Thursday, 27 April 2017

Currently Reading: Akatsuki no Yona


Sudah pernah tersampaikan di blog ini belum kalau membaca adalah sebuah aktivitas favorit saya? Jika ditanya, bacaan yang paling sering saya jamah adalah novel fiksi, komik, dan kertas pembungkus gorengan. Tenang saja, buku pelajaran dan LKS juga masuk jajaran sepuluh besar bahan bacaan yang kerap saya pegang kok. Broadcast hoax via WhatsApp justru sangat jarang saya baca, sebab biasanya ketika ada yang mengirimkan pesan broadcast sepanjang episode Tukang Bubur Naik Haji, langsung saya lewati saja.

Anyway, berbicara tentang komik... meskipun saya relatif terbuka dengan berbagai genre dan target usia, tak bisa dipungkiri bahwa guilty pleasure saya adalah membaca beraneka judul shoujo manga. Nah, apakah yang disebut "shoujo manga" ini? Mari langsung konfirmasikan saja dengan Google supaya tidak terjadi kebingungan.


Mungkin sama seperti saat menyaksikan serial Ameriki bergenre com-rom atau sit-com, hal paling membuat saya hobi ngulik beragam judul shoujo manga adalah karena kisahnya tidak banyak istilah teknis ala-ala sains fiksi atau cerita detektif. Tinggal tergantung latar cerita dan world building-nya saja, tapi secara umum shoujo manga termasuk mudah dimengerti tanpa harus berpikir terlalu serius. Nggak kayak film-film bikinan Nolan yang lagaknya cerdas.

Saya yakin kalian sejatinya sudah cukup familier dengan shoujo manga. Sailor Moon, Card Captor Sakura, dan Magic Knight Rayearth yang pernah saya buat review-nya di sini juga termasuk contoh shoujo manga lho! Belakangan, ada satu judul shoujo manga yang membuat saya sungguh tergila-gila. Ngefans betul. Terjerumus, terjerembap, terperosok, terjebak di dalam liang laknat penuh letupan emosi khas fangirl.

Akatsuki no Yona

"The girl standing in the blush of dawn", kata subtitle versi Inggrisnya.


Tokoh sentral di Akatsuki no Yona adalah seorang putri Kerajaan Kouka, Yona, yang kabur dari Kastil Hiryuu bersama Jenderal Besar pasukan militer kerajaannya (sekaligus teman sepermainan Yona sejak kecil), Son Hak. Iya, nama karakternya memang agak unik karena dengar-dengar Kusanagi Mizuho, pengarang Akatsuki no Yona, membasiskan kisah ini pada legenda dari Taiwan.

(Mencoba setengah mati menahan diri untuk tidak membuat joke Taiwan = Tainya Wawan.)

Kenapa Yona harus kabur dari kastilnya? Apakah dia anak bandel yang sedang mengalami rebellious phase? Sayang sekali tidak begitu. Ayah Yona, Raja Il, mati dibunuh pada suatu malam yang merupakan perayaan ulang tahun Yona, dan tahta kerajaan pun direbut. Demi menyelamatkan diri, Yona ditemani Hak―kalau dalam lafal Jepang, diucapkan sebagai "Haku"―terpaksa mengembara ke seluruh penjuru kerajaan, berpetualang berdua, mendaki gunung melewati lembah hingga berjumpa seorang biksu dekil kurang terawat bernama Ik Soo. Berkat nasihat dan 'wahyu' yang disampaikan Ik Soo, Yona dan Hak pun meneruskan perjalanan mereka dengan tujuan baru: mencari empat orang titisan dewa naga untuk diajak bergabung dan meminjamkan kekuatan yang mereka punya.

Ada versi anime juga

Untuk ukuran shoujo manga (yang rata-rata ceritanya habis di buku volume kesepuluh atau lebih-kurang segitu), Akatsuki no Yona ini boleh dikategorikan panjang sekali karena sudah memasuki volume ke-22... kayaknya. Tahu deh kalau sudah nambah.

Akatsuki no Yona juga terhitung cukup populer di Jepang. Mungkin malah bisa dibilang sebagai salah satu shoujo manga terpopuler saat ini. Biarpun kisahnya panjang, tidak ada perasaan "Wah ini sih sengaja diulur-ulur!" sama sekali. Pacing-nya menyenangkan, believable, dan tidak ada rasa terburu-buru kayak lagi dikejar penagih hutang. Semua tokoh punya sisi abu-abu, manusiawi, bawaannya bikin kita selaku pembaca kepengin sayang. APALAGI CHEMISTRY ANTARA YONA DAN HAK SUNGGUH MENYIKSA KALBU YA RABB MAU DIKEMANAKAN HATI PARA PEMBACA????


Tolong ya Mas, yang begini tuh pelanggaran?? MANA KARTU KUNING MANA???

Rilisan chapter terbaru Akatsuki no Yona terbit dua minggu sekali di Jepang. Menunggu scanlation-nya keluar di internet sih tergantung suka-suka fansub community. Versi bahasa Indonesia sendiri sudah diterbitkan oleh MnC! (tolong beritahu saya kalau ternyata yang menerbitkan adalah Elexmedia), tapi seingat saya sejauh ini baru keluar sampai volume ke-16. Long story short: masih tetap harus tersiksa dengan penantian demi mengetahui lanjutan cerita.

Agak sulit sebetulnya untuk membicarakan angka rating, padahal kisahnya sendiri belum tamat. Namun bagi saya, yang emosinya sukses dijungkirbalikkan sepanjang membaca Akatsuki no Yona, manga ini bernilai 8.7/10. Tadinya mau kasih 9/10 tapi jeda di antara update-nya yang cukup panjang dan bikin senewen membuat saya merasa harus memangkas poin. Elu pikir nunggu itu kegiatan yang enak? Hah? Hah? #Sewot

Bagi kalian yang ingin ikut terjangkit wabah mabok Akatsuki no Yona, scanlation manga ini bisa dengan mudah ditemukan di situs-situs semacam Mangafox, Kissmanga, dan teman-teman seperjuangannya.


Percayalah, kalian tidak akan menyesal.
*Senderan di dadanya Son Hak.*

z. d. imama

Friday, 21 April 2017

What is considered 'cool' (but it's not, really)


I want to live up to my self-proclaiming name as a 'whiny blogger' and now I am back again with another episode of random thinking whining.  Sebab bagaimana pun juga, konsistensi itu perlu di dunia yang penuh perubahan ini. Sebenarnya apa yang akan saya bahas sudah cukup lama berseliweran di kepala, tetapi sampai kemarin belum ada sesuatu yang benar-benar membuat saya terpelatuk dan merasa "Kayaknya ini mendingan ditulis di blog saja deh daripada isi kepala makin berisik..."

