hardcover, whatever you name it. Jadi seperti kitab suci buku ensiklopedia yang suka kita temui di perpustakaan sekolah gitu. Karena ini merupakan koleksi pribadi saya, jadi perawatannya terbilang baik karena yang pegang-pegang juga paling-paling saya sendiri (the perks of not having friends #102: barang-barang kamu nggak ada yang pinjam).

Saya berniat melepas mereka dengan harga Rp185,000 per buah, tapi kalau ada yang bersedia ambil langsung tiga-tiganya (berhubung trilogi), ada diskon jadi Rp480,000. Kondisi buku 87-90%. Pokoknya masih sangat layak baca dan barangkali malah bisa dikatakan lebih oke dari komik-komik di Gramedia yang segelnya sudah dilepas para pengunjung karena ingin numpang baca gratisan. Apalagi ini edisi hardback. Cukup susah lho mencarinya. Serius. Ditambah lagi kalau mau beli baru di toko buku mahal betul... satuannya bisa mencapai Rp400,000 bahkan lebih. Bahkan di situs Periplus, Child 44 edisi paperback saja harganya sudah Rp224,000 sendiri. Kray.

Harga Agent 6 edisi hardback yang baru. Kudu nangis.

Bagi kalian yang berminat, silakan kontak saya langsung via LINE dengan username chocolatefudgecake. Mohon maaf saya tidak melayani hal ini via Twitter, sehingga jika memang ada yang ingin ditanyakan, atau misalnya bermaksud minta foto-foto referensi tambahan, bisa lewat LINE message saja.

Harap dimaklumi jika mungkin masih tidak bisa semurah buku obral di Big Bad Wolf karena... saya tidak punya sponsor. *Dilempar ATM Bank Mandiri*

Please adopt my books!

UPDATE 10/06/17:
SOLD. Ketiga buku ini sekarang sudah berpindah pemilik!
Terima kasih kepada teman-teman yang bersedia membantu menyebarkan informasi dan mengontak saya. *Peluk satu per satu*
z. d. imama

Friday, 2 June 2017

Recommendation Olympics: Shoujo Manga Edition


Ooookay. Berhubung di blog post sebelumnya yang mengupas review singkat tentang Akatsuki no Yona, saya sudah menjelaskan apakah 'shoujo manga' itu, jadi saya tidak usah membahasnya lagi. Ngomong-ngomong, "Recommendation Olympics" ini sesungguhnya bukan merupakan kompetisi apa pun. Cuma berhubung kedengeran keren secara bahasa Inggris maupun Indonesia dan saya adalah manusia dangkal, itulah yang saya pilih untuk melabeli serial postingan edisi perdana ini. *Dilempar timun suri.*

Judul-judul shoujo manga yang saya masukkan dalam Recommendation Olympics, meskipun ada nomor urutnya, bukan berarti saklek bahwa yang paling bawah jauh lebih jelek kualitasnya dibanding yang teratas. Nggak kok. Tetapi urutan puncak memang lebih memiliki... apa ya, cengkeraman impresi dan kesan yang sangat kuat saja dalam diri saya pribadi. Semacam, "You guys are good but this one is the King for me," gitu.

Langsung mulai saja, yuk.

10. Mint-na Bokura (We Are Twins) - Yoshizumi Wataru.

Kembar fraternal dampit―kembar sepasang cewek dan cowok, kalau yang 'dempet' itu istilahnya kembar siam―, Minamino Maria dan Minamino Noel sangat akrab dan tidak bisa dipisahkan sejak kecil, sampai-sampai Noel yang laki-laki mengidap sister complex. Ketika Maria naksir seorang cowok hingga minta pindah sekolah ke SMP Morinomiya agar perjalanan romansanya menjadi lebih mudah, Noel yang overprotektif pun menyusul saudara kembarnya ke sekolah berasrama tersebut. Namun sayangnya slot untuk murid laki-laki sudah penuh. Tidak ada lagi kamar di asrama cowok yang tersisa. Menolak menyerah, Noel pun rela menyamar sebagai perempuan demi bisa mendaftarkan diri sebagai murid baru di SMP Morinomiya! Kehidupan mereka berdua di sekolah, lika-liku persahabatan Noel dengan Sasa Ryuujiace klub basket yang keren tapi maniak mancing ikan, dan insiden-insiden konyol yang terjadi akibat kesalahpahaman orang-orang yang menyangka Noel perempuan membuat serial ini sangat asyik dinikmati.

Ringan. Seru. LUCU BANGET.

Tiga hal itu merupakan kesan-kesan terkuat saya ketika membaca serial ini. Ngakak parah, sumpah. Kadang-kadang saya ketawa terlalu keras dan lama sampai sakit perut. Panjang cerita yang hanya 6 volume membuat Mint-na Bokura jadi selingan manis yang tepat porsi. Sebelum kisahnya berubah cheesy, eh sudah tamat. Oh ya. Nggak usah terpesona sama Sasa Ryuuji, deh. Pokoknya nggak usah repot-repot.

9. Heroine Shikkaku (No Longer Heroine) - Kouda Momoko.

Serial yang dibukukan dalam sembilan jilid ini langsung menarik perhatian saya dari bab pertama. Premisnya adalah bagaimana Matsuzaki Hatori, seorang gadis SMA yang menyukai teman sepermainannya sejak kecil, Terasaka Rita, merasa bahwa dirinya adalah 'tokoh utama' dari sebuah kisah percintaan remaja. Nah, sebagai 'tokoh utama', Hatori beranggapan bahwa semestinya dia dan Rita sudah ditakdirkan untuk bersama dan berpacaran. Namun ternyata... kenyataan tidak semanis angan-angannya. Hatori gagal menjadi seorang heroine yang dia khayalkan! Jangan-jangan dia cuma tokoh figuran numpang lewat? Waduh?!

Saya berkali-kali tertawa membaca komik ini. Walau kadang tawa saya bercampur rasa kasihan pada Hatori yang sering apes melulu, tanpa saya sadari di tengah cerita, pembaca mau tidak mau bersimpati dan mendukung 'perjuangan' dia menggapai cintanya. Ide 'failed main protagonist' yang terbilang cukup segar sekaligus 'mengejek' tipikal shoujo manga genre romance ini, menurut saya, adalah daya tarik terbesar Heroine Shikkaku. Apalagi eksekusinya terbilang cukup oke. 

