Thursday, 12 October 2017

All that postcard in my hands


Sebagaimana yang sudah saya tuliskan di sini, belakangan saya cukup rajin mengirimkan kartupos kepada beberapa orang. Menuliskan hal-hal remeh nan tidak penting di kolom kosong yang kadang dipakai menyapa saja sudah penuh sesak. Membeli perangko dan mengirimkan ke kantor pos terdekat (yang mana artinya di lantai bawah gedung tempat kantor saya berada), lalu menunggu. Menanti kabar dari orang yang saya kirimi bahwa kartuposnya sudah tiba di tujuan. Dari pengalaman singkat yang saya miliki, terdapat satu kesimpulan aneh: kartupos yang dikirim ke luar Indonesia justru lebih sering sampai dibandingkan dengan yang alamat tujuannya masih dalam negeri. Entah kenapa. Mungkin yang di dalam negeri dicemilin sama pak pos sepanjang perjalanan kali ya, sebagai pengganti keripik.

Beberapa kartupos yang saya kirim mendapatkan balasan. Ada juga yang bahkan tanpa saya kirimi sebelumnya berkenan mengirim kartupos. Saya tersentuh, lho. Sumpah rasanya senang sekali. Sempat terpikir untuk membuat akun Instagram hanya demi memajang kartupos-kartupos yang berhasil sampai di tangan saya. Tapi akhirnya ya... niat itu urung diwujudkan. "Sudahlah, masukkan saja di blog..." begitu putus saya.

Mari kita mulai.


Kartupos dari mas Sandalian, yang  bermurah hati menawarkan saya untuk memberikan alamat tujuan karena akan dikasih kartupos. Huhuhu saya terharu. Sampainya relatif cukup lama (padahal sudah dikasih perangko lumayan banyak), tapi syukurlah berhasil tiba di tangan saya dengan utuh dan selamat. Suka deh dengan ilustrasi ala-ala gambar di koran lokal tahun akhir 1990-an begini. Pada bagian belakang kartu, dituliskan keterangan bahwa yang digambarkan adalah Festival Kesenian Yogyakarta 2014. Gemas. Sebagai warga asli dari provinsi sebelah (Jawa Tengah), nuansa dalam ilustrasi kartunya terasa sangat familier bagi saya juga. Jadi kangen rumah dengan segala urip selo-nya.

Terima kasih juga sudah main-main ke blog saya ya, mas. Tolong jangan kapok mampir kemari meskipun tulisan-tulisan yang saya unggah kebanyakan tidak berkualitas... *tenggelam dalam ketidakpercayaan diri*


Kartupos dari mbak Anggie, yang juga dengan kebaikan dan kemurahan hatinya meninggalkan pesan berbunyi kurang lebih, "Sini aku kirimin kartupos. Minta alamat". Bahkan saya dikirimi dua buah! Seandainya bisa ketemu langsung kayaknya saya bakal sungkem deh, mbak... saking senangnya. Namun di antara dua kartupos yang bertengger di meja saya pagi itu, The Olden Days Indonesia ini lebih menggelitik perhatian saya sehingga terpilih menjadi kartu yang saya pajang di blog. Melihat anak-anak di masa jadul berbagi satu bangku untuk tiga orang di sekolah membuat saya berpikir bagaimana jadinya jika saya sudah lahir di kala itu. Wong sebangku dua orang saja dulu hampir nggak ada yang mau ambil tempat di sebelah saya... hahaha. Barangkali saya bisa menguasai space untuk tiga siswa sendirian. Kayak naik pesawat Boeing di lajur tengah lalu kursi kanan-kiri nggak ada penumpangnya.

Kemerdekaan tersendiri?


Kartupos dari Puti Andiyani (alias @astarlightinthegloom―yang menemani saya berkeliaran dengan liar di The World of Ghibli Exhibition Jakarta bulan lalu) sewaktu masih bisa kelayapan sepuasnya di Prancis. Sekarang yang bersangkutan sudah pulang ke tanah air dan harus berkutat lagi dengan Jawa Barat, tepatnya kota Tangerang, yang sungainya tentu saja tidak selebar dan sefotogenik kota Grenoble. Bagi kalian yang gemar main-main dengan makeup, atau sekadar suka nonton orang dandan karena nggak sanggup dandan sendiri, bisa lho subscribe YouTube channel milik Puti.