As long as I live, never once I was a 'cool' kid. I had my share of being 'famous' but it was either because of my body weight or my grades. Whom, you know, other kids tend to avoid (nobody likes ugly, fat girl who is top of her class). Apalagi kondisi ekonomi keluarga yang tidak memberikan saya privilese tertentu untuk masalah 'pergaulan'. Saat saya kelas 6 SD dan Nokia 6600 serta Nokia N-Gage adalah semacam "Anak Gaul Starter Pack", saya punya ponsel pribadi saja tidak. Saya tidak mengeluh sih, tapi kadang-kadang geli juga kalau mengingat betapa masa-masa kanak-kanak dan remaja saya krisis 'memori istimewa' sebagaimana yang digembar-gemborkan sebagian orang.

I'm sorry, my younger self.

Namun entah kenapa, saya semacam ingin protes terhadap segregasi 'cool' versus 'uncool' ini. Sebab saya tidak merasa bahwa banyak hal yang dianggap 'keren' adalah 'benar-benar keren'. Kalau dibilang beda perspektif sih rasanya tidak juga. Tapi kalau perbedaan standar decency... bisa jadi. Nggak usahlah bergaya moderat dengan ngomongin perspektif-perspektif segala, toh Edogawa Conan juga setuju kalau kebenaran hanya ada satu. *Kemudian dilempar sabit rumput*

Terus terang, saya tidak menemukan apa yang keren dari hal-hal berikut:

1. This kind of thing.

Lokasi di Kyoto (kemungkinan hutan bambu Sagano di Arashiyama).
Foto dari @icblues.

Sejak dulu saya menganggap mencorat-coret (atau mengukir-ukir) batang pohon, kursi, atau segala benda yang digunakan masyarakat umum adalah kelakuan norak. Tidak terdidik. Tidak memahami tujuan adanya suatu benda dan alasan mengapa harus dijaga bersama-sama. SIAPA SIH INI ANDIKA DAN TITIS/TILIS? Sumpah, saya semacam ingin mendoakan semoga mereka mencret tiga tahun nonstop nggak ada obat. Apanya yang keren sih dari bertamu ke negara lain lalu mencorat-coret pepohonan di tempat wisata? Merusak atau mencoreti benda/fasilitas umum di negara sendiri saja sudah norak, lah malah di negeri orang juga...

Bagi saya sih, ini kurang ajar. Atau bego.
Atau dua-duanya.

2. This kind of thing

Lihat komentarnya bikin pengin istighfar...

Keramaian soal foto Instagram Djenar Maesa Ayu ini terjadi beberapa waktu yang lalu, dan, meskipun sudah diklarifikasi oleh DMA (namanya panjang, saya capek) dengan pernyataan dan beberapa foto bukti bahwa beberapa meter di depan pilar itu ada smoking area―saya masih tetap terusik dengan pesan yang diusung foto tersebut (serta reaksi-reaksi sejumlah orang). 

#BadExampleIndeed.
"Yes officer. I did see the no smoking sign but I didn't see you."

She's supposed to be 'budayawan'. Tapi justru dengan bangga 'mempromosikan' sikap dan perilaku seperti ini... lagi-lagi di negeri orang lain. Jadi ya bukan hal ajaib ketika kita ngomel sama segerombolan anak-anak yang naik motor boncengan bertiga (kadang malah berempat empet-empetan) tanpa helm, jelas belum punya SIM, kelakuan mereka justru dijustifikasi orang-orang dewasa dengan alasan, "Ah deket kok cuma keliling komplek," atau, "Ah nggak apa-apa toh nggak ada polisi". 

Lebih sedih adalah ketika orang-orang membela―bahkan tak jarang menyanjung dan mengelu-elukan―hal-hal yang melanggar hukum seperti ini dengan menyebutnya "rebel". Yaa Rabb. Tabok pakai kamus juga nih. Tolong bedakan dong, antara menjadi "rebel" dengan menjadi "offender". Emang susah ya ngomong sama bubur ketombe.

3. This kind of thing

Ini juga sumbernya dari @icblues. Lokasi: Bandara Haneda.
Sampah bekas makanan turis Indonesia yang tidak dibereskan.

Bangsa kita ini sepertinya selalu ingin dilayani. Alias "mental ndoro". Atau, kalau mau lebih sopan, banyak dari masyarakat kita yang terbiasa melimpahkan kesalahan dan dampak dari hasil perbuatannya kepada orang lain. Mau contoh? Ingat nggak saat kita kecil dan terjatuh, tersandung, atau menabrak sesuatu, pasti ada orang dewasa yang justru bilang, "Ih mejanya nakal!" sembari nabok meja yang kita tabrak? Melimpahkan beban (dalam kasus ini kesalahan) pada pihak lain, padahal kita saja yang jalannya nggak belum becus.

This is absolutely not 'cool'. Mental Ndoro is not a cool thing. Your comments of "Ah nanti kan juga ada yang beresin" is not a cool response. Okelah kalau ingin manja-manja, ingin dilayani ketika di rumah ada yang mengurus, punya asisten rumah tangga. Tapi ketika pergi ke negara lain yang punya prinsip kemandirian dan kebersihan, FOLLOW THE FREAKING RULES.  Bisa beli tiket ke Jepang tapi nggak bisa buang sampah yang dihasilkan sendiri tuh apa-apaan sekali. Berduit tapi nggak beradab.

Sekian dulu episode ngomel hari ini.
*Turun mimbar*

z. d. imama

Thursday, 6 April 2017

And so... goes my resignation letter.


*Sungkem kepada Tante Britney.*

Sebagaimana yang sudah ter-spoiler-kan oleh judul postingan blog kali ini: saya memutuskan berhenti dari kantor lama saya. Pindah kerja ke kantor baru. Belajar lagi. Kenalan sama semua orang lagi. Sebetulnya nggak bisa dibilang 'resign' juga sih... karena memang masa kontrak saya sudah habis (maklum masih PKWTーsilakan di-google jika merasa asing dengan istilah-istilah semacam ini hahaha) dan tidak memperpanjang saja.

Saya tidak akan panjang lebar membahas sebab-sebab kenapa saya memilih berhenti dari kantor lama. Nggak seru. Tapi berhubung kantor lama notabene adalah tempat kerja perdana saya, ternyata ada emosi-emosi tertentu yang secara seenaknya menyeruak dari dalam dada tanpa saya kehendaki. Atau istilah gampangnya: diam-diam baper.

Pindah kantor ternyata bisa sebaper ini.

Sumpah saya baru tahu.