8. Shinshi Doumei Cross (The Gentlemen Alliance Cross) - Tanemura Arina.

Otomiya Haine bersekolah di Teikoku Gakuen, SMA elit yang mana murid-muridnya terbagi dalam sistem kasta: Bronze, Silver, Platinum, dan Gold. Anggota OSIS harus berstatus minimal Silver, dan ketua OSIS disebut Koutei (Emperor; Kaisar) serta merupakan pemegang kasta Gold satu-satunya. Haine yang merupakan golongan Bronze berusaha mati-matian untuk bisa menjadi anggota OSIS karena dia naksir berat dengan Touguu Shizumasa sang ketua OSIS. Namun setelah berhasil mendapatkan posisi di antara anak-anak OSIS, Haine mulai menyadari bahwa Shizumasa bukanlah orang yang seperti ini dia bayangkan.

11 volume komik ini saya baca (secara online karena tidak diterbitkan di Indonesia) saat awal-awal SMA dan hingga sekarang masih berhasil mengaduk-aduk perasaan. Let me tell you: this series is not your regular school romance or drama tale. Lapisan-lapisan subplot serta konfliknya bertumpuk-tumpuk, hadir silih-berganti, dan cukup menguras hati, Wajar jika rasanya ada pikiran, "Masa sih yang begini tuh pengalaman hidup anak SMA???" melintas beberapa kali di benak pembaca.

Well done, Tanemura-sensei. Well done.

7. Aoharaido/Ao Haru Ride (Blue Spring Ride) - Sakisaka Io.

Yoshioka Futaba, tokoh utama serial ini, dikisahkan memiliki inferiority complex yang membuat dia merasa harus bisa fitting in dengan teman-teman sekelasnya di SMA setelah gagal mendapatkan circle/peers semasa SMP. At this point, she relates so much to me because I'm such a failure in building circles even now. Ternyata Futaba tidak disukai kawan-kawan SMP-nya karena dia berwajah manis (this is the part where I cannot relate), sehingga ketika bersikap feminin, banyak yang menganggapnya kecentilan. Futaba dikisahkan berjumpa lagi Mabuchi Kou, cowok yang sempat disukainya waktu SMP saat nama keluarganya masih Tanaka dan bukan Mabuchi. Kaget karena sikap dan karakter 'Tanaka-kun' yang sempat dia kenal kini berubah 180 derajat, Futaba pun berusaha mengenal ulang Mabuchi, dan di saat yang sama belajar untuk mengenal apa artinya pertemanan sebenarnya.

Baper banget baca komik ini. Sumpah. Some things hits too close to home, and sometimes I turned green with envy because at the end of the day Futaba managed to get what she wants in her youth and I was not. Walah jadi curhat... but anyway, komik yang totalnya 13 volume ini menyenangkan. Porsi romansanya juga tidak berlebihan dan believable untuk ukuran anak SMA.

Mabuchi Kou rambutnya menggoda untuk acak-acak banget. Huft.

6. Omake no Kobayashi-kun (The Extra Kobayashi) - Morio Masami.

SMA Himawari kedatangan murid pindahan bernama Kobayashi Yamato, yang ditempatkan di kelas 1-A. Masalahnya... di kelas tersebut sudah ada tiga murid lain dengan nama keluarga sama: Kobayashi. Ada Kobayashi Fubuki si gadis ketua kelas yang bisa diandalkan, cool, dan terkesan tak kenal takut, Kobayashi Kengo atlet berbadan tinggi besar menjulang yang pendiam, serta Kobayashi Chihiro tukang usil dan biang kerok. Ketiga murid ini dianggap sebagai 'Segitiga Bermuda' oleh murid lain karena imej mereka yang cenderung sulit didekati dan diajak berakrab-akrab. Namun keberadaan Yamato yang polos, ceria, dan periang perlahan-lahan mulai mendekatkan mereka semua.

Saya sayaaaaaaang sekali dengan serial ini. Sudah pernah diterbitkan oleh m&c! dan saya mengoleksi  ke-16 volume komiknya. Andaikata punya kantong ajaib yang bisa muat banyak dan portabel, Omake no Kobayashi-kun jelas termasuk salah satu judul yang akan saya bawa ke mana-mana. Interaksi keempat Kobayashi sangat menyenangkan dibaca. Menghangatkan hati, pula. Kisahnya sangat manis dan tidak over-dramatic, konflik yang diciptakan pun realistis. Sepanjang membaca, saya sering sekali tersenyum-senyum sendiri. Fangirling. Apalagi sama Kobayashi Kengo yang atletis dan nggak banyak omong itu. Tapi sekalinya dia ngomong langsung bikin deg-degan. 

Alamakjan. Ampun, Kengo, ampun.

5. Kanata Kara (From Far Away) - Hikawa Kyoko.

Sudah diterbitkan di Indonesia oleh Elex Media Komputindo―bahkan sekarang sudah dicetak ulang―dengan judul "Dunia Mimpi". Mengisahkan Tachiki Noriko, seorang siswi SMA, yang akibat suatu insiden sepulang sekolah, secara misterius terlempar ke dunia misterius di mana sihir dan monster-monster berada. Di tengah panik bercampur kebingungannya, Noriko bertemu Izark Kia Tarj, seorang pengembara yang ternyata merupakan reinkarnasi Sky Demon (mau nulis 'Iblis Langit' tapi kesannya kok ya jadi kurang greget). Izark yang lambat laun tidak tega membiarkan Noriko tersesat sendiri di dunia yang asing, akhirnya menerima keberadaan Noriko di dekatnya. Mereka berkelana bersama-sama, dan pelan-pelan mulai diketahui penyebab hadirnya Noriko ke dunia tersebut. 

Aduh. Serial ini. Aduh. Perkembangan karakter-karakternya sangat menyenangkan untuk disimak dan chemistry antara Noriko dan Izark bagus banget. Meleleh deh melihat mereka berdua, huhuhu. Hikawa-sensei juga terhitung memperhatikan detil-detil kecil yang sering dilupakan orang, misalnya rambut Noriko yang tadinya pendek mulai tumbuh panjang sedikit demi sedikit seiring berjalannya cerita. Artwork terbilang sangat konsisten di keseluruhan 14 volume buku. Kita nggak akan bisa nyeletuk iseng, "Lah si A kok tampangnya sekarang begini hahaha..."

