Wednesday, 3 August 2016

The Skin I Live In


Some people have their least favorite body parts.
Some others have physical traits they are really fond of.
And many people never actually pay special attention to their physique... all is well as long as everything works out fine.

Kali ini saya ingin membahas tentang sebuah... apa ya, elemen, yang terdapat pada tubuh saya. Sesuatu yang kasat mata. Sesuatu yang sebenarnya tidak pernah saya inginkan, tapi entah bagaimana tetap saja ada. Tetap saja saya memilikinya.

Scar.
I want to talk about my scars.
Bekas-bekas luka yang meninggalkan noda gelap di permukaan badan.


Well... siapa sih yang nggak mau punya badan mulus? But unfortunately, I don't have that. No more. Since when, I am not even sure. Right now my skin is 'decorated' with many flaws and to be honest, the first thing that catches my eyes every time I stand before the mirror is my scars. I have lots of them. Mulai dari bekas jerawat yang tersebar nista dan membuat tampang saya lebih mirip kertas LJK, luka kecil di tulang alis gara-gara kebentur meja ketika balita, hingga bekas luka paling gres yang ceritanya bisa dilihat di sini. Ada yang bentuknya seperti garis halus gelap karena kebaret, ada yang meninggalkan cekungan di permukaan kulit akibat kejedot benda tumpul, macam-macamlah.

However, I have one scar I hate the most. That's it. That's how I feel about this particular scar: HATEAnd if that expression is not strong enough for you, then it's not only "I hate it". I despise it. I loathe it. I am grossed out by it. I resent it. I detest it. I basically open a fucking thesaurus dictionary just to find synonyms for "hate". So you know how committed I am to my feelings. Saya bertahun-tahun merasa benci sebenci-bencinya pada bekas luka yang satu ini, yang rasanya selalu bisa membuat saya menyadari keberadaannya 24/7. Kayak kamu.

Bukan perut saya, serius.
(Saya nggak seramping itu badannya.)


I'll let you know some bits about this scar.

Bekas luka ini saya dapatkan ketika masih duduk di bangku Sekolah Dasar (bayangkan sudah berapa lama saya mengidapnya??) karena suatu insiden menyebalkan yang disebabkan oleh kebodohan serta kebandelan saya semasa kecil. And I regret it to this day. Dulu, saya tidak pernah menyangka kalau akan meninggalkan 'oleh-oleh' seperti ini.

For fuck's sake. this shit is so fucking ugly.
And quite big.

Panjangnya tujuh  sentimeter (saya bahkan pernah sengaja mengukurnya dengan penggaris saking gemasnya) dan dia bukan bekas luka yang sekadar menyisakan noda, melainkan juga membuat permukaan kulit saya tidak rata. Jadi diraba pun terasa. Setiap kali saya hendak mandi, atau habis mandi, kemudian berdiri di depan cermin... bekas luka ini seolah melambai-lambaikan tangan kepada saya. Minta di-notice seperti adik kelas kecentilan yang haus perhatian senpai. And my eyes will unconsciously shift to where the scar of my life sits.

Satu-satunya yang bisa disyukuri adalah: letak bekas luka keparat ini cukup tersembunyi. Posisinya ada di paha atas, sekitar sepuluh sentimeter dari tulang panggul. So that means: bye bye bikinis. And bye bye shorts, too, because even if it's fine when I'm standing up, the scar will show if I sit down. Ya kali nggak bakalan pernah duduk pas lagi pakai celana pendek?

Sejak lahir, saya ini punya bakat insekyur. And thanks to this scar, saya jadi makin tidak pede di situasi-situasi tertentu. Misalnya, ketika saya berada di ruang ganti anak perempuan sebelum jam olahraga. Atau di onsen, pemandian air panas khas Jepang yang mengharuskan kita buka baju di tempat yang disediakan. Atau waktu saya sedang dipijat oleh ibu-ibu ahli pijat langganan orang tua. I don't want ANYONE to see it. Hell, I don't even want to see that... thing. Sebab semua pasti akan bertanya. Berkomentar.

"Lho, itu kakinya kenapa?" They always ask with a surprise. Which, to my ears, sounds more like, "What the fuck is that huge, ugly, gross thing on your thigh?"

So I decided to be careful. I am doing all I can so that no one ever see past my upper-half thigh. I don't wear shorts. I avoid dress with miniskirts. I never swim in bikinis. But unfortunately, one can never be too cautious.


One day, I let my guard down.

Saya lengah. One day, someone find out about my scar. Bekas luka saya terpergok seseorang, dan itu suatu hal yang semestinya bisa saya cegah. Masih ingat dalam benak saya, bagaimana napas saya tercekat di tenggorokan. Bagaimana lidah saya kelu. Bagaimana kata-kata menggumpal bersama ludah yang tak mau tertelan. Menunggu reaksi yang diberikan.

I was expecting. "Itu kenapa?" or something like it. A question. With a hint of disbelief, maybe curiosity. Some lines similar to what everyone else told me.

But that person simply smiled at me and said, "It's okay."

It's okay? 
OKAY? For real? 

Is this person fucking crazy? How can something this ugly is 'okay'?? Saat saya menatapnya seolah-olah di lehernya tumbuh kepala kedua, dia menambahkan, "The way I see you won't change just because of that." And this may sound stupid, but at that moment I really wanted to cry. To know that someone else unquestioningly accept a part of me, which even I can't accept myself, feels like a wonderful thing in the world.

Jadi bagaimana hubungan saya dengan bekas luka warbiyasak gede ini sekarang? Sudahkah kami akur dan berdamai? Jawabannya... sayang sekali, tidak. Saya masih nggak suka dia. Tatapan mata saya masih kerap tersedot ke arahnya setiap kali bercermin sesudah mandi. Keberadaannya tetap mengganggu. Saya masih memilih tidak mengenakan celana pendek. And I still wave goodbye to bikinis. Life doesn't change that easy.

Yet at least we are on a truce. Me and that scar. Because now I've known better. Now I know, there will be someone else who say "It's okay" upon seeing the only skin I live in, marred with scars or not. I've met one of them. And I'm sure will find another. And hopefully, someday, I will look at my own reflection, inspect my scars one by one and mutter to myself:

"It's okay."


So, do you have your own scars? How do you feel about them?
z. d. imama

2 comments:

  1. Pengen ngomen apa gitu yang cerdas dan inspiratif tapi kok ujungnya galau ya? Hhhh kusedih :(
    Aku malah lebih penasaran ama the part when someone saw your scar.
    Hmmm.
    Hmmm.
    Hmmm?
    *menatap curiga*

    ReplyDelete
    Replies
    1. (YA ALLAH AKHIRNYA MISS KIKI NINGGAL KOMEN DI SINI LAGI!)
      (AKU BUKAN ANAK BUANGAN)
      *sujud syukur*
      *dipeper upil*

      ....ngg, itu, anu...
      AH, LIHAT ADA ULTRAMAN!

      Delete

Have you left me any comments? No? Why? Do not hesitate to write down your feedback so I can visit your blog in return!