Entahlah. Barangkali karena sebenarnya saya sangat menyukai atasan saya di kantor lama. Orangnya kurang lebih seusia dengan ayah saya sendiri dan beliau benar-benar baik. Banyak mengajari saya berbagai hal. Lucu pula. Teguran-teguran yang disampaikan ketika saya melakukan kesalahan tidak pernah disampaikan secara tak enak. Tuh kan, mengingat Pak Bos kantor lama begini saja rasanya saya kepengin menangis. Sungguh lemah hati saya ini. Kray.

Tapi ya... disebabkan oleh berbagai hal (dan semoga tentu saja demi kemaslahatan diri sendiri), saya memang harus pindah kantor. Masih banyak yang ingin saya pelajari dan lakukan. Syukur-syukur berhasil menemukan pekerjaan yang memang menjadi idaman. I'll try to do my best even from now on.

*Mengepalkan telapak tangan dan meninju udara.*

z. d. imama

Saturday, 25 March 2017

The Angkot Blues


Beberapa hari belakangan, linimasa Twitter saya ramai dipenuhi kawan-kawan―dan kawannya kawan-kawan, bahkan hingga orang-orang yang sama sekali tidak saya kenal―membahas mengenai jasa transportasi online dan konvensional (bus swasta, Metromini, angkot, dan lain sebagainya) karena peraturan Kementerian Perhubungan, yang contoh artikel beritanya bisa dilihat dari sini dan sini. Terus terang saya cukup tergelitik untuk ikut bersuara... dan akhirnya saya putuskan untuk membuat tulisan ini.

Jika dinilai dari keriuhan di Twitter, kebanyakan orang-orang menyatakan dukungan pada eksistensi transportasi online. Aturan Kemenhub tidak adil, katanya. Jaman sudah berganti, masyarakat sebagai konsumen butuh moda alternatif, dan saya juga melihat orang-orang (here I am trying my best not to use that N word) beramai-ramai mengisahkan pengalaman buruk mereka saat naik angkot, Metromini, atau transportasi umum konvensional. Saya membaca puluhan―atau ratusan?―tweet-tweet pengalaman itu dengan perasaan agak miris. Sedih. Nyaris tidak ada yang 'membela' angkutan konvensional. Tetapi saya lebih sedih lagi karena tahu betul bahwa... benar adanya semua hal-hal yang dikeluhkan masyarakat pengguna transportasi umum.


Angkot dan bus swasta merupakan sarana transportasi saya sehari-hari sejak SMP hingga kelas 2 SMA. Bahkan kuliah pun, karena saya gadis rantau yang tidak memiliki kendaraan pribadi di perantauan, saya selalu menggunakan transportasi umum, Ibaratnya, jika Paula Hawkins membuat novel best seller dengan judul The Girl on The Train (yang difilmkan dan saya buat review-nya di sini), maka saya sesungguhnya bisa membuat novel tandingan bertajuk "The Girl on the Angkot" dengan bermodal pengalaman hidup pribadi.

Kecopetan handphone? Pernah. Dua kali, malah. Bahkan ketika itu saya masih anak sekolahan. Diturunin seenaknya di tengah jalan? Sering. Dipaksa turun padahal belum sampai tempat tujuan, tapi ongkos tetap ditarik? Berkali-kali. Dikata-katain pengamen semi-preman karena nggak ngasih, tapi kernet cuek-cuek aja berlagak nggak liat? Bukan sekali-dua kali. Sempat juga diancam mau diperkosa (waktu itu hanya saya yang ada di dalam Metromini) oleh tiga orang pengamen karena saya menolak memberi mereka uang. Ngetem kelamaan sampai buyar semua rencana? Hahaha... lagu lama. Belum lagi ditambah episode angkot dan bus yang kebut-kebutan karena kejar setoran atau berebut penumpang. Padahal tahu sendiri sebagian dari angkot dan Metromini itu sudah tidak layak jalan, besi tua, bodinya lebih mirip kaleng kerupuk... jadi ya kalau dipakai ngebut ugal-ugalan suaranya gedumbrangan dan setengah 'terbang'.

Oh, satu lagi. Jangan lupakan frase legendaris sang kernet/supir angkot dan bus: "Ayo, ayo, masih kosong.. masih lega" padahal kondisi penumpang sudah lebih mirip pepes sarden. Nggak paham deh sumpah. Saya pernah protes kepada supir ketika angkot yang saya naiki ngetem lama. Jawabannya, "Kalau mau cepet nggak usah naik angkot! Bawa motor!" Pernah juga sejumlah penumpang di Metromini yang saya naiki meneriaki kernet yang memaksakan muatan, eh dibalas dengan nada menghina, "Kalau mau lega ya naik taksi sono!"

Masih ingat kecelakaan tahun 2015 ini?

Dulu, sering sekali saya menahan kemarahan hanya gara-gara naik angkot atau Metromini. Sumpah nggak sehat. Bikin stres. Makin rawan depresi akibat meratapi ketidakmampuan diri bayar lebih untuk naik kendaraan yang lebih 'oke'. Wajar kan apabila belakangan ini transportasi umum yang kerap saya gunakan (selain ojek online, because my broke ass cannot afford the 'car version') hanya TransJakarta dan Commuter Line? Kondektur TJ adalah satu-satunya yang berani mengatakan, "Tunggu bus selanjutnya, ini sudah tidak muat" kepada penumpang.

Namun, di belakang rentetan pengalaman tidak mengenakkan itu... saya pernah satu kali ditolong oleh bapak supir angkot. Nggak aneh-aneh sih ceritanya. Suatu hari saat masih mahasiswa, saya pulang kemalaman setelah dari Bandung mengunjungi teman. Kehabisan bus MGI arah Depok, dan akhirnya naik bus tujuan Bogor... diturunkan di sebelum tol Jagorawi. Hahaha. Padahal itu sudah lewat dari jam sebelas malam apa ya? Nah, saya melompati pagar pembatas jalan tol, turun ke jalanan 'biasa' yang letaknya agak di bawah, lalu terbengong-bengong mencari cara untuk pulang ke kosan. Kemudian lewatlah sebuah angkot kosong yang ketika saya tanya, "Sampai Pondok Cina, Pak?" supirnya mengiyakan. Berkilo-kilo meter kemudian, saya baru tahu kalau ternyata jalur angkot tersebut sama sekali berbeda... namun pak supir memutuskan mengantar saya pulang agar tidak kelamaan di jalanan tengah malam.

Terima kasih banyak, bapak supir angkot. Saya tidak sempat menanyakan nama bapak, tapi kebaikan bapak waktu itu tidak akan pernah saya lupakan, Pak.


Well, anyway...

Semoga dengan segala hiruk-pikuk transportasi online ini, angkot, Metromini, bahkan ojek pangkalan (yang pasang tarif seenak jidat meski seringkali tidak mau menyediakan helm) mau berbenah diri. Masyarakat maunya sederhana kok: aman dan terjangkau. Urusan nyaman... sepertinya selama masih manusiawi dan tidak membahayakan keselamatan, cukup bisa dikompromikan kok. Contoh: Commuter Line pada jam sibuk. Penuh sesak, terbilang tidak nyaman, tapi berhubung masih relatif 'aman' ya sudahlah.