Baca deh, Kanata Kara. Mampirlah ke toko buku terdekat lalu beli rilisan ulang serial Dunia Mimpi. Nggak akan menyesal kok.

4. NG Life - Kusanagi Mizuho.

Kalian percaya reinkarnasi? Itu betulan ada, lho. Hanya saja, demi kelancaran dan kebahagiaan dalam hidup baru, kebanyakan dari manusia tidak memiliki ingatan tentang kehidupan mereka sebelumnya. Tapi bagi Saeki Keidai tidak begitu. Dia terlahir di masa kini dengan membawa seluruh memori dari kehidupan masa lalunya sebagai seorang gladiator di Pompeii bernama Sirix Lucretius Fronto, yang meninggal akibat bencana meletusnya gunung Vesuvius tahun 79SM dalam kondisi terpisah dari istrinya, Serena. Masalah muncul ketika reinkarnasi Serena kembali hadir di hari-hari Keidai... tetapi selain tak memiliki ingatan masa lalu, Serena kini lahir sebagai cowok SMP bernama Ujoh Yuuma. Sementara sahabat terbaik Sirix di Pompeii, Loleus, justru bereinkarnasi sebagai Serizawa Mii, cewek teman sekelas Keidai. Keidai pun mau tidak mau menjalani hari-hari 'gila sendiri' akibat dihantui memori masa lalu yang membayangi masa kininya.

I was in the first chapter when I had my first stomachache from laughing too much. Saya berulang kali harus berhenti, mengusap air mata yang keluar akibat ngakak kebanyakan, lalu meneriakkan "GOBLOOOOOOSSSSS!!" sendirian ke udara. Ke dalam kamar yang nggak ada siapa-siapa kecuali saya. Sekacau itu. Selucu itu. Sekonyol itu. Sebego itu. Adegan Keidai terbayang-bayang istrinya setiap kali melihat wajah Yuuma amat-sangat-super priceless. Adegan-adegan manis ala shoujo manga yang membuat jantung dag-dig-dug-der berkecamuk juga digambarkan dengan sangat halus, natural, dan cantik.

Total serial ini ada 9 volume. Pernah diterbitkan oleh m&c! sampai tamat, tapi sayangnya ketika itu saya belum menyadari betapa luar biasanya komik NG Life. Kalian yang ingin baca, ada kok scanlation-nya di situs-situs komik online. Saya saja bacanya via situs.

Tebak kira-kira nasib Keidai yang terkutuk ini bagaimana?

3. Daa! Daa! Daa! (UFO Baby) - Kawamura Mika.

Kouzuki Miyu terpaksa dititipkan di rumah sahabat lama orang tuanya, biksu Saionji Houshou, karena ayah dan ibunya yang bekerja di NASA harus pindah ke Amerika (Miyu tidak bisa ikut karena alasan pendidikan). Meski dengan berat hati, Miyu pun bersedia dititipkan. Tapi tak lama kemudian biksu Saionji harus pergi ke India dalam waktu lama dan meninggalkan Miyu berdua dengan putra semata wayangnya―sekaligus teman sekelas Miyu di sekolah―, Saionji Kanata. Saat hari-hari mereka mulai terasa awkward karena hanya berduaan, pada suatu malam, Miyu dan Kanata mendapati ada sebuah UFO terdampar yang berisikan seorang bayi alien dan pengasuhnya, Wannyaa. Sedang panik-paniknya, bayi alien berkuatan ajaib yang dipanggil Ruu itu justru menyebut Miyu sebagai Mama dan Kanata sebagai Papa! Alhasil mereka berdua pun mengasuh Ruu bersama-sama, dibantu Wannyaa, sembari menunggu datangnya pertolongan dari planet Otto, tempat para alien ini berasal.

Dulu saya rajin sekali nonton versi animenya sewaktu ditayangkan RCTI hari Minggu pukul enam pagi. BAYANGKAN. Sungguh motivasi untuk bangun awal di hari libur. Saionji Kanata pun tergolong cowok-cowok fiktif gebetan saya edisi early bird. Sebelum sempat naksir cowok di sekolah―yang beneran manusia hidup―saya sudah terkesima pada Kanata...

So that explains my sad, good-for-nothing, love life.

Daa! Daa! Daa! ini salah satu longtime favorite. Setiap kali buka komiknya pasti tenggelam lagi dalam rasa sayang kayak pas lagi baca-baca SMS lama mantan terindah. Saking sukanya, gara-gara pas Daa! Daa! Daa! diterbitkan Elex Media Komputindo di awal tahun 2000-an saya belum terlalu paham komik Jepang, setelah dewasa saya bela-belain berburu buku secondhand serial ini. Hanya 9 buku, kok. Tidak panjang-panjang amat.

2. Akatsuki no Yona (Yona of the Dawn) - Kusanagi Mizuho.

Sebagaimana yang sudah saya jabarkan sambil setengah fangirling di postingan ini, Akatsuki no Yona adalah current favorite. SAYA. SUKA. BANGET. SERIAL. INI. Panjang, sudah lebih dari 20 volume buku dan belum selesai, tapi terasa sekali kalau bukan karena extension, melainkan memang main plot-nya besar dan megah. Saya pernah menghabiskan malam-malam tidak bisa tidur cuma gara-gara kepikiran dengan lanjutan ceritanya. Harapan saya cuma satu, semoga ending dari saga ini bisa memuaskan dan nggak meninggalkan kesan "Yaelah gitu doang". Nggak kayak Naruto atau Bleach, maksud saya.

AND FOR GOD'S SAKE, THE MAN CALLED SON HAK IS JUST SUBHANALLAH BEYOND BELIEF.

Kusanagi Mizuho, harus diakui, punya kualitas karya-karya yang terbilang konsisten bagus. Menurut saya pribadi saja ada dua judul dari dia yang layak masuk daftar Recommendation Olympics. Penasaran sih dengan perkembangan dia sebagai manga artist ke depannya... apalagi jika sudah berhasil menamatkan Akatsuki no Yona.

