Monday, 10 October 2016

The Bra Dilemma


Sejauh ini, selama kurang lebih dua puluh tahun hidup di dunia, jenis kelamin saya masuk kategori perempuan. Belum bosen juga sih, jadi belum ada niatan menyeberang ke kategori sebelah. Meskipun terus terang rasa sakit dahsyat yang senantiasa menyerang setiap bulan secara rutin adalah faktor cukup signifikan bagi saya untuk mempertimbangkan opsi tersebut. Tapi apa daya angan-angan itu harus dipendam karena penghasilan cuma cukup buat bayar kosan, makan di warteg, dan jajan Chiki atau permen Sugus.

...Ini ngomongin apa coba.

Eniwei, sejak akil baligh di usia sembilan tahun (iya ini serius saya nggak bohong; dulu menstruasi perdana ketika masih anak ingusan kelas tiga SD dan itu sakitnya bukan main sampai mengira mau mati), isi lemari pakaian saya pun mengalami metamorfosis. Rak-rak yang semula hanya isi celana dalam dan kaos singlet mulai dihiasi sejumlah miniset. Atau menurut istilah teknisnya yang lebih baik dan benar: training bra. Bagi kalian umat manusia yang nggak tahu miniset bentuknya seperti apa, itu kan hampir selalu dipakai Awkarin ke mana-mana tampilannya mirip-mirip sports bra, yang banyak nongol di iklan-iklan clothing line macam Nike atau Adidas itu.

Biasanya, miniset ini ada gambar lucu-lucu seperti Hello Kitty atau ikon-ikon animasi sejenis karena memang target pasarnya adalah anak-anak SD yang kecepetan puber seperti saya rata-rata di usia 11-12 tahun sudah mulai menstruasi. Mungkin maksud dari gambar-gambar tersebut adalah suatu bentuk upaya mempermanis masa-masa awal pubertas yang terus terang lebih banyak paitnya daripada asiknya*.

Miniset di atas bukan punya saya, ya.

Memasuki SMP, ibu saya memutuskan untuk meng-upgrade isi lemari pakaian saya lagi. Miniset mulai dipensiunkan dan masuklah beberapa warga baru bernama bra alias BH; berasal dari kata buste hounder (bahasa Belanda) atau breast holder (bahasa Inggris). Oke, semenjak saat itu resmilah saya menjadi salah satu dari sekian banyak abege-abege yang tidak melewatkan ritual memakai beha dalam kegiatan berpakaian sehari-hari.

Sampai situ tidak ada yang istimewa.

Masalah muncul justru bertahun-tahun kemudian. Setelah saya lulus kuliah dan mulai bekerja. Ketika saya, di tanah perantauan, merasa kalau baju dalam yang tergeletak di lemari (entah sejak kapan) mulai perlu diganti karena sudah cukup sulit untuk dikenali wujud aslinya. Pada titik ini saya mendadak tersadar tentang suatu hal yang sifatnya terbilang krusial dan gawat: saya tidak mengetahui ukuran bra sendiri.

GAGAL PUBER, INDEED.

Bukan berarti saya semenjak SMP tidak pernah sekalipun memperbarui onderdil-onderdil di lemari baju, lho. Jadi ceritanya begini. Selama ini, berhubung ekonomi keluarga yang cenderung mati enggan hidup segan, ibu selalu membelikan saya pakaian dalam di pasar atau kios-kios sederhana yang letaknya di kampung halaman. Harganya tentu saja luar biasa murah meriah, apalagi kalau dibandingkan harga normal Jekardah. Lima belas atau dua puluh ribu rupiah saja sudah dapet. Saat sedang obral bisa lebih fantastis lagi... lima puluh ribu dapat empat, misalnya. Namun beha-beha yang dijual dengan nominal lebih rendah dari harga diri saya ini juga memiliki kelemahan akbar: mereka rata-rata hanya terklasifikasikan dalam tiga kategori.

  1. Beha untuk abege.
  2. Beha untuk mbak-mbak kantoran.
  3. Beha untuk emak-emak (mohon dibedakan dengan 'embak-embak').
Mari kita bahas satu per satu.

- Beha Abege

Tipikal beha yang ditujukan bagi abege adalah variasi warna dan motifnya yang wow SUNGGUH MENTERENG saudara-saudara! Mungkin maksudnya memang supaya terlihat cerah ceria ya, sebagaimana jiwa-jiwa abege pada umumnya yang rebel-rebel gimana gitu. Sayang sekali saya agak-agak nggak sreg dengan model demikian karena sejatinya jiwa saya cenderung emo motif ngejreng dan warna badai agak sulit disamarkan dengan kaos singlet ketika memakai seragam OSIS yang putih polos. Tapi apa daya, yang bisa saya pakai kala itu ya cuma golongan ini...

