Tuesday, 13 December 2016

Quick Look at RedDoorz: a review


Long weekend kemarin, seorang teman saya yang bernama A datang jauh-jauh dari luar kota ke Jakarta demi menyaksikan acara Pandji Pragiwaksono, "Juru Bicara Stand-Up Comedy World Tour". Berhubung kenalan dia yang ada di Jakarta sedikit kayaknya emang cuma saya, A minta tolong kepada saya untuk menemani mencari lokasi penginapan yang sudah dia booking beberapa hari sebelumnya. Usut punya usut, A memesan satu kamar di RedDoorz, yang memproklamasikan diri mereka sebagai Standardized Budget Accomodation. Jadi RedDoorz ini bukan hotel yang ada fasilitas ini-itu, tapi mereka sudah memiliki beberapa standar kenyamanan tertentu.

Iya kayaknya gitu.

Berhubung saya sendiri baru sebatas pernah dengar soal RedDoorz dan belum pernah melihat sendiri wujud aslinya, saya oke-oke saja menerima ajakan A ini meskipun Jakarta belakangan kalau siang panasnya ampun-ampunan. Hitung-hitung bisa dapat pahala bantu teman, sekaligus dapat materi untuk bikin postingan blog! Yey. Emang saya anaknya agak-agak kalkulatif, mohon dimaklumi. Untung lokasi RedDoorz yang dipesan A tidak terlalu sulit ditemukan, yakni belakang WTC Sudirman, Jalan Karet Bek Murad No. 73. Minimal kami tidak kelamaan muter-muter.

Di properti yang sama tersedia kamar untuk tiga jaringan akomodasi sekaligus.

RedDoorz merupakan sebuah jaringan akomodasi terjangkau yang belum lama berdiri, baru sejak pertengahan 2015. Saya menolak untuk menggunakan kata "murah", karena kalau nggak punya duit mah apa-apa tetep terasa mahal. Masing-masing properti RedDoorz yang tersebar pun memiliki 'pengelola' yang berbeda, dengan aturan yang berbeda pula. Beberapa RedDoorz melarang pasangan non suami-istri menginap dalam kamar yang sama, jadi di meja resepsionis tamu akan diminta menunjukkan bukti berupa surat nikah. Tapi tentu saja ada yang tidak mempermasalahkan hal itu, jadi sebaiknya sebelum memutuskan akan sewa kamar di RedDoorz mana, baca baik-baik aturan dan keterangan yang tertera di masing-masing properti (bisa dilihat di situs).

Resepsionis RedDoorz jadi satu dengan Upscale Suites.

Kolam ikannya sepi ikan. Kasihan...

Saat saya dan A tiba, di resepsionis sudah ada beberapa orang mengantri.

Jam check-in RedDoorz juga bervariasi di tiap properti. Ada yang sudah bisa masuk pukul 12:00 siang, ada pula yang lebih lambat. Untuk RedDoorz belakang WTC Sudirman ini tamu bisa check-in mulai pukul 14:00 (atau paling tidak setengah jam sebelumnya) hingga 21:00 WIB. Sementara check-out bisa dilakukan sejak pukul 07:00 pagi hingga 12:00 siang. Proses check-in berlangsung cepat dan mudah, cukup menunjukkan KTP dan pengunjung hanya diminta meninggalkan deposit senilai Rp100,000 saja, yang mana lebih murah dibandingkan RedDoorz Mangga Besar yang mematok deposit sebesar Rp300,000 seperti dikisahkan Mas Matius Teguh Nugroho di sini. Silakan dicek jika kepengin iseng-iseng melakukan perbandingan.

1) Soal kamar dan fasilitas.

Petugas pun mengantar kami menuju kamar pesanan A yang ternyata letaknya cukup tersembunyi. Lorong yang dilalui terbilang remang-remang dan agak sempit. Maklum, akomodasi murah, eh.. terjangkau. Tapi minimal tidak butuh waktu lama untuk sampai di kamar yang dituju. Penampakannya sebagaimana tampak di bawah ini:

Kasurnya sih bisa untuk berdua, tapi sisa ruangan jadi nyaris tidak ada :))

Karena kasurnya muat dua orang, teman saya dapat dua handuk, dua air minum dan basic toiletries.

Isi tas toiletries: sampo, kondisioner, bath gel, sikat gigi.