1. Card Captor Sakura - CLAMP.

This is it. This is IT. The number one longtime favorite. There are so many things I love about this manga series to the point where I do have numerous complaints regarding its own anime adaptation. Card Captor Sakura menceritakan tentang Kinomoto Sakura, gadis kecil yang penuh energi dan jago olahraga tapi bego di matematika (yeah, so am I). Tanpa sengaja Sakura membuka segel sebuah buku sihir misterius bertuliskan The Clow pada sampulnya, dan membebaskan kartu-kartu sihir Clow Card ke dunia. Clow Card ini memiliki kekuatan. Mereka bisa membuat onar di kota Tomoeda, sehingga dibantu penjaga buku, Cerberus―yang dengan seenaknya disingkat menjadi 'Kero'―, Sakura berjuang kembali mengumpulkan kartu-kartu yang lepas dan mengembalikannya ke dalam buku. Tentu saja sambil ditemani sahabat terbaik sekaligus sepupunya, Daidouji Tomoyo, yang berambisi mengabadikan aksi-aksi Sakura dengan kamera video miliknya.

I have so much to say about Card Captor Sakura. Oh, God. Komik ini adalah shoujo manga pertama yang saya kenal. Komik ini pula yang memperkenalkan saya arti keikhlasan dalam naksir tokoh fiktif. You guys know Kinomoto Touya, Sakura's older brother?  Ya itu dia cinta (2D) pertama saya. Kepribadian Touya yang sehari-hari bandel, usil, jahil, kalau ngomong suka nyebelin, tapi ternyata penyayang dan selalu bisa diandalkan benar-benar bikin klepek-klepek.

Apalagi tampilannya begini:

Katanya kelas 2 SMA. Tapi pas saya SMA nggak ada mas-mas yang kayak gini...

Dari Card Captor Sakura juga, saya mulai belajar bersentuhan dengan konsep-konsep #LoveWins dan berbagai preferensi seksual in the least sexual way possible. Pengenalan terhadap gender dan preferensi seksual yang sangat subtle dan ramah anak-anak ini menurut saya, penting. Tapi ya CLAMP suka terlalu permisif soal ini sih... coba saja tengok interaksi antara Sasaki Rika (teman sekelas Sakura) dengan wali kelasnya, Terada Yoshiyuki.

Huhuhu.

Demikian Recommendation Olympics: Shoujo Manga Edition versi saya. Cukup segini saja karena kesepuluh judul sudah disebutkan. Saya juga sudah nyerocos panjang. Ada nggak shoujo manga lain yang kalian gemari? Atau barangkali kebelet mengomentari judul-judul yang terpapar di atas ini? Silakan saja lho!

 z. d. imama

Wednesday, 31 May 2017

A short rant about Detective Conan, which, as a series, is not short at all


Tempo hari saya mengobrol dengan seorang teman (aspek hidup yang sangat jarang dimiliki penulis blog ini―red.) di suatu family restaurant di Pacific Place. Perbincangan ini, entah bagaimana awalnya, menyerempet ke arah serial-serial komik Jepang superpanjang, dan berbuah teman saya nyeletuk dengan tampang setengah sebal, setengah geli, "Eh, aku udah ngikutin Conan sejak dua puluh tahun lalu ya berarti? Aku masih kelas lima SD loh pas pertama kali baca."

Sekadar heads-up, usia saya dan sang teman terpaut cukup jauh.

But then again, I think we agree that twenty years are not a short amount of time. Saya sendiri mengenal serial Detektif Conan ketika masih kelas tiga SD, saat kebetulan berkunjung ke tempat saudara jauh yang mempunyai koleksi komiknya. Apesnya, sentuhan perdana saya dengan serial ini adalah volume 19 dan 4, di mana dalam volume empat terdapat kasus ksatria baju zirah yang berlatarkan sebuah museum nyaris tutup.

Detektif Conan Chapter 30 (Volume 4), "The Armored Knight" 

Kebayang nggak anak kelas tiga SD baca sebuah komik untuk pertama kalinya dan disuguhi panel se-wow itu? Alhasil saya 'dihantui' gambar tadi hampir selama satu minggu penuh. Semenjak hari bersejarah tersebut hingga yaaah... lulus SD lah, saya sampai mengasosiasikan serial Detektif Conan bukan sebagai serial detektif, melainkan serial horor. Apalagi waktu itu belum kenal serial Detektif Kindaichi (yang 27 volume original series, ya, bukan sekuelnya yang sekarang keluar lagi).

Terus terang saya suka Detektif Conan. Banget. Bahkan saya hapal kasus apa terjadi di volume keberapa, setidaknya sampai volume 45 rilis. Habis itu rasa-rasanya tidak ada kasus yang layak direkam secara khusus dalam ingatan (bagi saya lho, ya) KECUALI episode-episode plot utama yang langsung melibatkan Organisasi Berbaju Hitam (OBH―iya ini singkatannya memang disengaja) dan tidak mengandung fake leadPada suatu titik tertentu setelah volume 40, saya perlahan menyadari bahwa formula kasus-kasus lama mulai sering di-recycle untuk kasus filler yang lain dan keberhasilan trik pembunuhan mulai banyak tergantung pada faktor keberuntungan. Bahkan kecurigaan Conan terhadap tersangka sering terletak pada hal-hal remeh-temeh nggak penting yang membuat saya ingin menjerit emosi, "Yaudah sih emangnya manusia nggak boleh ya mendadak kepengin makan tanpa cuci tangan atau garuk-garuk pantat terus lanjut ngupil????"

Detektif Conan Chapter 178 (Volume 18): "Code Name: Sherry"

Jika ditanya tokoh favorit, sepertinya saya bisa menjawab yakin: Haibara Ai. Kemungkinan besar karena kami sama-sama ngantukan dan jiwa kami berdua cenderung diliputi kegelapan. Terus terang saya agak marah kepada Gosho Aoyama karena keberadaan Ai seperti sengaja tidak dimaksimalkan untuk mem-boost kecepatan laju alur cerita, padahal dia muncul kali pertama di volume 18 dan pada volume 19 sudah ketahuan bahwa Ai merupakan adik dari Miyano Akemi yang terbunuh di volume 2! Coba, Conan sekarang volume berapa? Ini pasti gara-gara tim redaksi dan editornya Shogakukan yang nggak mau Detektif Conan cepet tamat. Hih.

