Friday, 12 April 2013

adore


terus terang,
saat pertama kali melihatmu aku sudah merasakan suatu ketertarikan. entah kenapa. tapi kurasa bisa dibilang ada banyak faktor, jika aku mau mempekerjakan logikaku sedikit lebih keras.


mungkin saja itu karena...
karisma yang terpancar dari sosokmu yang penuh percaya diri.
bahkan agak sedikit terlalu percaya diri, kalau aku boleh mengaku jujur.

atau mungkin dari derap langkahmu yang lebar, tergesa, dan tak akan pernah bisa kuimbangi. pada akhirnya aku selalu harus berlari kecil menyusul, bahkan ketika aku yang tiba lebih dulu di suatu tempat daripada kamu.

namun bukan mustahil karaktermulah penyebabnya.
kamu selalu bicara seenaknya, semaunya, selalu memilih mengatakan kebenaran dengan cara paling menyakitkan sekaligus menggelikan yang pernah kuketahui. jika ada sesuatu yang memancing kemarahanmu, yang kamu keluarkan bukanlah teguran. tapi hukuman. dan itu selalu berhasil membuat siapa pun jera.


sepintas kamu terlihat menakutkan.
tidak menyenangkan.


tapi kemudian kulihat kebaikan.
di balik kalimat sarkastis. di balik seringai mengejek. di balik cengiran meledek. di balik komentar menusuk. di balik kesombongan yang menguar. di balik instruksi-intruksi kejam yang kamu berikan dari belakang meja tepat di tengah-tengah ruang kelas.


aku melihat kepedulian.


termasuk saat diam-diam kamu menyelinap keluar ruangan ujian dan kembali tiga menit kemudian, terang-terangan berkata kalau kamu memang sengaja meninggalkan kami lalu bertanya apakah kami memanfaatkan celah tiga menit itu sebaik-baiknya untuk menanyakan jawaban soal yang sulit kepada teman yang lebih pintar.


sudah hampir setahun sejak aku kali pertama melihatmu.
respek ini terus tumbuh dan kian menguat.
tidak bisa kuhentikan.


bentang sepuluh tahun jembatan usia bukan mustahil dilampaui.
tetapi bentang keadaan menahanku tetap diam, cukup puas hanya dengan mendengar namaku terlepas ke udara dalam balutan suaramu. aku akan berusaha untuk tidak menjadi rakus.

aku sudah bisa tersipu ketika kamu meledek kesalahanku.
aku sudah bisa tertawa ketika kamu melontarkan celetukan sombongmu dan kata-kata sarkastismu.
aku sudah bisa merasa kesal saat kamu memberikan perintah di luar kemampuan kami.
aku sudah bisa melangkah keluar kelas dengan tangan berkeringat dingin dan jantung berdetak cepat, namun bukan karena kepanikan.


aku sudah bisa mengalami banyak hal.
dan itu cukup.


karena di rumah, ada orang lain yang menunggumu.
seseorang yang menjadi alasanmu untuk pulang.
yang terpenting bagimu.



itu saja.
z. d. imama

2 comments:

  1. wah ini cinta murid kepada guru

    ReplyDelete
  2. Izin post di blogku ya, ini linknya: http://adindeer.blogspot.com/2013/06/adore_9.html
    Ada edit sedikit, tapi sudah dicantumkan sumbernya. Thanks.

    ReplyDelete

Have you left me any comments? No? Why? Do not hesitate to write down your feedback so I can visit your blog in return!