Sunday, 1 May 2016

Working Life Blues


Okay. So let me talk about weeks of experiencing working life. as amateur as I am, I'm already one of those corporate slaves so I guess I have the right to start whining making my own opinion about it.


Jika ada satu hal (sebenarnya sih banyak, tapi sebut satu saja dulu) yang kurindukan semenjak diperbudak oleh korporat, itu adalah main kapan saja di waktu weekdays. Apalagi nonton. Karena, well―you knowharga tiket bioskop pada saat weekdays jauh lebih bersahabat dibandingkan ketika weekend.

And then people ask.
"Yaudah sih nontonnya malem aja habis pulang kerja?"

Oh if only I can do that...
*laughing in tears*
(Tears of sadness)
No, baby. NO.
It's unfortunate, but I'm NOT that strong.

Padahal sejauh ini pekerjaan di kantor masih relatif baik-baik saja (setidaknya "baik-baik saja" untuk level anak-sastra-tapi-ternyata-juga-disuruh-ngurus-finance-dan-pajak-perusahaan), secara umum saya sudah tepar saat jam pulang kerja. Dan yang bikin sedih, penyebab low battery instan setiap harinya bukanlah apa yang terjadi di kantor, melainkan justru perjalanan pulang ke rumah.

It is effing tiring. Mana berani mah, main dulu entah ke mana habis ngantor. Bisa-bisa lelahnya jadi dua kali lipat. Dan kalau saya pulangnya lebih larut dari semestinya, ketakutan terbesar adalah nggak bisa bangun keesokan paginya terus telat masuk kerja. Huks. This is awesome, actually. soalnya dulu pas kuliah gak peduli-peduli amat bakalan masuk kelasnya terlambat apa enggak.

Klasemen sementara:
Pak Bos menduduki posisi puncak.
Dosen masih nun jauh di bawah sana.

So, to sum it up...
My former opinion still stands.
Growing up sucks, big time.
(Because mostly, only responsibilities keep coming your way and all the freedom you've always imagine somehow manages to flee.)


z. d. imama

0 Commentary:

Post a Comment

Have you left me any comments? No? Why? Do not hesitate to write down your feedback so I can visit your blog in return!