Gitu aja sih.

z. d. imama

Monday, 20 March 2017

That One Comedic Delight is "Water Boys"


Kadang kala ada film yang membuat kita mengutuki diri sendiri setelah selesai menontonnya. Bukan karena kualitasnya jelek, tetapi karena menyesali kenapa tidak dari dulu-dulu menyaksikan film tersebut. Hal tersebut saya alami beberapa kali, salah satunya dengan Water Boys. Film yang rilis di Jepang tahun 2001 silam ini baru saya tonton 16 tahun kemudian... padahal file-nya sudah ter-download entah sejak kapan. Bego betul.

Water Boys, arguably, is one of the most hilarious Japanese movies I've ever watched.

Sangat menghibur. Kisahnya tidak ambisius ataupun pretensius. Bener-bener 'cowok SMA banget', yang mana masih mengedepankan soal persahabatan dan bertingkah bego bareng-bareng... tapi sudah mulai lirik-lirik cewek dan paham masalah mesum dikit-dikit. Saya sukses dibuat terbahak-bahak sejak sepuluh menit pertama. Film Water Boys ini lugu, apa adanya, tidak banyak tempelan sub-plot di sana-sini tapi tetap gokil.

Oh, lupa bilang. Ini film Jepang ya... karena saya #BudakYapan™.


Cerita dibuka melalui sudut pandang satu-satunya anggota klub renang SMA Tadano, Suzuki (diperankan Tsumabuki Satoshi), yang tidak pernah menang kejuaraan. Klub renang SMA Tadano tidak populer sehingga sulit mendapat anggota baru. Artinya, jika Suzuki lulus nanti, kemungkinan klub renang akan bubar. Sedih, kan. Suzuki pun sering mengalami existential crisis akibat merasa lemah dan tidak mampu menyelamatkan klubnya.

Bawaannya nangis di bawah shower. Persis kayak saya pas lagi sedih.


SMA Tadano kemudian kedatangan seorang guru, Sakuma Megumi, yang kemudian dimandati sebagai pengawas klub renang. Berhubung Sakuma-sensei ini cakep, sejumlah cowok pun berbondong-bondong mendaftar sebagai anggota baru klub renang. Namun ternyata oh ternyata... Sakuma-sensei bermaksud membentuk klub synchronized swimming dan bukan klub renang biasa. Cowok-cowok yang tadinya ingin bergabung ke klub renang pun langsung kabur semua karena synchronized swimming identik dengan anak perempuan. Tinggal Suzuki, Sato (diperankan dengan sangat geblek oleh Tamaki Hiroshi), Ohta, Kanazawa, dan Saotome yang masih tersisa.

Sakuma-sensei berencana mengadakan pertunjukan synchronized swimming untuk Festival Sekolah yang diselenggarakan sehabis libur musim panas. Masalah muncul ketika Sakuma-sensei harus cuti panjang oleh sebab suatu alasan mendesak. Suzuki dan teman-temannya jadi tidak punya pelatih untuk synchronized swimming, padahal mereka semua masih newbie. Apa yang harus mereka lakukan...?

Cowok-cowok yang termakan pesona Sakuma-sensei.

Lima orang yang tersisa.

Parah. Parah. Saya tidak bisa berhenti tertawa menyaksikan Water Boys. Minimal cengar-cengir. Bahkan memasuki beberapa menit awal saya sudah ngakak sampai tersedak-sedak. Kacau banget lah pokoknya. Walaupun terbilang sports movie, Water Boys sama sekali tidak menyentuh perkara turnamen-turnamen yang biasanya menjadi latar belakang motivasi 'kebangkitan' suatu klub atau tim olahraga. Gol tujuan Suzuki dan kawan-kawannya ya memang sebatas Festival Sekolah saja. Sederhana. Realistis. And funny as hell.

Film ini sangat ringan dan begitu happy-go-lucky, bahkan tidak ada karakter jahat di dalamnya (kalaupun ada... berarti saya yang cukup bego untuk tidak menyadarinya saking sibuk tertawa). Salah satu hal yang saya paling sukai dalam Water Boys adalah bagaimana interaksi antara Suzuki, Sato, Saotome, Ohta, dan Kanazawa diperlihatkan. Karakter mereka masing-masing berbeda, namun kelimanya bisa berteman akrab meski tidak jarang dihiasi berantem-berantem unyu yang kembali akur beberapa menit kemudian. Shots-shots yang memperlihatkan kelima cowok-cowok itu dalam satu deret juga merupakan favorit saya sepanjang film. Menyenangkan sekali melihat mereka tampil berentengan dengan kompak.

Tidak percaya? Nih, contoh-contohnya:




Seringnya, dalam sebuah film, kita sebagai penonton pasti punya satu atau dua adegan favorit yang paling membekas di kepala (kadang juga hati, soalnya bikin baper). Saya sulit menemukan scene favorit di Water Boys karena semuanya sangat kocak dan sulit untuk 'diabaikan'. Namun, ada sebuah peristiwa di game center yang paling sukses membuat saya nyengir geli. Screenshot-nya bisa dilihat di bawah ini:


Berdasarkan penilaian pribadi, saya berikan Water Boys 8.5/10. Agak bias karena saya diam-diam penggemar Tsumabuki Satoshi dan Tamaki Hiroshi, namun saya berani bilang bahwa Water Boys benar-benar menghadirkan sebuah hiburan murni yang menyenangkan dan menghangatkan hati. Bikin nostalgia pada masa-masa saya sekolah di Kyoto Tachibana High School, yang beberapa kisahnya bisa ditemukan di bagian awal-awal blog ini (mohon maklumatnya karena saya masih sangat alay di kala itu). Tentu saja, tampang cengoh Suzuki juga menjadi poin yang cukup saya nanti-nantikan sepanjang film. Tsumabuki Satoshi could totally look like a dumbass and I would still think that he's cute.


Kenapa coba nggak dari dulu nonton ini...
#PenyesalanMendalam

z. d. imama

Friday, 17 March 2017

On getting catcalled.


Sebagai gadis rantau yang hidup sendirian sebagai warga kos-kosan di kota Jakarta (jomblo pula) dan tidak punya banyak teman, pergi ke mana-mana sendirian adalah tindakan default saya sehari-hari. And for the love of God, setiap kali saya bepergian, minimal satu kali pasti mengalami di-catcall mas-mas atau bapak-bapak. Disiul-siulin. Digodain. Diledekin. Ditanya, "Mau ke mana Neng?" sampai dikatain sombong ketika saya memutuskan untuk tidak menggubris celetukan-celetukan itu. Sungguh saya tidak habis pikir. Ngapain sih? Saking seringnya mengalami kejadian macam begini, jika saja saya dapat Rp1000 untuk tiap catcall yang diterima, tampaknya saya sudah cukup kaya-raya.