Saya kagum sekali dengan sistem waktu di kisah Detektif Conan. Zaman berubah dan teknologi berkembang tapi umur tokoh-tokohnya dan tingkat pendidikannya gitu-gitu aja. Ada nggak sih di antara kalian semua yang cukup kurang kerjaan untuk menghitung:

  • Berapa kali musim semi, panas, gugur, datang silih berganti
  • Selaras dengan poin sebelumnya, berapa kali Valentine dan Natal dialami
  • Berapa kali Ran ikut ujian sekolah
  • Berapa kali Ran disinggung lagi persiapan, sedang, atau habis ikut turnamen karate
  • Berapa kali Shinichi bilang, "Aku belajar (masukkan suatu skill) di Hawaii, diajari ayahku."
Bahkan kalau diingat-ingat, ada beberapa peralatan canggih dari Profesor Agasa yang mau tidak mau harus 'tenggelam dihempas masa'. Misalnya seperti mesin fax portabel berbentuk kotak makan (lauknya asli) atau telepon selular berbentuk anting. Tapi ya gitu, biarpun dulu di komik Conan ada orang mainan pager dan sekarang di mana-mana sudah pakai smartphone dan selfie bermodal tongsis, semua orang tetap hidup abadi dengan usia tidak bertambah bagaikan bangsa Elf.

Volume pertama rilis di Jepang tahun 1994, kayaknya.
Hayo siapa yang belum lahir?

Kadang terpikir juga di benak... adakah di antara kalian yang cukup niat (dan sekaligus kurang kerjaan pula) untuk merangkum sebenarnya bagian-bagian penting di Conan itu seharusnya cuma makan berapa volume komik sih? Serius. Buang saja kasus-kasus filler nggak relevan, episode fanservice yang nggak penting (ini biasanya dibikin untuk shipper Shinichi-Ran), lalu rangkum cerita-cerita seputar plot utama, kasus-kasus tertentu yang trik serta ceritanya terbilang masih baru, serta episode yang memuat petunjuk signifikan saja. Berapa duit dari ongkos total pembelian sekian puluh jilid buku yang mestinya bisa dihemat pembaca?

CONFESSION: Sejak volume 55 ke atas, saya masih rutin beli Detektif Conan sudah bukan karena memang menantikan kelanjutan kisahnya. Tapi lebih ke pertempuran harga diri. Semacam ingin meneriaki tumpukan komik di lemari dengan, "UDAH NGUMPULIN SEJAUH INI! GUE AKAN KEJAR LO SAMPE TAMAT! LIAT AJA!"

And please, please please, don't get me started on Detective Conan movies.

Pokoknya, cara paling direkomendasikan supaya bisa menyaksikan film-film Conan versi bioskop dengan seru, nyaman, dan riang gembira adalah mematikan segala unsur kecerdasan, pengetahuan, common sense, dan logika kita. Conan yang notabene berpenampilan anak kecil kelas 1 atau 2 SD masuk jalan tol naik skateboard turbo kebut-kebutan sama penjahat? Nggak apa-apa! Conan terjun bebas dari atas pesawat? Nggak apa-apa! Conan yang diceritakan buta nada tiba-tiba, demi mengungkap kasus, bisa menyanyikan lagu dengan pitch sangat akurat? Nggak apa-apa!

Woles is, always, the key.

Tolong bantu sampaikan pertanyaan ini ke Pakdhe Gosho, ya.

Berhubung takut malah makin baper kalau ngomelnya kepanjangan, saya sudahi saja sampai di sini. Jadi fangirl serial yang panjangnya amit-amit macam Detektif Conan tuh rasanya pedih, guys. *Berpelukan dengan fans One Piece dan HunterXHunter.*

z. d. imama

Monday, 22 May 2017

Lewat Tengah Malam: one (simple) book review


Saya mengenal nama Sweta Kartika belum lama. Barangkali semenjak 2013 (atau 2014?) ketika Shani Budi dan Mbak Ines bekerja sama dengan Sweta untuk membuat webcomic superhero berjudul NusantaRanger. Lewat NusantaRanger, yang ketika serialnya berjalan selalu rajin saya ikuti dengan penuh semangat, saya mulai mengenal karya-karya Sweta yang lain seperti Grey & Jingga―bukunya bisa dibeli di sini dan di sini, Wanara―sudah terbit dua volume, bisa didapatkan lewat sini dan sebelah sini, dan masih banyak lagi... tapi saya nggak baca judul-judul lainnya karena masih belum sempat ngulik.

Oktober 2016 lalu, melalui akun Twitter-nya, Sweta mengumumkan akan merilis sebuah buku khusus di acara Mangafest Jogjakarta. Berhubung saya belakangan berdomisili di area Jakarta sebagai gadis rantau, saya titip pada seorang teman yang memang hidupnya berkubang di Jogja untuk membelikan satu eksemplar. Mumpung katanya dia juga mau berkunjung ke acara tersebut. Sekalian, lah.


Sebenarnya saya berharap supaya sang teman mengirimkan buku ini ke Jakarta, makanya dengan sengaja saya transfer nominal yang cukup. Tapi ternyata... seluruh sisanya diambil sebagai 'uang lelah'. Hahaha. Ya sudahlah nggak apa-apa. Selepas acara, buku saya pun masih berada dalam cengkeraman teman.

Waktu berlalu.

Syukurlah pada acara Ennichisai 2017 yang digelar tanggal 13-14 Mei, teman saya mengatakan kalau dia akan ke Jakarta dalam rangka berpartisipasi cosplay dan mengajak bertemu untuk serah terima barang. A-KHIR-NYA! Setelah tertunda berbulan-bulan, saya pun bisa menyentuh buku ini, membacanya, dan membuat review terkait di blog pribadi karena kalau nggak begitu blog saya bisa nggak ada isinya sama sekali.

"Lewat Tengah Malam" adalah kumpulan kisah cerita misteri yang dihadirkan dalam bentuk sebuah buku sederhana setebal 58 halaman (+2 halaman kaver dalam dan copyright). Beneran sederhana, sebab hanya dijilid dengan staples biasa. Semacam majalah Bobo atau album Donal Bebek, gitu. Lucu deh. Ilustrasi sampul depan bisa dilihat sebagaimana gambar pembuka postingan di atas, sedangkan untuk sampul belakang adalah seperti ini:

Itu apa ya yang netes-netes...

