Monday, 19 September 2016

1/3 of My Friends are Getting Married

Belakangan ini saya mulai melihat feed laman profil Facebook dihiasi foto-foto pernikahan teman-teman. Sekadar memperjelas, "1/3 of my friends" di sini tidak sebatas pada mereka yang angkatan sekolah atau kuliahnya sama seperti saya, tapi bisa juga kakak kelas yang beberapa tahun lebih senior, atau bahkan adik-adik angkatan. Intinya, mereka adalah orang-orang yang saya kenal dan mengenal saya (masalah ingat kalau kenal atau nggak, itu urusan lain).

Dari situ saya mengamati, ternyata perilaku manusia saat mengunggah foto-foto pernikahan cenderung mirip dengan ketika mereka mengunggah foto-foto wisuda atau kelulusan. Satu album bisa dipenuhi puluhan hingga ratusan gambar, namun ketika kita buka satu per satu ternyata gitu-gitu aja tipe fotonya. Sebagian besar orang yang difoto sama, pose sama, background pun sama. Klik tombol "next" berkali-kali pun serasa tidak ganti-ganti halaman sampai mengira Facebook lagi error... eh ternyata memang foto yang diunggah identik semua. Yah barangkali sedang euforia, maklumi sajalah.


Biasanya, album foto-foto pernikahan akan dengan sukses mengundang segudang reaksi dari teman-teman saya yang lain. Baik itu berupa likes atau komentar. Lazimnya pula, komentar-komentar yang tertulis di bawah postingan tidak akan absen dari seputar:

  • Mengucapkan selamat kepada mempelai. "Waaah selamat yaa.. udah nikah nih, ciyeeee."
  • Mendoakan mempelai dengan template standar berbau agamis. Seringnya sih antara "Tuhan memberkati" dengan segala variasinya ("GBU/God bless") dan "Semoga pernikahannya sakinah mawaddah warrahmah... berbakti pada suami ya, amiiin." (Kalau versi yang lebih kekinian, atau mungkin males ngetik aja, bagian "sakinah mawaddah warrahmah" akan disingkat menjadi "samawa").
  • Mengomentari sang mempelai. "Aduh cantik banget", "Waaah gantengnyaaa..", "Baju sama dandanannya baguuus..".
  • Ungkapan rasa kecewa. "Lhoo kok aku nggak diundang???"
  • Numpang curhat. "Aaaah jadi kepengin nyusul nikah juga, nih!"
  • Lempar umpan ke pasangannya, seolah mereka itu ikan di empang pemancingan. "Eh ini konsep nikahannya bagus juga yak, *tag akun pasangan*"
  • Ngetag teman dan kenalannya yang masih belum punya pacar sambil pura-pura peduli (padahal aslinya apaan). "Woy giliran elo kapan? *tag akun teman*"

Di luar itu, biasanya bergantung dari kreativitas masing-masing aja. Tapi ya, you know what I mean, mayoritas ya akan terlihat seperti layaknya contoh nyata yang diambil langsung dari Facebook di atas. (Well, at least I attempted to censor their names. Jangan tuntut saya, plis.)
Elo ngapain, sih? Sirik amat lihat orang bahagia!
Lho, jangan salah. Saya pun tadinya sempat berpikir demikian. Menanyakan, "Apa jangan-jangan gue iri ya?" kepada diri sendiri saking enggannya meladeni pertanyaan basa-busuk "Kapan nyusul nikah?" atau "Calonnya mana?" dan sejenisnya ketika berkumpul dengan sanak saudara atau kawan lama di resepsi pernikahan. Ujung-ujungnya, saya memilih nggak muncul dalam acara-acara seperti itu dan bahkan tidak meninggalkan likes atau komentar untuk foto-foto yang diunggah. Diem aja lah kayak orang-orangan sawah.

Setelah bersemedi di bawah arus air terjun shower, saya pun menyadari bahwa ternyata saya memang merasa iri! Iri gara-gara kepengin nikah juga? Oh, sayangnya bukan.

There. I said it.