Anyway,

Awal bulan Maret lalu, di Jakarta diadakan event Women's March pertama. It's an important event all right, but I never realized how much we need that kind of movement until I saw someone who happened to be a Cleo's "eligible bachelor" went full ignorant mode on his Instagram account.

Screenshot from March 5th. "Eligible bachelor" mbahmu kiper...

Saya tidak akan membahas paragraf pertama karena di Twitter dan beberapa media sosial lain sudah cukup banyak yang memberikan counter argument dan memaparkan kenapa logika masnya nggak jelas dan sebatas sok cerdas. Saya pribadi justru tergelitik di paragraf kedua, yang mana jika wording-nya diganti akan kurang lebih menjadi seperti berikut: "Gue mau tanya nih, itu orang-orang yang bilang kalau mereka nggak suka di-catcall emangnya pernah dapet catcall? Emang ada yang sudi catcalling mereka?"

Bro, bro. Newsflash: I am this ugly and yet people still catcall me. Serius deh. Kalau memang "cewek-cewek jelek" dianggap tidak mungkin mendapatkan catcall, saya seharusnya bisa hidup damai tanpa pernah mengalami digodain mas-mas dan bapak-bapak saat pergi sendirian. But it doesn't work like that. It never works that way. And as much as I hate to say it, catcalling is something that has been present in our society for a long time.

Saya rasa banyak perempuan (if not all of us) yang setiap harinya merasakan kecemasan akan mengalami serangan dan pelecehan seksual, baik itu secara verbal maupun fisik ketika sedang beraktivitas sendirian. Bahkan 'hati-hati' rasanya tidak cukup. Bagi banyak perempuan, default status saat beraktivitas tanpa teman yang mendampingi adalah 'waspada'. Atau jika meminjam istilah Mad-Eye Moody di Harry Potter: Constant Vigilance.

Capek, guys. Lelah.


You see, when we girls are growing up, we are taught "the buddy system". Girls are advised not to go anywhere without telling an adult or without a friend or two. Nasihat-nasihat klasik seperti "Jangan pergi sendirian", "Kalau mau keluar sampai malem harus ada temennya", bahkan peringatan "Buat jaga-jaga aja kalau ada apa-apa" adalah sesuatu yang sangat akrab di telinga. It’s one kind of fear we girls learn to live with, and it’s one kind of fear that many men out there don’t understand (including the so-called Cleo's eligible bachelor). Tapi apakah ketika seorang perempuan melakukan berbagai kegiatan atau pergi ke bermacam-macam tempat tanpa ditemani siapa pun, maka dia 'layak' mendapatkan gangguan berupa catcall, dan 'layak' menerima komentar seperti "Lu sih perginya sendirian" saat mendapatkan perlakuan yang tidak diinginkan dari orang lain? I do not think soAnd even Playboy magazine made a flowchart about whether or not men should catcall women, if people still need a somewhat guide.

People also shall remember that the victim is never to blame.

Iya. Bukan salah pihak yang kena catcall. You read that correctly. The victim is never at fault, and that catcalls are not even close to compliments. Berkali-kali saya menerima catcalls dan tidak pernah satu pun di antaranya yang membuat saya senang atau tersanjung. Merinding sih iya. Marah sih banget (tapi mau tidak mau ya saya tahan dalam hati). So if they catcallers thought it would brighten my day, make me feel empowered, or even that I would be flattered that they took time out of their mundane day to shout words and whistle at me... I can surely say that never once I felt those things.

I dream of the day when I can walk home (or anywhere) without getting catcalled and/or whistled at by abang-abang PKL, mamang-mamang ojek pangkalan, bapak-bapak chatting in group at poskamling or basically men in general.

*Deep, long sigh.*

z. d. imama

Thursday, 2 March 2017

The Wolverine is now simply 'Logan'


Saya punya complicated relationship dengan franchise X-Men. Beberapa kali ekspektasi saya dilambungkan tinggi melalui film keren seperti X-Men: Days of Future Past hanya untuk dihempaskan lagi dengan film berbau 'Yaudah lah ya gaes, yang penting jadi' dan ada Mbak Olivia Munn kayak X-Men: Apocalypse. Maka ketika saya diajak nonton Logan oleh seorang kawan... ekspektasi saya nggak ada sama sekali. Lagian kalau boleh terus terang, saya nggak terlalu ngerti juga sih timeline di X-Men itu kayak gimana.

Tapi ya tetep berangkat ke bioskop.

Filmnya bubar jam 00:15. Lumayan juga durasinya.

Tadinya saya cuma termotivasi, "Okelah nggak apa-apa kalaupun ternyata filmnya embuh... minimal ada Om Hugh Jackman yang ganteng". Eh ternyata saya salah besar. Filmnya sih bagus, tapi di sini Om Hugh Jackman-nya jelek! Hahaha. Dekil, memprihatinkan, nggak terawat gitu (atau mungkin sengaja nggak merawat diri supaya sulit dikenali). Sepanjang film sama sekali tidak ada momen-momen yang bisa saya gunakan untuk fangirling. Padahal banyak banget adegan Om Jackman ke mana-mana cuma pakai kaos singlet pamer badan. Tetep gagah dan tinggi menjulang, sih. Tapi saya terlalu fokus ke ceritanya sehingga tidak terdistraksi melakukan hal aneh-aneh.

Kemarin Twitter sempat ramai membahas rating Logan yang tergolong dewasa (di tiket saya juga tertulis 17+, tapi menurut saya lebih baik 21+ sekalian), dan sungguh itu benar adanya. Sepuluh menit pertama―atau malah lima menit pertama?―penonton sudah disuguhi appetizer yang membuat kita punya bayangan, ke menit-menit berikutnya film ini bakal jadi kayak apa. Adegan berantemnya nggak tanggung-tanggung. Serpihan-serpihan daging manusia seringkali terpampang nyata seolah-olah itu remahan brownies. Jangan bawa anak-anak untuk nonton Logan ya Pak, Bu, jika kalian keberatan buah hati kalian terpapar kekerasan ekstrem. Kalau masih nekat bawa anak kecil tapi kemudian ngomel-ngomel ke pihak bioskop di media sosial itu sih tolol...

Nek ngeyel, takculek mripatmu!