Secara keseluruhan, Lewat Tengah Malam terdiri dari delapan kompilasi cerita pendek, satu cerita bergambar, dan satu komik. Judul-judul cerita pendek tersebut jika diurutkan berdasar daftar isi adalah

  1. Lima Malam di Rumah Bengkot,
  2. Lukisan Ny. Telasih,
  3. Misteri Sepotong Kepala,
  4. Tangisan Bayi di Kolong Ranjang,
  5. Roh-Roh Halus Itu,
  6. Misteri Bus Malam,
  7. Maut di Tanah Pasir, dan
  8. Suara-Suara dari Salemba.
Semua cerita pendek tersebut dilengkapi dengan ilustrasi-ilustrasi yang membantu menjelaskan cerita dan sebagai pendamping judul. Supaya lebih jelas, saya sertakan foto halaman pertama deh.

Saya selalu heran dengan yang sanggup gambar seram. Nggak ketakutan sendiri gitu?

Cerita-cerita pendek dalam Lewat Tengah Malam cukup enak dibaca. Beberapa kisah memang tidak terlalu seram (saya sedikit curiga hal ini mungkin disebabkan oleh kekurangan penulis dalam penyampaian narasi), namun ilustrasi-ilustrasi Sweta yang top-notch selalu sukses memberikan boost yang mampu membuat pembaca merasa cukup 'terganggu'. Terlebih untuk cergam Misteri Ladang Tandus di Kaki Gunung Tengkorak dan komik Setan Ketandan, waduh... saya sempat merinding berat di beberapa adegan tertentu.

Secara umum, Lewat Tengah Malam cukup bagus sebagai bacaan iseng-iseng di kala senggang. Hanya saja, beberapa kesalahan EYD dalam penulisan narasi terasa agak mengganjal pemandangan dan mengurangi kenyamanan membaca. Kesalahan-kesalahan ini antara lain peletakan awalan dan kata depan 'di', penempatan tanda titik dan tanda koma, atau typo. Sayang, sih. Semoga untuk rilisan berikutnya, hal-hal semacam itu bisa lebih mendapatkan perhatian khusus.

(Kak Sweta kalau butuh proofreader, bisa hubungi saya di coldbutterbeer@gmail.com lho. Hehehe. #ShamelessSelfPromotion.)

Sebagai penutup, saya lampirkan ilustrasi pembuka komik Setan Ketandan yang menjadi judul terfavorit di Lewat Tengah Malam.  Komik sembilan halaman ini vibe mencekamnya nggak main-main, apalagi halaman ketujuh dan kedelapan berhasil membuat saya kaget sampai-sampai melemparkan buku di tangan ke seberang ruangan.

Kuburan kalau digambar sedemikian rupa kok creepy banget...

Apakah ada di antara kalian yang juga memiliki buku ini?
Atau mungkin karya Sweta Kartika lainnya?

z. d. imama

Monday, 15 May 2017

Playing the "If I were..." game


Kalian pernah nggak sih, merenungkan sepanjang hidup kalian lengkap dengan privileges yang dimiliki atau ketidakberuntungan yang menimpa? Lantas di dalam kepala memainkan skenario-skenario alternatif (baca: khayalan halu) yang kita inginkan untuk terjadi jika saja situasi dan kondisi diri kita berbeda dengan status quo. Saya sih sering. Gembel, memang. Tetapi kadang kala, rasanya sulit untuk tidak terjerumus dalam jurang penuh pertanyaan, "Ya Tuhan, hidup saya kenapa begini amat yah?"

Ada sejumlah hal yang biasanya paling sering hinggap di benak saya ketika sedang iseng-iseng melakukan sesi khayalan halu. Berhubung saya terlahir sebagai masyarakat kelas kere ceremende, sebagian besar skenario alternatif yang mencuat memang cenderung berkisar pada bagaimana jika saya memiliki kondisi keuangan yang lebih baik.

Apa saja, sih?

If I were born rich, I wanted to take up ballet lessons

Sebenarnya ini hasrat tersembunyi yang muncul sejak saya kelas... empat di Sekolah Dasar. Bisa terpenuhi pun, bergabung sanggar balet pada usia sepuluh tahunan sudah terbilang agak terlambat karena tidak sedikit anak-anak yang memulai latihan saat masih usia lima tahun (atau malah tiga-empat tahun sudah kursus balet).

Salah satu balerina favorit saya, Marianela Nunez, memerankan Odile/Black Swan

Barangkali jika ekonomi keluarga saya lebih baik, saya berani mengutarakan keinginan waku itu (pada dasarnya ayah saya bukan tipe yang bertanya ke anaknya, "Ada nggak kegiatan yang ingin kamu lakukan?" jadi kalau nunggu ditanya kayaknya keburu kiamat duluan).

Seorang teman mengatakan pada saya bahwa sebenarnya biaya kursus balet tidak semahal itu (entah benchmark yang digunakan berapa rupiah), tapi penting untuk digarisbawahi bahwa 'mahal' dan 'murah' bersifat relatif. Tergantung kemampuan finansial masing-masing... and unfortunately it was out of my reach, and out of what my family could afford. So, goodbye, my childhood-and-forever dream.

If I were good-looking and talented, I would join auditions

....so I can save up enough money from my own efforts to pursue higher education. Serius. Ya sebetulnya masalah ini jelas terselesaikan jika saya kaya-raya, tapi rasanya keren bisa mengumpulkan uang sendiri lewat menjadi idola (seperti jeketi-fortiet) atau mungkin fotomodel, untuk nantinya dipakai meneruskan pendidikan ke tingkat lebih lanjut.

Kepengin sekolah, hiks...

Terus terang saya pribadi tidak tertarik dengan beasiswa LPDP, yang notabene berasal dari uang rakyat, sehingga sebenarnya pilihan yang tersisa adalah mencari sponsor lain atau bayar sendiri. Agak nggak tahu diri sih mengingat betapa #SobatKizmin-nya saya ini, sok-sok pakai menolak duit negara, tetapi ya namanya sudah prinsip. Hahaha.

If I were born not as a human

Sepertinya jika terlahir bukan sebagai manusia (dan bisa memilih), mungkin saya akan mengajukan diri supaya bisa hidup sebagai kucing. Bahkan saya sebenarnya sudah curiga kalau di kehidupan sebelumnya, saya ini adalah kucing. Soalnya mau seberapa banyak pun saya tidur, bawaannya masih kepengin tidur lebih lama. Malesan banget kan...