- Beha Mbak-Mbak dan Emak-Emak

Beha dalam dua kategori ini, sementara itu, lebih kalem dibandingkan yang satunya. Warna yang dominan adalah hitam, putih, atau cokelat muda warna kulit yang lebih tren dengan istilah nude colors. Memang ada sih segelintir yang warnanya agak terang seperti merah atau biru navy, namun rata-rata polos gitu aja. Corak dan motif hore yang nyaris selalu ada di beha para abege mulai digantikan eksistensinya oleh renda-renda ala kadarnya untuk mempermanis. Ehem. Mungkin karena mbak-mbak dan emak-emak mulai kerap pamer-pamer beha ke orang lain. Sesuai ekspektasi usia, beha mbak-mbak didesain lebih besar dibandingkan beha abege, dan beha emak-emak tentunya lebih muat banyak daripada beha mbak-mbak.

Sudah. Begitu saja. Penggolongan hanya ada di tiga kategori. Masa bodoh dengan lingkar tubuh lah, cup lah... Di kios langganan ibu saya, jika kira-kira ketemu yang muat ya itu yang dibeli. Sekalipun usia masih abege tapi kebetulan bemper depan agak berlebih, maka mau tidak mau yang diserang adalah rak-rak pakaian dalam untuk mbak-mbak. Pokoknya dikira-kira ajalah. Simple logic.

Maka ketika dihadapkan dengan pertanyaan, "Lingkar tubuh dan cup-nya berapa?" oleh mbak-mbak pramuniaga toko pakaian dalam (yang hakiki) di Jakarta, saya pun terbengong-bengong. Lalu tertawa malu-malu. Kemudian mundur teratur. Menyelinap di balik pengunjung-pengunjung lain sebelum akhirnya abort mission untuk sementara. YA GIMANA BISA JAWAB ORANG AING SELAMA INI NGGAK PERNAH NGERTI BERAPA UKURAN BAJU DALAM SENDIRI??

Ketidaktahuan ini menemui akhir kisahnya pada minggu lalu, setelah menghabiskan suatu pagi di depan layar komputer mengulik simbah Google dengan kalimat kunci "How to do your own bra measurement".

Kenapa juga nggak dari dulu-dulu nyari infonya...
Entahlah. Namanya juga gagal puber.

Bukan punya saya, ini dapet ngambil dari simbah Gugel.

But then, apparently, knowing your own size is not enough. At least it turned out that way for me. Kenapa? Sebab, entah bagaimana, produsen pakaian dalam seolah memiliki standar yang tidak kembar bahkan untuk ukuran serupa. Gampangnya, sama kayak beli sepatu lah. Merek Bubblegummers (it's so 90s, guys!) nomor 36, misalnya, ternyata sedikit lebih kedodoran jika dibandingkan dengan merek Pro ATT berukuran sama. Masalahnya, fitting sepatu mah gampang ya. Pakaian dalam kadang-kadang diharamkan untuk dicoba-coba oleh sejumlah toko (kecuali korset) karena barangkali agak geli juga membayangkan satu beha pernah menampung tetek sejuta umat secara bergiliran...

Ujung-ujungnya tetap ada faktor untung-untungan. Apakah dia akan pas badan, agak sempit, atau justru sedikit terasa longgar. Haduh, Gusti. Lagipula, kan ukuran dada kanan dan kiri itu cenderung nggak sama (boys, if you haven't known about this particular natural weirdness of human anatomy: TAKE NOTES!), saya hingga hari ini masih belum tercerahkan mengenai sisi mana yang sebaiknya dijadikan patokan dalam memilih pakaian dalam.

Mendingan yang sebelah agak kesempitan tapi yang satunya ngepas? Atau pilih yang satu sedikit bernapas lega karena longgar sementara sisi sebelah muat bersahaja? Oh, dear Lord.

z. d. imama

*Berdasarkan pengalaman** pribadi.
**Hasil bisa bervariasi, tergantung tingkat kegaulan individu.

15 comments:

  1. Aku kok ngakak ya baca beginian :))))

    Aku cukup bersyukur ukuran kiri dan kanan sama besar (udah ngaca berkali-kali) jadi problem aku dalam membeli beha adalah ukuran. Ukuranku cukup unik, jadi kalau ngelihat ada diskonan dan ukurannya ada, aku pasti beli. Sampai suatu hari menyadari bahwa total beha yang ada di rumah sekitar 30an. Berarti tiap hari aku bisa memakai beha yang berbeda. *bangga*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Uh.. tapi Kak Chika enak kanan sama kiri bisa sama besar. Aku ada slight size difference yang sebenernya nggak begitu parah juga sih tapi tetep aja merasa minder karena merasa yang sebelah kayak kerupuk yang melempem atau adonan kue gagal ngembang (T____T)

      Delete
  2. Mau ngasih komen apaaa takut Wagu yg jelas lucu :D

    ReplyDelete
  3. Sebagai yang agak riwil soal ukuran dan pasnya, aku mau urun komen ah. Aku paling suka sports bra. Ga pake kawat (setelah dipake berjam2, sakit banget sampe pernah memar, jadi kapok), ga mau pake busa (udah gede banget sampe tumpah2 ga perlu ditambal busa lagi). Kekurangannya pake sports bra, ga awet. Berapa bulan aja udah melar semua..

