Thursday, 1 December 2016

The Pain of ID Cards' Pictures



Tulisan ini niatnya akan dijadikan postingan terakhir di bulan November, tapi ada daya, justru jadi postingan terawal bulan Desember. Tanpa sadar sudah akhir tahun aja nih 2016. Saya tampaknya mabok sepanjang tahun sampai-sampai nggak ngeh kalau tinggal sebulan lagi sampai kalender berganti ke 2017.

Anyway..

Sebagai manusia yang lahir di bulan Desember (hence this blog's head title: That December Girl), sejumlah kartu-kartu dan dokumen identitas saya akan kedaluwarsa pada bulan yang sama pula. Makanya perlu buru-buru diperbarui supaya tidak repot di kemudian hari. Desember tahun lalu, paspor saya habis masa berlakunya. Desember tahun ini, giliran SIM C saya yang harus diperpanjang. Bukannya takut kena tilang atau terjaring razia yang berujung uang melayang, tapi saya sebagai anak baik-baik mah memang berusaha taat aturan. Hehehe. Berhubung saya gadis rantau, saya berburu info kiri-kanan demi mencari tahu apakah perpanjangan SIM C bisa dilakukan di Jakarta, sehingga saya tidak harus pulang kampung dan tidak masuk kerja (yang berdampak gaji kena potong karena belum dapat jatah cuti tahunan).

Ternyata bisa! Thank God.

Mobil ajaib yang jadi malaikat penolong saya.
(Jadi maksudnya gimana? Dia ini mobil apa malaikat?)

Perpanjangan SIM melalui Pelayanan SIM Keliling (alias... PSK?) prosesnya cepat dan mudah. Saya hanya perlu menyerahkan selembar fotokopi SIM lama beserta aslinya dan fotokopi KTP ke petugas, mengisi formulir, kemudian menunggu giliran foto. Biayanya juga tidak mahal-mahal amat. Cukup Rp150,000 dan itu sudah termasuk ongkos pulang-pergi ke lokasi mobil PSK mangkal dengan naik ojek online. Entah sejak kapan layanan ini tersedia di Jakarta, tapi terus terang saya baru tahu dan merasa amat terbantu.

Nah, di babak berikutnya saya akan membahas hal krusial yang menjadi judul tulisan kali ini. Setiap kali mengurus surat dan dokumen-dokumen identitas, pasti ada yang namanya sesi foto. Okelah memang ada beberapa perkecualian yang memberi kita kesempatan untuk mengumpulkan sendiri foto diri yang kita mau, tapi untuk SIM, KTP, atau paspor tidak begitu. Kita harus mengantri sebagai rakyat jelata karena yang memotret adalah petugas bersangkutan dan dilakukan di ruangan yang tersedia.

MASALAHNYA:

Foto. Diri. Di. Dokumen. Identitas. Nggak. Pernah.  Bagus.

There. And to say that they are 'unflattering' is still an understatement. Hasil jepretan dari foto-foto KTP, SIM, maupun paspor ini kerap membuat saya syok karena yang kali pertama terlintas di benak saat melihat mereka adalah, "HAH ASTAGHFIRULLAH YA TUHAN SERIUSAN INI TAMPANG GUE?" saking mengenaskannya. I am no Olivia Munn alright, but I think I look better than sebongkah batu kali kusam yang permukaannya digambari sepasang alis dan dipakaikan wig keriting berponi.

Wait... or do I?


Setiap kali saya mulai merasa nyaman dan berdamai dengan (penampilan dan perwujudan) diri sendiri kok ya terus tiba-tiba harus ambil foto untuk identitas diri dan seolah diingatkan betapa jeleknya saya. Kray. Saya sungguh tidak paham. Ini yang salah siapa ya? Apakah ini dampak dari kamera yang digunakan petugas? Tapi jika dipikir-pikir, sekarang nyaris seluruh Satlantas dan kantor-kantor pemerintah menggunakan SLR/DSLR yang lumayan mihil untuk foto. Maka, meskipun kamera-kamera berbiaya tinggi itu rasanya sangat mubazir karena hanya dipakai untuk memotret wajah-wajah rakyat jelata tanpa memedulikan keseluruhan fitur dan fungsi yang ada, alasan "Kualitas kameranya jelek, sih!" tidak bisa lagi dianggap valid.