Ketiduran di depan komputer/laptop is lyfe.

Hidup sebagai kucing sepertinya tidak terlalu punya banyak masalah. Mau beranak sebanyak apa pun juga nggak usah mencemaskan pendidikan formal dengan segala biayanya yang kian melonjak tinggi tiap tahunnya. Nggak diteriakin kofar-kafir ataupun najis sebagaimana anjing dan babi. Binatang kesayangan Rasul, pula. Kurang apa coba?

If I were to get superpowers

Ini nih. Salah satu khayalan halu saya yang cukup sering melintas di kepala bahkan sejak saya masih kanak-kanak. "Kalau punya kekuatan super yang tidak lazim dimiliki manusia, kamu ingin apa?" sudah kerap terbayang di benak saya entah berapa tahun lamanya. Mengenai ini pun, saya terus terang tidak mampu membuat keputusan final. Selalu ragu-ragu antara dua pilihan: 1) kemampuan menggerakkan benda tanpa menyentuh (or as we know it, psychokinesis/telekinesis) atau 2) kemampuan membelokkan dan menjelajah waktu (time-bending, time-traveling).

Barangkali karena saya merasa punya banyak hal yang 'seharusnya bisa dibenahi' atau 'ingin diulang lagi', maka bisa membelokkan waktu adalah semacam superpower idaman. Ditambah lagi, salah satu karakter fiksi favorit saya, Akemi Homura (dari Puella Magi Madoka Magica yang sempat saya buatkan review-nya di sini), juga mampu membelokkan waktu.

Akemi Homura kesayanganku <3

Jika boleh jujur, masih banyak lagi alternatif "Andai saja..." yang pernah melintas di benak saya. Tapi kalau ditulis semua akan jadi panjang sekali dan sedikit malu-maluin karena ketahuan jelas level halu diri ini. Jadi saya hanya tuliskan empat saja (itu pun kayaknya sudah lebih dari cukup).

Kalian bagaimana? Pernah sok berandai-andai seperti apa yang saya lakukan juga, nggak? Masa sih cuma saya sendirian yang suka begini...

z. d. imama

Monday, 8 May 2017

Please. I don't understand this "I'm a gem" narrative.


Saya ini tidak pandai. Serius. Banyak sekali hal yang tidak saya ketahui, mengerti, dan pahami. Salah satunya ya... yang akan saya bahas di postingan ini. Jika di antara kalian ada yang bisa membantu memberi saya pencerahan atau sanggup menguraikan kekusutan dalam kepala, pertolongan kalian akan saya sambut dengan senang hati. Huhuhu.

Pernah dengar ini?

"I am a gem, so you must fight hard to get me."

Beberapa kali saya mendengar narasi tersebut dilontarkan oleh perempuan, baik yang usianya di atas saya, seumuran, hingga lebih muda, dari yang saya kenali maupun tidak. Kadang-kadang narasinya ditambahkan kata 'rare' (kayak kalau pesen steak di restoran) dan jujur saja... saya tidak paham. Maka lewat tulisan ini saya bermaksud menumpahkan ketidakpahaman pribadi supaya ada yang berkenan memberi pencerahan, atau minimal mencari teman untuk bingung bersama.

Mohon dibantu agar muka saya nggak kayak gini melulu...

Apanya sih yang tidak saya mengerti?

Saya akan coba berusaha menguraikan... sebisanya (kembali ke poin awal bahwasanya saya ini tidak pandai). Semenjak memasuki tahun 2000-sekian, saya mau tidak mau jadi berangsur menyadari kalau film-film ala fairytale Disney mulai banyak mendapatkan kritik karena hampir selalu menampilkan protagonis perempuan sebagai damsel in distress. Oh baiklah, lebih tepatnya princess in distress. Tuan putri, dengan beraneka ragam kondisinya (dari yang beneran terjajah seperti Cinderella, dipingit ala Rapunzel, dikatain masyarakat "Idih kamu ngapain pinter-pinter, kebanyakan baca buku?" sebagaimana Belle, atau yang cuma bosen doang jadi anak Sultan kayak Jasmine).

Putri-putri ini menunggu 'pangeran' yang berjuang demi mereka (kecuali Belle kali yah, karena berdasarkan kisahnya kan dia dapet kastil megah terpaksa hidup di kastil menemani Beast). Banyak perempuan modern yang memprotes narasi ini karena dianggap tidak empowering. Tokoh protagonis perempuan―alias para tuan putri―dalam kisah-kisah tersebut dipandang sering (meskipun tidak selalu) diposisikan sebagai pihak yang senantiasa butuh diselamatkan, dilengkapi, atau diperjuangkan untuk bisa 'didapatkan'.


I don't know, it just bugs me.

Sebab saya tidak melihat ada perbedaan antara narasi ala "Tuan Putri Disney klasik" dengan "I'm a gem so you must fight hard to get me". Mungkin karena dalam kehidupan nyata, sulit sekali untuk menjadi 'tuan putri' beneran sehingga diganti dengan menyebut diri sebagai gem? Entahlah. Namun bagi saya, yang tidak pandai ini, semuanya terdengar nggak ada bedanya. Sama-sama 'istimewa'; satunya tuan putri di antara rakyat jelata, sedangkan satunya adalah gemstone di antara... mungkin batu kali atau batu bata. Sama-sama menunggu pihak yang bersedia berjuang demi dirinya, sementara dia diperbolehkan untuk bengong saja atau sibuk dengan urusannya sendiri (Aurora, misalnya, sibuk tertidur).

Saya gagal paham.

Esensinya terasa sama saja menurut saya, cuma kata-kata yang diganti. Padahal ungkapan "I'm a gem so you must fight hard to get me" terdengar cukup kuat belakangan ini, yang mana berarti banyak dong perempuan modern yang menyetujui dan mengamini narasi tadi? Kok agak lucu. Membingungkan pun.

Would the 'prince' be forever the only one who needs to fight dragon?

Jadi saya maunya bagaimana?

