Friday, 21 July 2017

First experience using PopBox


Ada yang sudah pernah dengar soal PopBox?

Hingga beberapa waktu lalu―tepatnya sampai saya lebih sering aktif berbelanja buku lewat situs Gramedia (yang postingannya juga ada di sini)―saya sama sekali asing dengan PopBox, baik nama maupun kegunaannya. Ketika "PopBox" muncul pada opsi pengiriman barang, rasa penasaran saya pun tergelitik dan akhirnya memutuskan mencoba menggunakan servis PopBox.

Ngomong-ngomong, saya nggak dibayar siapa pun untuk membuat tulisan ini.
Sedih, bos.

Jadi pada hakikatnya, PopBox adalah jasa layanan 'loker penitipan barang' atau 'kotak surat berbayar'. Barang-barang yang dikirimkan kepada kita baik itu dari online shop, laundry service, atau vendor-vendor lain yang bekerja sama dengan PopBox dapat diletakkan di dalam loker-loker ber-password yang mana bisa kita ambil sewaktu-waktu. Persebaran lokernya terbilang cukup banyak (sejauh ini tersedia di Jabodetabek dan beberapa kota lain yang dapat dilihat di situsnya), sehingga kita bisa memilih lokasi terdekat, atau tempat-tempat yang sering kita lewati. Barang pesanan sampai ke tangan kita tanpa harus menuliskan data pribadi seperti alamat tempat tinggal atau kantor! Tidak perlu pula mencemaskan kurir datang saat rumah kosong.

Penampakan loker PopBox. Cukup mentereng.

Bagian yang saya hitamkan itu berisi keterangan cabang loker PopBox. Tidak saya ungkap karena kebetulan saya memang memotret loker terdekat dengan 'daerah peredaran diri'. Jika layar kecil di sisi kiri itu disentuh, maka tampilannya akan berubah menjadi pilihan bahasa, seperti di bawah ini:

Foreigners-friendly.

Di situ juga ditunjukkan keterangan ada berapa loker yang tersedia dalam ukuran apa. Jadi jika ingin menyimpan barang yang relatif kecil (contoh: peralatan kosmetik), dapat diletakkan ke dalam loker XS agar tidak banyak ruangan terbuang sia-sia.

Sesudah memilih bahasa yang sesuai kemauan dan kemampuan kita, layar akan berpindah ke menu utama yang menampilkan aneka layanan dari PopBox. Selain servis andalannya sebagai drop box, ternyata PopBox juga bisa digunakan untuk melakukan pembayaran dengan e-money.

Ada FAQ juga tapi tidak saya coba tekan.

Saya kan memang bermaksud mengambil barang belanjaan dari Gramedia, maka saya pencet tombol "Mengambil Barang". Tahap selanjutnya adalah men-input password yang sebelumnya telah otomatis terkirim ke nomor ponsel (dalam bentuk SMS, bukan mendadak WhatsApp kayak abang-abang ojek online) kita ketika barang yang dipesan sampai ke PopBox tujuan.

Tombolnya besar-besar. Suka, deh.

Setelah kita menekan "OK", maka loker yang berisi barang milik kita akan terbuka secara otomatis. Tampilan layar akan menunjukkan nomor loker kita dan batas waktu pengambilan barang. Seru banget mendengar bunyi 'ceklek' ketika salah satu kunci loker dinonaktifkan dan katupnya bergerak sendiri. Bahkan saya (yang memang pada dasarnya gadis dusun) tidak bisa menahan diri untuk tidak cengar-cengir sewaktu menarik keluar belanjaan dari PopBox.

Agak nge-blur gambarnya. Maafkan saya huhuhu..

Come to me, my baby~

Biaya shipping dan handling PopBox terhitung sangat terjangkau. Saya kurang tahu apakah biaya berubah-ubah seiring berat barang yang dikirimkan, tapi ketika saya membeli buku seberat dua kilogram di Gramedia, tagihan pengiriman dengan PopBox hanya sebanyak Rp8,000. Padahal kalau dengan jasa kurir biasa (oke, pilihan shipment lain di situs Gramedia cuma ada JNE) akan dua kali lipatnya. Menurut saya, PopBox mampu menjadi alternatif yang sangat menarik untuk perkara kirim-mengirim barang.

Daftar vendor dan merchant yang bekerja sama dengan PopBox bisa dicek di situs mereka yah. Link-nya sudah saya sertakan di awal tulisan ini. Selain Gramedia online, ada pula PerfectBeauty dan sejumlah toko-toko online lain kok. Selamat mencoba menggunakan layanan PopBox! Kayaknya saya ketagihan sih...

z. d. imama

7 comments:

  1. (((Contoh: peralatan kosmetik)))

    Kok aku merasa tersindir ya..hmm..

    *padahal*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah ada yang sadar #kode...

      Delete
  2. Sayang sekali untuk daerah Bandung gak ada, padahal cukup menarik loh ini konsepnya. Privasi aman terjaga soalnya

    ReplyDelete
  3. Baru tadi siang di pom bensin bertanya-tanya itu apa kotak gede kayak vending machine. Thanks for the info ;)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mas Galih coba pakai PopBox dooong!

      Delete
  4. Belum pernah nyoba sih, males ngambil ke PopBoxnya. Biasanya langsung minta kurir yang diantar ke rumah (ceritanya orang sibuk) :)))

    ReplyDelete

Have you left me any comments? No? Why? Do not hesitate to write down your feedback so I can visit your blog in return!