Cerita Logan berlatar di tahun 2029, saat James Howliett (alias Logan alias Wolverine) sudah mulai uzur dan Charles Xavier sudah menjadi tua bangka. Di sini saya menyadari, Hollywood telah belajar satu hal penting: tahun 2029 pun hidup manusia juga kayaknya bakalan gini-gini aja. Ingat kan, gegap gempita semasa mendekati tahun 2000? Semua film berlomba bikin konsep tahun 2000-an yang futuristik lengkap dengan mobil terbang, gedung mengambang, pintu ke mana saja, blah blah blah. Pret. Mimpi, bro. Di Logan, Hollywood tampak realistis dengan tidak menampilkan hal-hal yang terlalu wow nan utopis. Biasa aja... kayak La La Land.

*Kemudian dibakar hidup-hidup oleh netizen.*

Oke. Logan dikisahkan hidup mengasingkan diri bersama Profesor X di pinggiran Meksiko dengan bantuan mutan lain bernama Caliban. Demi mencari nafkah, Logan bekerja sebagai supir limusin sewaan (kayaknya sih sistemnya semacam Uber atau GrabCar gitu deh). Harapan Logan sebenarnya hanyalah menjauhkan diri mereka sebisa mungkin dari khalayak ramai. Ditambah lagi, dunia sekarang tidak mutant-friendly.

Tapi demi perkembangan cerita... angan-angan Logan harus tidak terkabul. 

Sesosok perawat bernama Gabriela menemui Logan dan meminta pertolongan untuk mengantarkan dia dan anak perempuan bernama Laura keluar dari Meksiko. Menuju North Dakota. Dibayar, sih. Lumayan mahal pula. Masalahnya, ternyata mereka berdua diincar oleh sekelompok orang jahat (anggap saja begitu). Logan akhirnya dilanda dilema. Perlukan dia menolong Gabriela demi uang bayaran yang lumayan? Atau berlagak cuek dan pura-pura nggak kenal demi menjaga stabilitas status quo?


Kehadiran Laura, gadis kecil yang dibawa Gabriela, tadinya membuat saya punya kesan bahwa film ini berbau Disney-ish. Macem Iron Man 3, gitu. Iya sih, terasa mirip film Disney... tapi ditujukan bagi anak-anak yang terlalu cepat tumbuh dewasa. You will get what I mean when (or after) you watch this movie.

Jujur saya iri dengan Dafne Keen, pemeran Laura. Umur segitu dia sudah main film action dari franchise terkemuka bareng Hugh Jackman serta Patrick Stewart, dengan kualitas akting yang mumpuni. Mungkin karena dia belum kenal jaim jadi justru bisa lebih bebas. Sementara saya ketika seusia Dafne, perilaku yang paling mendekati 'action' adalah memanjat pohon talok dan pohon pete di halaman depan sekolah. Kesenjangan nasib dan talenta ini sungguh membuat saya insekyur.


Nonton Logan ini capek. Sumpah. Menguras emosi. Not in the Dangal level of 'emotionally engaging', but it exhausts us nonetheless. Perasaan penonton dilibatkan di setiap adegannya, membuat Logan bisa dikatakan sebagai film X-Men yang paling down-to-earth dan 'apa adanya'. The emotions are so raw and so there. Beberapa kali saya bawaannya kepengin menghampiri Om Jackman lalu ngepuk-puk bahu dia yang alamak itu.

Kisah Wolverine selama sekian tahun ini telah ditutup oleh 'Logan' dengan baik. Bukan akhir yang ideal. Bukan pula akhir yang sempurna. Bahkan mungkin bukan akhir yang diinginkan beberapa orang. Tapi hidup manusia memang hampir tidak ada yang ideal dan sempurna kan? Hidup juga tidak selalu berjalan sesuai keinginan. Some gains and some losses. But everything still works out fine.

Bagi saya, film ini 8.3/10.

Mau nggak seandainya ada yang ngajak nonton lagi? Waduh.. nggak deh. Hati saya nggak kuat menghadapi intensitasnya. Hahaha. Haha. Ha. #DasarLemah

z. d. imama

Sunday, 26 February 2017

Mother Game (How You Play Parenting Game)


Japanese drama (atau disingkat J-drama) merupakan soap opera alias sinetronnya televisi Jepang. Sekadar trivial information, saya suka sekali menonton dan mengoleksi J-drama. Entah sudah berapa terrabyte memori HDD eksternal saya habis demi menyimpan semua file tersebut. Sungguh Budak Yapan yang hakiki, bukan? Menurut saya pun, drama Jepang masih lebih bagus dibandingkan Korea dari segi kisah maupun penuturan. J-drama cenderung lebih kompleks dan padat, tidak bertele-tele, karena satu serial biasanya hanya 6-12 episode sudah tamat. Bandingkan dengan drama Korea yang rata-rata dua puluh sekian episode.

Apalagi Tukang Bubur Naik Gaji, eh... Haji.

Saya hendak mengisahkan sedikit tentang J-drama yang belakangan saya tonton dan anggap bagus. Well, yeah, I must admit, as much as I love Japanese dramas, sometimes I find one or two series that feel quite 'meh'. Biasanya yang begitu gara-gara aktor dan aktrisnya masih ABG. Maklum, baru debut, kualitas aktingnya rata-rata masih kaku kayak kanebo kering. Nah, J-drama terbaru yang nyangkut di hati saya kali ini berjudul:

Mother Game

Tayang di Jepang tahun 2015 lalu, dan rating-nya di AsianWiki mencapai 92%. Tinggi banget kayak apartemen-apartemen Agung Sedayu. Bisa ditebak dari judulnya, kisah Mother Game adalah seputar kehidupan menjadi seorang ibu. Tapi dikemas dalam setting dan alur yang menyenangkan, menegangkan, nyata, dan sekaligus hangat.


Kamahara Kiko (diperankan Kimura Fumino) adalah seorang single mother dari anak laki-laki umur lima tahun bernama Haruto. Alasan jadi single mother? Biasalah, dulu nikah muda, punya anak, eh ternyata hari ke hari suaminya makin nggak jelas dan nggak bisa diandalkan sehingga akhirnya mereka bercerai. Same old story, people, same old story. Sebagai orang tua tunggal yang harus bekerja demi menafkahi keluarga kecilnya, Kiko pusing karena jasa penitipan anak di tempat yang selama ini jadi langganannya tidak bisa diperpanjang. One thing turns to another, dan Kiko kebetulan bertemu dengan Naraoka Fumi, seorang ibu-ibu yang mengaku sebagai kepala Taman Kanak-Kanak Shizuku. "Gimana kalau Haruto didaftarkan saja ke TK kami? Kan bisa bermain sambil belajar," begitu tawaran sang ibu-ibu.

Berhubung butuh... diiyakanlah tawaran tersebut oleh Kiko.