Nggak mau apa-apa sih. Saya hanya berpikir bahwa semestinya, tidak peduli perempuan atau laki-laki, jika punya keinginan ya harus mau maju untuk 'berjuang'. You are not a gem, you just another human being. Nggak perlu lah sengaja memposisikan diri sebagai pihak untuk 'didapatkan'. Jika memang ada seseorang yang kalian inginkan untuk terus bersama-sama, go for it. Jika ternyata kalian terlalu sibuk untuk mencari pasangan, menganggap urusan jodoh bukan hal yang cukup menarik, atau sebatas nggak selera saja dengan pihak-pihak yang mendekati kalian, tolonglah nggak usah pakai bawa-bawa narasi, "I'm such a gem and he doesn't fight hard enough for me". Bete juga kan seandainya sekadar dianggap trophy girl?

Ayolah. Kan katanya perempuan modern.
(Eh... iya nggak sih? Coba tolong saya diajarin.)
z. d. imama

Sunday, 30 April 2017

First Giveaway!


Yes, you read that right.

Ini memang pertama kalinya saya mengadakan event giveaway seumur-umur aktif ngeblog. Alasannya sederhana: lemari buku di kamar kos saya yang memang kecil mungil ini mulai penuh dan saya butuh sedikit ruang karena Detektif Conan belum juga tamat. Ambisi mengumpulkan komik tersebut sampai akhir cerita masih membara, kawan-kawan sekalian, sehingga dengan berat hati saya harus menyisihkan beberapa buku-buku dari lemari semenjana ini.

Tumben bikin giveaway?

Jangan salah. Saya tidak sedermawan itu kok. Terus terang awalnya saya ingin menjual mereka sebagai secondhand books (maklumlah, saya hanya rakyat kecil kere ceremende yang default condition-nya adalah tidak punya uang), sebagaimana Metro 2033 dan World War Z yang pernah saya jual di postingan tahun lalu demi bisa pulang kampung. Tapi saya bingung bagaimana mau mematok harga karena saya inginnya buku-buku ini bisa berpindah tangan seluruhnya... Berharap ada yang berkenan menerima mereka semua tanpa sisa.

Iya, se-desperate itu.

Lemari saya sudah berasa KRL Jabodetabek saat rush hours di hari kerja. Sumpah. Maka langsung saja saya paparkan judul-judul yang menjadi peserta giveaway edisi perdana kali ini.

Agatha Christie

Edisi bahasa Indonesia. Total ada tujuh buku seperti di foto, terdiri dari The Hound of Death, Cards on the Table, Death in the Clouds, Mrs. McGinty's Dead, The Labours of Hercules, The Adventure of the Christmas Pudding, dan Hallowe'en Party. Untuk sinopsis masing-masing buku (jika kalian merasa perlu tahu gambaran kisahnya terlebih dahulu), bisa ditelisik sendiri di Google, ya. Habis banyak sih... masa mau dituliskan semua satu per satu di sini? (Status update: BOOKED.)

To All the Boys I've Loved Before

Edisi bahasa Indonesia juga, karangan Jenny Han. Setahu saya, buku ini kayaknya bagian pertama dari trilogi, tapi saya belum sempat membaca buku-buku lanjutannya. Cukup menyenangkan dan ringan. Terjemahannya juga relatif enak dibaca meskipun secara pribadi tetap tidak akan sanggup melampaui kualitas translasi junjungan saya, almarhumah Listiana Srisanti. (Status update: BOOKED.)

Vanishing Acts

Edisi bahasa Indonesia, karangan Jodi Picoult, yang merupakan penulis buku My Sister's Keeper (sudah dibuatkan adaptasi filmnya dengan Cameron Diaz dan Abigail Breslin sebagai main casts). Mengisahkan tentang Delia Hopkins, yang hidupnya seolah telah sempurna, tak pernah dirundung perkara berarti sepanjang usianya. Tapi ketika dia hendak merencanakan pernikahan, muncullah kepingan-kepingan kenyataan dari masa lalu yang mengacaukan masa kininya dan membuat Delia mempertanyakan banyak hal. (Status update: BOOKED.)

Maddah

Beberapa waktu lalu ada film berjudul "Danur" yang dibintangi Prilly siapalah-itu-namanya kan? Nah, Maddah adalah semacam sekuel dari versi novel Danur. Sama-sama karangan Risa Saraswati. Iya, buku ini juga berbahasa Indonesia, penulisnya pun orang Indonesia...

The Firm

Edisi bahasa Inggris, saya beli di event Big Bad Wolf Jakarta tahun 2016 lalu (tuh lihat label harganya masih menempel). Ini novel debut John Grisham, mantan pengacara yang akhirnya banting setir menjadi penulis novel-novel kriminal semenjak dua buku pertamanya, The Firm dan A Time to Kill laris manis di pasaran. The Firm mengisahkan tentang seorang pengacara muda yang direkrut sebuah law firm dengan bayaran menggiurkan dan berbagai benefit mempesona, tapi lama-kelamaan mulai terasa ada yang tidak beres dengan tempat kerjanya. Saya cukup suka buku ini namun kurang suka dengan desain kavernya... sehingga saya putuskan membeli satu lagi dengan desain kaver berbeda beberapa waktu lalu, dan yang ini di-giveaway-kan saja. (Status update: BOOKED.)

Hahaha.

Bagi kalian yang berminat, bisa kontak saya via e-mail di coldbutterbeer@gmail.com, via LINE di chocolatefudgecake, atau tinggalkan pesan di fitur "Leave Me Messages!" pada bagian bawah blog ini dan sebutkan buku-buku mana yang kalian inginkan. Biaya bukunya gratis, hanya perlu mengganti ongkos kirimnya baik melalui jasa pos/JNE ataupun Go-Send/GrabExpress (untuk area Jakarta dan sekitarnya). Mohon maaf saya nggak punya cukup kekayaan untuk menggratiskan biaya kirim. Harap dimaklumi. *Pasang tampang memelas.*

Adakah buku yang kalian mau?


UPDATE 2017/05/03:

Buku-buku yang saya giveaway-kan di halaman ini sudah ter-booking semua kecuali Maddah (Kalian kenapa sih, guys? Nggak berminat sama buku karya penulis lokal ya?). Jadi bagi yang masih berkenan mendapatkan buku tersebut, silakan menghubungi saya melalui tiga cara di atas. Terima kasih banyak untuk teman-teman yang telah berpartisipasi dalam giveaway perdana saya! Padahal tulisan ini diunggah hampir tengah malam, tapi ternyata saya cukup mendapat banyak respon kilat.

*Menangis terharu di sudut kamar.*

z. d. imama