Saya yang sekarang mungkin justru lari terbirit-birit kalau diajak nikah (meski sesungguhnya juga nggak ada yang ngajak). Saya belum siap. Belum siap berepot-repot ria menahan diri nggak ngupil biarpun hidung gatel pas ketemu calon mertua supaya direstui. Belum siap menghadapi drama-drama yang terjadi di kala mempersiapkan acara (yang nikah maunya apa, nyokap sendiri maunya apa, ibu mertua maunya apa, tantenya pasangan maunya apa...). Belum siap menerima protes, perlawanan, bahkan gunjingan sanak saudara kalau gaya pernikahan yang saya mau tidak sesuai dengan standar mereka. Kalau mau diteruskan, alasan ketidaksiapan saya bisa lebih panjang lagi.

Tapi di sisi lain, saya juga kepengin.

Kepengin pakai baju bagus ala-ala wedding dress yang roknya panjang melambai-lambai dan nggak ada seorang pun berpikir kalau saya overdressed. Kepengin ada orang lain yang mendandani saya, biar sesekali ini tampang bisa kelihatan cakep... nggak terus-menerus terlihat seperti keset Welcome yang sabutnya sudah amburadul.

Atau, boleh juga yang seperti ini:


Jadi ya, saya memang iri.
Tapi perasaan itu hanya sebatas hasrat tak kesampaian saya untuk bisa kelihatan cakep di dalam foto, yang mana shutter-nya dipencet oleh pihak yang memang memiliki standar estetika fotografi. Bukan sekadar ibu-ibu numpang lewat yang hasil bidikannya blur semua lantaran terburu-buru hendak melanjutan agenda belanja yang saya interupsi. Kepengin merayakan sesuatu bersama orang-orang yang saya anggap teman, yang mana sepertinya angan-angan ini agak intensify karena seumur-umur nggak pernah dapet birthday surprise ataupun mengadakan sweet seventeen-an. Maafkan impian babu yang terlalu sederhana ini, tapi memang begitulah adanya.
Yakin nggak ngebet nikah? Nanti keburu nggak laku kalau milih-milih.
Terus terang saja saya merasa bukan tipe orang yang terkesan dengan konsep "mari menikah supaya berbahagia". Saya berpendapat bahwa pernikahan itu adalah berbagi, baik kebahagiaan, kesulitan, atau kesedihan. Bukan sumber kebahagiaan. Bagi saya, seorang manusia harus mampu merasakan bahagia bahkan ketika dia sendirian. Jika menikah supaya bahagia tapi ternyata realita nggak seindah fantasi, ujung-ujungnya mungkin akan menyalahkan pasangan, seolah-olah menjadi bahagia atau tidak itu bukan tanggung jawab diri sendiri.

Lagipula saya nggak terburu-buru. Baru lulus kuliah ini. Baru mulai jadi budak korporat. Punya life goals macam "paling telat umur segini harus nikah" saja enggak. Selama ada orang yang bisa saya jadikan tempat 'pulang', di mana saya nggak perlu cemas menjadi diri sendiri sejelek apa pun, saya nggak terlalu ambil pusing soal pernikahan. Mengenai julukan 'nggak laku' yang mungkin akan dihembuskan saudara atau tetangga... maaf ya, Bapak, Ibu, tapi saya sih masa bodoh. Jadi mohon siap-siap mental aja kalau misalnya kelak direcokin kanan-kiri. Huhuhu.


Saya mau cari duit sajalah. Sampai saya punya kemampuan berak emas seperti dalam dongeng The Goose Who Laid Golden Eggs, saya mau kerja saja layaknya sekrup-sekrup kapitalisme pada umumnya. Supaya kelak bisa pakai baju bagus, sepatu kece, difotoin cakep, tanpa harus nunggu acara-acara semacam resepsi pernikahan.

