Monday, 9 July 2012

know your strength



happy good day :D

CAUTION:
this will be the most boring post, ever.
karena gue cuman bakal nge-post autobiografi yang jadi tugas ospek ke blog ini.
*dilempar setrika


Aku bukan anak pintar. Aku mengenali diriku sebagai anak dengan prestasi akademik biasa-biasa saja. Alasannya? Sebab selama duduk di bangku SMP dan SMA (lupakan bangku Sekolah Dasar, itu adalah masa-masa di mana hanya dengan sedikit usaha nilai bagus akan bertaburan di kertas ulanganmu dan sudah bisa dipamerkan kepada Ayah dan Ibu), aku tidak pernah memenangkan Olimpiade Sains dan sejenisnya. Nilai sepuluh dalam ujian matematika kudapatkan terakhir kali ketika aku kelas tiga SD—ini sungguhan, I’m that idiot in mathematics—dan aku adalah peserta tetap remidi matematika, fisika, dan kimia selama kira-kira empat tahun di sekolah menengah. Yap, hingga aku kelas sepuluh.

Jujur saja waktu itu aku nyaris depresi.

Aku iri dan minder melihat sebagian besar teman-temanku berhasil memperoleh nilai lumayan (beberapa orang, tentu saja, mendapat jauh lebih baik dari lumayan) untuk ketiga mata pelajaran tersebut, sementara aku hanya lolos tipis dari lubang jarum yang dinamakan ‘batas tuntas’. Bahkan aku kerap berprasangka kalau nilai-nilai mepet itu adalah hasil rasa iba guru-guru padaku, mengingat tak sekali-dua kali aku gagal menuntaskan nilai di ujian remidiasi.

Mungkin aku memang bodoh dalam pelajaran eksakta, pikirku dulu. Tapi nilai biologiku tidak tragis-tragis amat. Lalu aku berpikir ulang: mungkin masalahku adalah berhitung.

Sekarang coba pikir.

Aku menghitung X, Y, Z, angka desimal, pecahan, dan angka-angka aneh dalam matematika.

Aku menghitung kelembaman, kecepatan benda bergerak dan gesekan pada benda lain di fisika.

Aku menghitung jumlah molekul, partikel, ion dan kawan-kawannya di kimia.

Oke, aku memang menghitung jarak gempa dalam geografi dan inflasi dalam ekonomi, tapi itu masalah lain. Intinya, pelajaran matematika, fisika, dan kimia adalah semacam black hole di raporku, tak peduli seberapa keras aku belajar demi mengejar ketertinggalan.

Dan itu, bagiku, menyedihkan.

Guru kimiaku sewaktu kelas sepuluh bahkan sempat mengultimatum, kalau aku tak bisa menebus nilai-nilaiku di kelas sebelas nanti, aku mungkin tidak akan naik ke kelas dua belas. Waduh.

Aku panik. Istilah bekennya jaman sekarang: galau. Sekadar informasi, saat aku kelas sepuluh, sekolahku membuka tiga kelas program RSBI yang nantinya akan langsung dijuruskan ke IPA, dan celakanya aku adalah salah satu siswa dari tiga kelas RSBI itu.  Ayahku berpendapat bahwa masuk RSBI adalah ‘berada di jalan yang benar’, tetapi bagiku pertaruhannya kelewat besar. Sepanjang empat tahun aku sudah pontang-panting belajar tiga mata pelajaran maut itu dan masih saja belum cukup. Bagaimana kalau nanti aku gagal memenuhi ekspektasi guru kimiaku dan tinggal kelas karena kurang nilai? Apakah itu masih bisa disebut ‘berada di jalan yang benar’?

Kemudian, aku mendengar seseorang berkata.

Bukan ditujukan kepadaku, tapi kata-kata itulah yang menjadi peganganku selama ini, membuatku berhasil tiba di sini.

Jangan terlalu sibuk memperkuat kelemahanmu untuk menyamai kekuatanmu. Cobalah untuk mengakui kelemahanmu dan mempertajam kekuatanmu. Lakukan itu sambil terus melangkah maju.”

Dan aku pun merenung.

Apa kekuatanku?

Apa yang kusukai? Apa yang membuatku menikmati saat melakukan suatu hal? Hal apa yang ingin kulakukan?

Kuambil raporku. Kuperhatikan. Aku mempertimbangkan banyak hal, berdebat dengan diriku sendiri selama berhari-hari. Hasil dari perenunganku adalah: aku tidak akan masuk IPA. Aku harus pindah ke penjurusan IPS tahun ajaran mendatang. Untuk itu, aku perlu membujuk ayahku agar merelakanku keluar dari program RBSI ke kelas reguler.

Ya.

Keluar dari ‘jalan yang benar’.