Jika saya boleh jujur, RedDoorz berlokasi di Jalan Karet Bek Murad No. 73 ini nilai kualitasnya saya kasih mentok di 7.3/10 sebagai akomodasi yang diklaim standardized. Kamarnya terlalu sempit untuk sebuah kasur double, sehingga rasa-rasanya ruangan habis ludes cuma keisi tempat tidur. Celah di antara ranjang dan gorden (yang juga diselipi bedside table mini itu) saya taksir hanya sekitar 50cm. Bahkan kayaknya kamar kosan saya masih lebih luas, deh. 

Oke sih, memang ada AC yang menyala lancar dan tempat tidurnya luas nan empuk (atas izin A yang baik hati setengah pasrah, saya sudah ngetes baring-baringan di atasnya dengan nista). Namun sirkulasi udara di kamarnya jelek banget sampai-sampai ketika kami masuk pertama kali, baunya sangat pengap. Tidak ada ventilasi yang memadai. Sinar matahari nggak dapat. Mau pagi, siang, sore, petang, malam, kalau ingin suasana terang yaa.. harus menyalakan lampu. KONEKSI WI-FI SUPERLAMBAT. Mirip jalanan Jakarta yang maju enggan mundur mana tahan. Sinyalnya timbul tenggelam pula. Mending nggak perlu dikasih wi-fi sekalian lalu menekan harga sewa kamar daripada begini. Ada TV layar datar dengan channel-channel lokal, lumayan kalau mau nonton film dari laptop atau HDD bisa tinggal colok.

2) Soal kamar mandi.

Kamar mandi, penunjang hidup umat manusia.

Saya adalah tipe manusia yang nge-judge orang lain berdasarkan kondisi lemari pakaiannya, kulkasnya, dan kamar mandinya. Sama satu lagi: manajemen files di harddisk-nya. Jadi ketika masuk hotel, penginapan, atau semacamnya, kaki saya langsung menuju kamar mandi lalu cek sana-sini. Ngetes ini-itu. Bahkan apakah cermin kamar mandi bisa dipakai ngaca atau penuh kerak saja saya teliti.

First impression: saya tidak impressed dengan kamar mandinya. Cenderung redup gitu. Apalagi shower terbilang tidak berfungsi baik karena airnya muncrat-muncrat ke mana-mana kayak orator demonstrasi di balik toa. Keran di samping toilet yang gunanya buat cebok pun mati. Dipencet kayak apa juga nggak keluar apa-apa. LAH GIMANA INI MASA TAMUNYA SURUH CEBOK DI WASTAFEL? Mana nggak disediakan gayung air pula. Untung teman saya A anaknya cukup tabah―atau hanya kelewat pasrah―dan dengan santai mengatakan, "Udah nanti aku bisa nampung air dulu di botol plastik dari wastafel buat cebok, kok."

*hening sampai tahun depan*


KESIMPULAN: Saya cenderung kurang menyarankan RedDoorz yang terletak di dekat WTC Sudirman ini. Yakin deh, ada akomodasi lain yang harganya mirip-mirip (mulai dari Rp200,000) namun dengan kualitas yang lebih baik. Tempat ini sebetulnya nggak buruk-buruk amat juga sih.. tapi bukan kualitas yang membuat kita ingin mengulang dua kali. Barangkali kemarin karena kebetulan long weekend dan semua orang sepertinya sungguh bernafsu pergi liburan, tempat yang masuk budget A dan dekat dengan lokasi show-nya Pandji ya hanya ini.

Di antara kalian ada yang pernah coba menginap di RedDoorz juga nggak?

z. d. imama

5 comments:

  1. Blogpost paling beda dari yang sebelum-sebelumnya nih. Soalnya ngereview kamar! XD

    Bolehlah ditunggu review kamar(?) lainnya. Lumayan bisa dijadiin referensi kalau ke JKT :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Masalahnya ini aja jadi bisa review kamar karena ada yang buang duit nginep-nginep di Jakarta, hahaha. Yah doakan saja semoga saya bisa lekas kaya raya supaya makin bisa bikin tulisan macem gini lagi X'D

      Delete
  2. saya pikir tadinya ini postingan review berbayar, tapi setelah dibaca2 endingnya malah jujur banget, malah kesimpulannya nggak nyaranin orang utk menginap disitu hihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kok Om suuzon sih sama saya, semacam kalau bikin review berbayar pasti bakal dibagus-bagusin :))))
      (Ya tapi ini nggak dibayar juga sih sama chain accomodation providernya.. malah temen saya yang bayar XD)

      Delete
  3. the last time gue pake red doorz... MASUK KAMAR ADA MAKANAN ORANG KEMAREN MALEM...... belom dibersihin. sejak saat itu mending AirBnB

    ReplyDelete

Have you left me any comments? No? Why? Do not hesitate to write down your feedback so I can visit your blog in return!