Udah gitu aja.

z. d. imama

13 comments:

  1. Eniwei komentar rasa kecewa itu bikin gatel pengin jawab "emang lau sokap?"

    Berlaku jg buat semua foto kegiatan yg tetiba ada orang komen begitu. Bahkan cm foto lagi hang out lucu lho, dikomenin gitu :"

    Komennya oot ndakpapa kan, ya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lho kalau foto "hangout lucu" terus dikomentari "nggak ajak-ajak", jawab aja: "kalau memang kangen dan pengin ketemu ya ayo, kapan?"
      Kalau udah pakai cara begitu masih nggak pernah kasih respon, dan pas lihat ada foto hang out tetep komentar kayak gitu lagi, KAMPLENGI WAE :))))

      Delete
  2. Eniwei komentar rasa kecewa itu bikin gatel pengin jawab "emang lau sokap?"

    Berlaku jg buat semua foto kegiatan yg tetiba ada orang komen begitu. Bahkan cm foto lagi hang out lucu lho, dikomenin gitu :"

    Komennya oot ndakpapa kan, ya?

    ReplyDelete
  3. Komen ah sekali2. Ben ketok nek yes(?)

    Sebagai veteran(?) dalam hal ditanyain kapan kawin kapan nyusul keburu tua ga laku apalah apalah itu..bukannya bikin termotivasi untuk segera mengejar(?) dan memenjarakan(?) jodoh malah aku jadi tambah males.

    Biasanya yg nanya aku jawab "lha anda emang mau nyumbang berapa sih? Wong cuma ngamplopin 100rebu aja brisik amat nyuruh2 orang nikah."

    Selesai.

    ReplyDelete
    Replies
    1. HAHAHAHAHAHAHAHAHA
      Lha tapi bukannya kalau sanak saudara (bulik, budhe, lalala) gitu biasanya patungan biar ketok akeh terus dijadiin satu ya? Jadi yang nyerahin budhe paling tua, jumlahnya nanti udah jadi jutaan gitu (ya paling seyuta-dua yuta; pol lima yuta)

      Delete
  4. Jadi gini:

    1. Pas nikah boleh kok ngupil
    2. Nama temenmu yg disensor masih bisa aku baca hehe
    3. Kalo ucapan2 gitu saya makin ga kreatip. Main kopas ucapan orang saja. Lebih2 kalo di grup wa misalnya. Lebih praktis dan komunal xD
    4. Bener jargon Slank dulu: yg penting punya sikap..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Komentarnya pakai numbering... -_-
      1) Kan ngupilnya bukan pas nikaaaah :)))) wah nggak dibaca ini kalimatnya huhu
      2) Nggak apa-apa deh masih kebaca namanya yang penting udah ada niat baik buat menutupi. *diinjek

      Delete
  5. Sebenernya kamu kalau pengen pake baju mewah gitu bisa kok. Jadi model baju nikahan aja. Okesip.

    *ditabok bolak balik*

    ReplyDelete
  6. yaa sama aja, mau ketemu calon mertua kan jg mau nikah, gpp jg ngupil #membeladiri

    ReplyDelete
  7. Baru juga liat ada temen nikah sampe instagramnya serenteng foto kawinan semua. Kok ya malah nemuin blog post ini bhahahahak... Meanwhile, ada problem lain yang cukup bisa dibahas juga. pas kondangan mesti pada ribet "yampun q dateng ma chapa eah" ha teko dewe po raiso mbak? -,-

    ReplyDelete
    Replies
    1. OH IYA ITU JUGA.
      Atau, sekalipun kondangan ngajakin temen yang emang beneran cuma temen (karena kalau berangkat sendirian ada peluang nggak ada yang bisa diajakin ngobrol), pasti diledekin sama kutu-kutu helm pakai kalimat standar "Hayoo ini siapa? Temen apa temen?" sampai capek.

      Delete
  8. Dari judul sampai komen terakhir saya cuma nyimak aja, sambil mikir:"agaknya bener jg isi tulisan ini ya" 😁😂

    ReplyDelete
  9. Dari judul sampai komen terakhir saya cuma nyimak aja, sambil mikir:"agaknya bener jg isi tulisan ini ya" 😁😂

    ReplyDelete

Have you left me any comments? No? Why? Do not hesitate to write down your feedback so I can visit your blog in return!