Ternyata oh ternyata, Taman Kanak-Kanak Shizuku merupakan TK elit yang terkenal di kalangan kaum menengah atas (beberapa rada ngehe juga sih). Setiap hari seluruh murid diantar ibu mereka masing-masing naik mobil mewah. Ibu-ibu ini pun selalu pakai barang mahal tiap mengantar anaknya. Semacam pamer harta dan menjaga kasta. Hanya Kiko yang jelata. Pakai baju biasa, Haruto diantar dengan sepeda.


Setiap episode Mother Game mengangkat kisah hidup Kiko dan para ibu-ibu di TK Shizuku. Perjuangan mereka sebagai istri dan orang tua, sekaligus sebagai perempuan pada umumnya. Diperlihatkan pula Kiko, satu-satunya #SobatKizmin di sekolah elit, berusaha mendobrak hierarki dan melakukan perlawanan terhadap tekanan-tekanan yang dia terima dari beberapa ibu-ibu lain. Saya suka bagaimana drama ini menyampaikan episode demi episode. Memperlihatkan Kiko yang tadinya sempat jadi musuh bersama (berhias bisik-bisik, "Ini ngapain anjir ada gembel nyasar di sini?" dari kanan-kiri), lambat laun mulai memperoleh tempat di tengah-tengah ibu-ibu kelas atas, berkat keberanian dan ketulusannya.


Jujur saja, minat saya untuk mulai nonton Mother Game timbul bukan disebabkan oleh judul maupun ringkasan ceritanya yang terdengar menarik. Tetapi karena mbak Kimura Fumino jadi tokoh utama. Iya, faktor bias. Persis seperti ketika saya memutuskan nonton The Girl on the Train cuma gara-gara ada mbak Emily Blunt. Mohon maaf, saya memang orangnya begini.

Di mata saya, Kimura Fumino adalah satu dari aktris Jepang favorit saya yang aktingnya terbilang jago dan terlihat sangat alami. Kayak nggak pakai usaha. Nggak takut ekspresi mukanya tampak norak bahkan jelek di depan kamera. Nggak jaim. Tapi anehnya, walau Kimura Fumino selalu all out dalam berakting, entah kenapa lihat wajahnya saja sudah bikin hati saya adem. Seolah-olah ada aura khusus yang menguar dari dalam. Jenis orang yang―bagi saya―dipandang berkali-kali pun tidak akan bosan. I can spend hours just looking at her face and feeling at ease.



Tetapi ternyata dalam perjalanan menyimak episode-episode Mother Game, saya menemukan kejutan menyenangkan lain. Sosok Naraoka Shinnosuke, wali kelas Haruto, diperankan oleh Seto Koji (yang juga adalah salah aktor favorit saya karena ganteng banget yaa Rabb). Saya sedikit kaget melihat di sini Seto Koji memerankan sosok guru, mengingat dia lebih sering mendapat karakter anak muda yang cengengesan dan semau gue―menyesuaikan pembawaannya yang manis dan cenderung asik.

But then again, I wouldn't bother complaining if I had a teacher who looks like this.



*Ngelap iler yang berceceran di muka karena kebanyakan halu.*

Oke, mari kita kembali fokus.

Untuk Mother Game saya sematkan rating 9.5/10. Sebagus itu, kok. Alur ceritanya dituturkan dengan baik, kecepatan perkembangan cerita juga believable. Total ada 10 episode, yang mana intensitas masing-masing episode terbilang kompetitif. Tidak ada yang berlebihan, tidak ada yang terlalu santai atau draggy. Kualitas produksinya top-notch. Bisa terlihat dari berbagai detil termasuk pengambilan gambar, pernak-pernik properti, akting, kostum (bahkan baju-baju milik Kiko tidak pernah ada yang fashionable), dan lain-lain. Saya sama sekali tidak menyesal melenyapkan 11GB free space dari HDD eksternal saya agar drama ini bisa tersimpan aman. One of the best J-dramas I have ever watched, and this is definitely going up to the first half of the list.

Jadi single mother itu sungguh penuh perjuangan...

z. d. imama

Friday, 24 February 2017

#WhateverCuisine: When cabbage and meat get a fusion.


Tulisan ini entah sudah berapa lama nyangkut di draft saya nggak sempat dipublikasikan. Akhirnya saya revisi sedikit sebelum diposting. Daripada semakin mengerak. Dia telah berstatus draft lebih lama dari proses move on para netizen, tampaknya. Halah. *Digebukin warga sekampung karena jayus*

Jadi ceritanya begini. Beberapa waktu lalu (somewhere around mid 2016) ketika saya pulang ke rumah, seperti biasa yang saya lakukan adalah menggeledah-geledah kulkas karena hanya di rumah sendiri saya bisa melakukan hobi terpendam: iseng-iseng ngulik di dapur dan bikin makanan aneh-aneh. Modalnya cuma satu, yakni memanfaatkan bahan-bahan yang ada. Kadang juga diada-adain sih, toh supermarket ada di seberang jalan. Sumpah, tinggal nyeberang jalan raya doang sudah nyampe.

Saya tidak tahu masakan ini namanya apa. Mari kita namakan saja dia Meat On Top, supaya keminggris dan kedengaran keren. Padahal sebenarnya saya cuma bingung ketika menemukan sebutir kubis yang bulat sempurna di dalam kulkas. Iseng-iseng menjajal begini-begitu, eh ternyata jatuhnya kok bisa dimakan.

Langsung saja ya saya bagi-bagikan eksperimen ini.

What you need.

- Kubis (yang putih jangan yang ungu), dipotong tipis memanjang seperti pasta.
- Sedikit garam.
- Air bersih secukupnya untuk merebus.
- 1/4 kilogram daging giling/cincang (boleh ayam boleh sapi).
- 2 bawang merah, potong kotak kecil.
- 2 bawang putih, potong halus.
- Beberapa buah cabai, potong halus.
- Satu bungkus saus pasta siap saji rasa barbekyu (itu lho macam La Fonte.. ahahaha!).
- Minyak secukupnya untuk menumis.
Ukuran di atas ini nggak precise, sih. Namanya juga eksperimen jadi saya cuman cemplang-cemplung? *Kabur sebelum didemonstrasi rame-rame.*

What you need to do.

- Pertama-tama, untuk kubisnya kita rebus sebentar dengan cara dimasukkan ke dalam air mendidih yang sudah digarami selama beberapa saat. Sebentar aja, sumpah. 10-15 detik cukup (asal airnya beneran sudah mendidih ya). Jangan sampai lembek pokoknya. Bisa juga di-steam, tapi karena saya agak males ya udah sih.
- Saring dan sisihkan kubisnya. Kita kembali lagi nanti. Eh tapi kalau mau nyiapin kubisnya belakangan juga bisa sih. Toh cepet.
- Panaskan minyak. Persiapkan bawang merah yang tadi sudah dipotong halus lalu tumis. Tambahkan bawang putih lalu tunggu sampai aroma wanginya keluar.