Selanjutnya bagaimana? Tentu saja aku dan ayahku sempat bertengkar, sebelum akhirnya beliau mengalah (berkat jasa Ibu, yang selalu punya hak veto terhadap kebijakan-kebijakan Ayah). Sejumlah teman-teman memandangku sebelah mata. Ada yang mengatakan terang-terangan kalau aku sudah membuat satu keputusan bodoh. Yah, itu sudah bisa diduga sih. Mana mungkin semuanya adem-ayem saja.

Tapi tekadku sudah bulat.

Hari pertama aku menjadi siswa kelas sebelas, kutapakkan kakiku di kelas XI IPS
***

Pembagian rapor semester gasal kelas sebelas benar-benar membuatku tegang. Bagaimana tidak? Kalau nilaiku tak membaik, Ayahku pasti sangat kecewa (karena beliau tampak masih sangat berat hati membiarkanku masuk program IPS kala itu). Namun saat mengecek angka-angka yang tertera, aku bisa sedikit menghela napas lega. Paling tidak, hanya tersisa satu black hole di sana—matematika—, bukan tiga. Jika aku berjuang lebih ngotot lagi semester depan, mungkin hasilnya akan meningkat.

Beberapa bulan kemudian, aku berhasil memperoleh beasiswa pertukaran pelajar ke Jepang selama setahun.

Rasanya kayak mimpi.

Padahal aku yakin, ada ribuan anak Indonesia yang lebih pintar dariku yang mengikuti seleksi program pertukaran pelajar itu. Ada ribuan anak Indonesia yang rapornya terbebas dari ancaman black hole, yang tidak perlu menangis bingung terlebih dulu di malam sebelum ujian matematika, fisika, dan kimia. Anak-anak yang menjuarai ini-itu, baik akademik maupun non-akademik. Anak-anak dari golongan ekonomi menengah ke atas yang sanggup membiayai sendiri pertukaran pelajar mereka, tidak perlu cemas menanti sponsor seperti aku.

Tapi Tuhan mengizinkanku lolos seleksi pertukaran pelajar karena alasan yang tak sanggup kuketahui.

Motivasiku waktu itu sederhana saja. Aku ingin melihat bagian dunia yang belum pernah kulihat. Melihat bagaimana cara orang luar dan pemuda-pemudinya menatap wajah Indonesia. Aku ingin bertemu banyak orang, menyaksikan perbedaan penampilan, paham, dan bahasa.

Aku hanya ingin tahu.

Dan dengan bermodalkan rasa ingin tahuku, aku berangkat bersama enam orang anak Indonesia lainnya. Jangan tanya apakah waktu itu aku sudah lancar berbahasa Jepang. Pokoknya jangan, karena lihat huruf-huruf hiragana saja sudah berkunang-kunang.

Episode pertukaran pelajar tidak akan kuceritakan di sini. Yang jelas, selama setahun aku banyak melihat dan belajar hal-hal baru, melalui berbagai pengalaman yang membuatku banyak berpikir, merenung, dan—kadang—menangis.

Setahun berlalu. Aku pulang kembali di tanah air. Ternyata, perjuangan keras justru dimulai dari sini. Disebabkan perbedaan waktu tahun ajaran baru, aku masuk sekolah lagi di Indonesia ketika pertengahan semester genap kelas sebelas, dalam kondisi tidak ingat sama sekali tentang semua materi pelajaran. Segalanya seperti menguap begitu saja dari otak, karena apa yang kupelajari satu tahun di Negeri Sakura berbeda dengan apa yang ada pada kurikulum Indonesia. Selama dua minggu pertama, yang kulakukan hanyalah memandang hampa papan tulis sepanjang guru menerangkan—terutama di kelas matematika dan bahasa Jerman.

Aku tahu aku tak boleh tinggal diam.

Jika Van den Bosch punya cultuur stelsel, tampaknya aku harus (mau tak mau) mencanangkan studie stelsel terhadap diriku sendiri kalau tidak rela raporku dipenuhi black hole.

Kuputuskan satu hal: aku harus bisa benar-benar kembali paham pelajaran-pelajaran yang kulupakan.

Jadi kukerjakan saja hal-hal sederhana—dan masuk akal—yang bisa kulakukan.

Aku mencoba setiap hari duduk di kursi baris paling depan.

Setiap ada hal yang tidak kupahami, aku buang rasa gengsi dan malu untuk menanyakan lebih lanjut pada guru. Biar saja kelihatan bodoh, toh memang aku masih belum mengerti pelajarannya.

Kau tanya kenapa aku tidak berdiskusi saja dengan teman-teman?

Mana bisa begitu. Tidak ada orang yang mau dimintai tolong berpikir lagi setelah satu atau dua jam penuh mempekerjakan otak. Teman-temanku pasti juga lelah seusai pelajaran. Mereka pasti ingin istirahat. Lain soal kalau bapak dan ibu guru.