    ReplyDelete
  4. Sebagai yang agak riwil soal ukuran dan pasnya, aku mau urun komen ah. Aku paling suka sports bra. Ga pake kawat (setelah dipake berjam2, sakit banget sampe pernah memar, jadi kapok), ga mau pake busa (udah gede banget sampe tumpah2 ga perlu ditambal busa lagi). Kekurangannya pake sports bra, ga awet. Berapa bulan aja udah melar semua..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Eh tapi emang sebenernya disarankan untuk ganti bra setelah lewat enam bulan sih, Mis (yang mana informasi ini juga baru kuketahui; gagal puber-ness status confirmed). Jadi kayaknya emang wajar kalau sports bra kalau rutin dipakai udah bakal melar dalam beberapa bulan kemudian.

      Delete
  5. Kayaknya emang ribet ya, pernah antar istri ke bagian pakaian dalam di department store, lumayan lama nunggunya, padahal istri saya orangnya praktis kalau soal berbelanja.

    ReplyDelete
    Replies
    1. MANA ISTRINYA MAS GALIH MAU SAYA AJAK SUNGKEM ( >____< )
      #MerasaPunyaKawan

      Delete
  6. Kok mirip banget kisahnya sama saya, dari awal kenal miniset selalu dibelikan kakak saya. Nah problemnya setelah kakak saya nikah dan yang di dalam lemari kudu di upgrade kan bingung..lucunya beli bareng sepupu yang ternyata juga nggak tau tentang per-beha-an, dan nggak kepikiran tanya mbah gugel juga.. jadi hanya ngira2 ini pas atau nggak..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lalu kalau ternyata perkiraannya meleset... sedihnya itu kayak habis ulangan semesteran yang kita ngerjainnya pede banget tapi pas hasilnya keluar nilai kita nggak sampai batas tuntas :)))))

      Delete
  7. wkwkwk.... miniset yg dipake ewkerin. oot tapi aku risih bgt orang gak ada isinya kok pede pake crop top atau sport bra... nggak... menarik. buat lawan maupun sesama jenis.

    however your difficult time actually reminds me of my sister. jadi waktu dia SMP, aku SD, ak lagi diajak dia beli BH... then aku anak lugu nanya "tau ukurannya gimana?" terus dia... mehehehe yang saat itu belom tau cara ngukur. actually dipegang terus dipas-pasin... EPIC? iya. *"))

    ReplyDelete
    Replies
    1. ADUH IYA AKU DULU JUGA GITU HUHUHUHU SUNGGUH MEMALUQAN.
      untung di kampung ya, dan di kios pasar pun jadinya banyak berkeliaran kimcil racing yang lebih alay dariku sehingga kelakuan norak itu tidak cukup tersorot khalayak XD

      Delete
  8. kebetulan selama ini gw blom pernah pake BH, jadi gak ngerti gimana dilema perbedaan kanan dan kirinya, tapi kalo kita samakan dengan kaki.. lebih baik menyesuaikan dengan kaki yg lebih besar.. yg lebih kecil bisa disumpel sama kain biar pas

    ReplyDelete
  9. *aku ngakak liat komen di atasku (((disumpel kain))) hahaha

    Btw aku termasup yang suka BH bermotif lucu-lucu (asal gak leopard aja) behahahahaha, jadi walo udah 20 something, BH-ku ya macem-macem warna dan motifnya, dan kata temenku aneh. Padahal kan gak keliatan ini. :P dan juga suka sama yang gak pake kawat, karena kalo pake kawat kayanya dicengkrem gitu anunya. *ya Allah aku merasa kotor banget bahasanya ini :'))))

    kesimpulannya aku lebih pilih yang 'lega'.

    SAlam kenal ya! :)

    ReplyDelete
  10. iyaaa akupun jugaaaa. malah selama ini udah 25th gini. masi minta dibeliin beha sama emak. dan yaa aku ga tau ukuran beha sendiri. jadi yaa kira-kira dibawah emak dikit lah. soalnya aku rada "besar". biasanya dibeliin yang berenda dan sport bra tapi emang jadi sering melar, padahal baru dipake 3 bulan.

    kalo di aku, yang jadi persoalan bukan cup, tapi lingkar dada. ada yg cupnya pas, eh gak bisa disangkutin "cry" jadi patokan pertama apakah lingkar dada itu, talinya bisa saling berkait apa enggak.

    dan kayaknya udah harus mulai cari tau ukuran beha secepatnya deh.

    ReplyDelete

Have you left me any comments? No? Why? Do not hesitate to write down your feedback so I can visit your blog in return!