Lalu, jika begitu, jangan-jangan masalahnya memang terletak di tampang saya? Saya punya argumen yang melatarbelakangi perasaan insekyur ini. Setiap kali petugas bandara di pintu check in atau Polantas tengah melakukan pengecekan lalu surat-surat dan dokumen saya diperiksa, mereka nyaris selalu menatap muka saya dan foto identitas berganti-ganti sambil mengernyitkan kening. Seolah wajah yang terpampang nyata ke seluruh dunia ini membutuhkan revisi berkali-kali layaknya skripsi. Mau nggak mau kan jadi keki juga lama-lama? Sehingga akhirnya, setiap kali saya selesai memperpanjang masa berlaku suatu dokumen, dia akan saya simpan di dompet atau di laci dan tidak akan pernah saya tengok-tengok lagi kecuali jika terpaksa harus mengeluarkannya (untuk difotokopi atau untuk dikumpulkan ke pihak lain... *sigh*).

Kalau kata orang sih, "Cakep itu relatif, jelek itu nasib".

Jadi bagi kalian yang foto-foto di kartu identitasnya bisa cakep, saya iri deh. Sumpah. Iri dengki sekali. Kalian seharusnya bersyukur karena ada orang-orang yang ditakdirkan tidak seberuntung kalian, contohnya ya saya ini. Ahahaha ~

z. d. imama

8 comments:

  1. yakin ndak bagus? mana coba hasilnya saya tengok sini #Halagh

    daan selamat ulang tahun yaa wahai december girl, tanggal berapapun itu, doa saya smoga lain waktu fotonya tampak bagus dan layak dipigura ^^ *eh kok dipigura utk apa?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Om pasti foto KTP, SIM, dan paspornya cakep banget yaaaaaaaaa????
      *langsung menuduh*
      *melirik dengan tatapan penuh dengki*

      Delete
    2. Nganu, ndak jelas semua, & rata2 posisi body agak miring ahahaha

      Delete
  2. Bikin ktp pertama wktu itu lg gk ditempat jdi minta bantuan, pas dikirim ktpnya pake foto SMP -___- trus pas jaman e-ktp fotonya sekitar jam 12/1 malam, iya M.A.L.A.M. di bulan puasa, and my pic look like playdoh, a potato playdoh..

    ReplyDelete
    Replies
    1. KOK BISA SIH FOTO KTP SEMALEM ITU :))))
      Eh ngomong-ngomong soal e-KTP, saya bahkan nggak tahu lho punya saya ini udah e-KTP atau belum. Kayaknya sih sudah, tapi bahkan masih ada masa berlakunya (katanya kalau e-KTP kan udah seumur hidup?) Entahlah. Susah hidup di negara dunia ketiga...

      Delete
    2. Kgak tau dah knapa bisa malam gitu mana rame pula, smpe ada paklek penjual pentol :)))) e-ktp saya jg msih ada masa berlakunya, gk tau dah gmana caranya bkin jdi seumur hidup. Gampang buat tau e-ktp atau bukan, ntar kalo mau nikah trus trhalang ktp, brarti bukan e-ktp punya mu hahaha.. (katanya kalo nggak pnya e-ktp nggak bisa nikah bukan sih)

      Delete
  3. Foto SIM aku cakep HAHAHAHAHA terus gak rela kalau kudu diganti 2 taun lagi. Foto KTP juga lumayan tapi passport paling gong sih. Mukaku item banget udah kayak amplas. Kayaknya permasalahannya ada di mesin cetaknya sih. Gak bisa terang benderang kayak feed seleb instagram. Cedih.

    ReplyDelete
    Replies
    1. *melempar tatapan penuh iri dan dengki*
      Kalau temenku sih (berupaya menghiburku dengan cara) menyalahkan kamera SLR/DSLR yang mubazir itu, Kak. Jadi katanya kameranya cuman ditaruh gitu aja, nggak disesuaikan settingannya dengan kondisi ruangan. Tapi kalau mau ditambah menyalahkan mesin cetak juga boleh deh...
      *desperately trying to save self-confidence*

      Delete

Have you left me any comments? No? Why? Do not hesitate to write down your feedback so I can visit your blog in return!