Tetapi ternyata berkomitmen terhadap diri sendiri itu memang tidak mudah.

Serius.

Apalagi saat kau adalah remaja SMA yang dilanda culture shock kampung halaman, curriculum shock di sekolah, perasaan enggan pulang ke Indonesia (karena sedang betah-betahnya di negeri orang), dan kesadaran penuh bahwa kini banyak guru-guru berekspektasi lebih padamu. Rasanya beban jadi banyak sekali. Belum ditambah peristiwa di mana sejumlah teman sekelas sempat mencibir, mengecapku sebagai teacher’s pet, karena mereka sering memergokiku bertanya atau berdiskusi dengan para guru. Kejadian tidak enak ini berlanjut selama berbulan-bulan, yang berdampak aku seperti dikucilkan dari mereka. Padahal aku tidak pernah mengeksklusifkan diri, lho. Aku selalu menyapa mereka dengan wajar, mengajak ngobrol, mencoba membaur, tapi beberapa orang tak menyambut baik usahaku.

Ya sudahlah.

Rasanya jelas sakit, ya, diperlakukan sedemikian rupa. But I came home to survive, and I will. I had survived out there, so I have to believe that this time it surely will be okay.

And everything had finally come to this point.

Atas izin Allah SWT, aku berhasil diterima sebagai mahasiswi Universitas Indonesia tahun 2012, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Sastra Rusia. Mungkin penderitaan-penderitaan dan beban-beban berat lain sudah menungguku, tapi aku akan mencoba untuk tidak melarikan diri. Perjalananku, sekali lagi, telah kembali ke titik awal. Di kampus perjuangan.

Veritas, probitas, justitia.
z. d. imama

5 comments:

  1. thanks ya Rabb, ijul posted a new blogsomething again! hahaha

    kayaknya emang udah sindrom turunan ya pada mandang anak yg mantep milih IPS sebelah mata. woy sekarang udah bukan jamannya soehartoooooo!!!

    semangat izul buat kuliahnya! ntar ajarin aku bikin nuklir yaa :D

    ReplyDelete
  2. Wow. cuma itu yg aku bisa bilang dari tulisan kamu ini, zul.

    perjuangan melawan orang tua untuk menuju 'jalan yang benar' nggak cuma kamu yg ngejalani. aku pun juga kayak gitu. ketika dipaksa harus memilih jurusan IPA dan tidak bisa diganggu gugat, sedangkan aku sendiri juga gamau. akhirnya jalan keluarnya adalah aku harus me'merah'kan salah satu nilaiku di rapor. walaupun aku tau, sebenarnya aku juga bisa *bukansombong* dan akhirnya, aku masuk IPS.

    harus ada hutang besar yang dibayar atas keputusan besar itu. HARUS SUKSES. ya, itu yang kita butuhin setelah kita telah berada di jalan pilihan kita sendiri yang mungkin bertentangan dengan keputusan orang tua kita.

    cuma ada satu kataku untuk perjuanganmu setelah pulang ke tanah air, SALUT. ya, aku salut sama kamu. kamu bisa kuat dan bertahan dalam kondisi seperti itu. kalau aku jadi kamu, aku pun nggak yakin akan bisa sekuat itu.

    Selamat adikku sayang. Manis itu adanya di akhir. dan kamu udah buktiin itu. Sekarang kamu udah ngerasain manisnya hasil perjuanganmu di SMA. tapi inget, ada perjuangan baru yang pasti jg akan ada pahitnya yang baru akan kamu mulai. DUNIA PERKULIAHAN.

    Semangat selalu, adikku. aku tau kamu bisa. :)

    ReplyDelete
  3. @ipah: heeeeeeeeeeeh kamu lama sekali engga ngomen di tempatku! dasyaaarzzz -_-

    @nisa-san: makasih wejangannya kakak :"") aku berasa dinasehati ibu-ibu muda, wkwkwkwk

    @dyah hapsari: makasih. tapi, kenapa pake envy segala sama saya yang babak belur begini? -________-

    ReplyDelete
  4. hello there learnlovinglife.blogspot.com blogger found your website via search engine but it was hard to find and I see you could have more visitors because there are not so many comments yet. I have discovered website which offer to dramatically increase traffic to your site http://massive-web-traffic.com they claim they managed to get close to 4000 visitors/day using their services you could also get lot more targeted traffic from search engines as you have now. I used their services and got significantly more visitors to my site. Hope this helps :) They offer best services to increase website traffic at this website http://massive-web-traffic.com

    ReplyDelete

Have you left me any comments? No? Why? Do not hesitate to write down your feedback so I can visit your blog in return!