- Setelah bawang merah dan bawang putihnya terlihat sudah mulai berubah warna, masukkan daging giling atau cincang, aduk rata.
- Masak sampai dagingnya menjadi cokelat gelap. Kalau mau masukin potongan cabai halus di tahap ini juga boleh.


- Masukkan saus pasta siap saji. Aduk rata.
- Tutup sebentar panci atau wajan kalian (tapi sisakan sedikit lubang supaya uap bisa keluar) sampai daging giling/cincang yang tadi dimasukkan sedikit lebih empuk.


- Kalau sudah dirasa cukup, angkat.
- Susun kubis di atas piring saji, tuangi dengan saus daging.
- Hias dengan sedikit keju parut.
- MARI MAKAN!

Lebih bisa dimakan daripada yang saya duga.

Sudah. Memang cuma gitu doang.
Tertarik mencoba?

z. d. imama

Thursday, 23 February 2017

On being a girl.


I personally think that being born as a girl means that you have to be ready for a continual struggle as long as you live. Yup. Being a girl is hard. So freaking hard. But this is my personal view, anyway, so please feel free to disagree. Or to give me a piece of your mind. Or to "correct" me if you think I'm mistaken. Yet nonetheless, I think being a girl is effing... wearying.

Saya akan menuliskan beberapa hal membuat saya berpendapat bahwa menjadi seorang perempuan itu tidak mudah. Disclaimer: basis dari postingan ini adalah pengalaman pribadi saya. If you guys experience something better, then it's good. Just... know that not everyone has the privileges, or even luck.

The monthly hassle.

Pada postingan sebelumnya sudah saya ceritakan betapa hakiki penderitaan yang saya alami setiap bulan karena menstruasi. Sebenarnya pernah periksa ke dokter, lalu diresepkan... birth control pills. Cuma masalahnya ketika mau ditebuskan ke apotek, apoteknya nggak mau ngasih karena saya tidak bisa menyerahkan kopi surat nikah yang mereka minta. Sedih banget kan. Sudah mencoba ke beberapa apotek pun hasilnya sama. Ada juga yang langsung bilang, "Wah nggak ada, Dek" saat saya tunjukkan resep.

Jadi ya sudah. Hingga saat ini pun saya masih bergelut dengan kram perut dan nyeri-nyeri (tidak) sedap ketika tamu bulanan itu datang berkunjung.

You can find Sarah's Twitter account here.

Moving on.

The blurred lines between friends or foes.

I grew up as a misfit. At school. At the neighborhood. Basically anywhere. Ketika jam istirahat saya lebih sering bersemedi di perpustakaan sekolah membaca semua koleksi buku yang ada di sana. Semasa SD, saya menerima banyak ejekan karena ukuran tubuh (bahkan sampai sekarang pun masih sering disindir-sindir oleh sejumlah orang―yang mana sama sekali tidak membantu psychological state diri ini yang naturally insecure). Bangku SMP hingga kuliah, saya tidak terlalu sering bergabung dengan circle-circle pertemanan karena entah mengapa tidak merasa nyaman. Berlama-lama nongkrong di kantin bukan hal yang menarik bagi saya. Mentok-mentok 45 menit. Itu pun sudah penuh perjuangan (biasanya saya rela memperjuangkan ini karena saya memang bokek kronis, jadi menunggu ada teman yang jajan supaya bisa dicicipin).

Jika dipikir-pikir, terakhir kali saya berada dalam 'geng' yang anggotanya perempuan semua adalah masa SMP. And in all seriousness, I never really knew who my true friends are when I was in an all-girls circle. The problem with many girls-only circles is that almost everyone is competing against almost everyone instead of supporting each other. Saya punya beberapa sahabat perempuan terbaik, tapi mereka justru hadir dalam single serving yang terpisah-pisah layaknya pisang Sunpride alih-alih satu rombongan.

Saya rasa, perempuan punya kecenderungan untuk bersikap lebih kejam justru terhadap sesama perempuan. Sedih nggak, sih? Gimana feminisme mau maju di negeri ini dan dimasyarakatkan dengan baik kalau yang (lebih) sering slut-shaming, body-shaming, bahkan victim-blaming seorang perempuan adalah perempuan juga. I've seen many girls―or womenshowing much, much less empathy to other girls/women. Nggak usah jauh-jauh deh. Itu di dalam KRL Jabodetabek, mau tahu di mana titik paling barbar dan lawless? Gerbong khusus wanita. That is where the real Hunger Games occurs.

But we have no Katniss Everdeen here.

The insanely ridiculous beauty standard.

Beberapa waktu lalu saya membaca tulisan dari dua orang yang 'berperang artikel' di Magdalene. Temanya sama: mengenai 'menjadi cantik'. Pertama, "Everyone is Beautiful: A Necessary Campaign" yang ditulis oleh Nadila Dara, seorang editor dan penulis di Female Daily Network. Well... yes. I guess that explains why she has such an opinion. Meskipun frase "Creating our own beauty standard" adalah sebuah hal yang bisa saya terima sebagai sesuatu yang cukup penting, saya tidak begitu menyetujui saat pada tulisan itu dikatakan bahwa "random standard classify them as ugly". I think the standards are not exactly 'random'. They are picked, shaped, and nurtured in the society, and my take is that beauty pageants are also preserving the so-called standards. Lha kalau memang yang diutamakan adalah tiga aspek berupa Brain, Beauty, Behavior dan semua orang (sebagaimana kata penulis artikel) sudah memiliki kecantikan dalam diri mereka masing-masing... harusnya kriteria berat dan tinggi badan nggak usah dimasukkan toh? Tapi yo ini cuma opini saya sebagai rakyat kecil.

Artikel kedua, ditulis oleh Ellyati Priyanka dan berjudul "I am a Feminist, I Stand Against 'Everyone is Beautiful' Narrative". Walau menurut saya dia tidak perlu pakai acara mendeklarasikan diri sebagai feminis di judul artikel (buat apaan sih?), isi tulisannya cukup menjelaskan bahwa berpikir "I am ugly but that is totally okay" bukan merupakan hal buruk. There is still many things we can do even when we are not considered 'beautiful', even in our own eyes. And that is perfectly fine. Kalimat penutup artikelnya yang berbunyi "We don’t always have to be beautiful, sometimes we just have to be human" juga mengingatkan saya pada seseorang yang pernah bilang bahwa jauh lebih penting menjadi seorang manusia yang baik daripada apa pun. This is more like a writing about acceptance, in my very own opinion. 

Let's jam forever to 2NE1 - Ugly.


Susah ya jadi perempuan? Bahkan urusan menjadi cantik atau tidak saja nggak pernah berhenti diperbincangkan. Hahaha. Haha. Ha.

I should go get myself some lunch.

z. d. imama