Kartupos dari mas Affan yang nasibnya mirip-mirip seperti Puti, cuma bedanya dia belum lama ini pulang dari Jepang. Entah memang disengaja atau tidak, tapi kartupos dengan ilustrasi Tsuutenkaku di Osaka lengkap dengan shopping street di bawahnya terasa cukup nostalgic bagi saya. Sudah lama sekali tidak ke sana, padahal saat masih pertukaran pelajar dulu lumayan sering main ke Osaka―meski SMA dan rumah host family di Kyoto―karena banyak teman-teman sekelas yang tinggal di prefektur tersebut. Apalagi dengan fasilitas kereta yang selalu tepat waktu, jumlah armada terjamin, dan keamanannya relatif terjamin. Ya udah deh jadi bolang melulu.


Kartupos dari seseorang di Taiwan. Buset. Ilustrasinya Taylor Swift, yang sekarang sayang sekali sudah menjadi almarhumah sehingga tidak bisa lagi mengangkat telepon. Istirahatlah dengan tenang, mbak TayTay. Lagu-lagumu hingga album 1989 akan senantiasa saya kenang. Semoga siapa pun yang saat ini mengaku-aku sebagai dirimu di kancah musik Amerika dapat segera dirukyah agar kembali ke jalan yang lurus.

Ngomong-ngomong saya penasaran deh, di mana sih kalian membeli kartupos lucu-lucu dan bagus-bagus kayak gini? Hmm? Coba tolong bagi teman-teman yang tahu, bagi-bagi informasi juga dong di kolom komentar... Ya ya ya? Mau ya? Mau dong. #Pemaksaan.


Kartupos keenam dikirim dari Denmark, dan terus terang, saya suka sekali dengan kombinasi warnanya. Color palette yang terasa sangat kental dengan warna-warna yang keluar saat matahari terbenam meskipun gambarnya sama sekali nggak menunjukkan itu. Bahkan saya nggak tahu itu sebetulnya foto batang sapu, pensil, atau kuas yang belepotan cat? Malah jangan-jangan cuma gulungan kertas kado bermotif abstrak? Hmm. Sungguh misteri yang sukar dipecahkan.

Tukar-menukar kartupos membuat saya menyadari bahwa ternyata, thank god, tulisan tangan saya tergolong mudah dibaca. Apalagi kalau disandingkan dengan tulisan orang-orang yang tinggal di daerah Eropa dan Amerika. Beuh. Rasanya ingin bersikap jumawa. Berkacak pinggang dengan kepala mekar. Ada beberapa kartupos yang pesan-pesannya sama sekali tidak bisa saya baca saking tingkat orisinalitas terlalu tinggi hingga menyerupai sandi rumput. Kartupos dari Spanyol di bawah ini, yang sampai ke meja saya kemarin lusa, termasuk kategori "Western people with neat, readable handwriting" and still it looks very close to notes from a doctor:

Alamatnya saya sensor yah ~

*Googling "Camino de Santiago" dulu*

Oh, ya. Jika ada yang berkenan mengirimi kartupos, saya dengan senang hati akan menerimanya lho! Saling bertukar juga tidak mengapa. Tinggalkan saja pesan di kolom fitur "Leave a Message" yang terletak di bagian bawah blog, karena nantinya akan langsung masuk ke e-mail saya, sehingga informasi pribadi seperti alamat tempat tinggal atau kantor tidak nongol di ruang publik. Tapi mungkin kunci utamanya harus bersabar... sebab sebagaimana yang telah saya katakan sejak awal, entah kenapa pengiriman kartupos dalam negeri justru lebih sulit sampai di tempat tujuan dibandingkan ketika ditujukan ke negara yang berbeda. Huft. Betapa lucunya Indonesiaku.

*Tendang bis surat*
(DEAR LORD WHO STILL REMEMBERS "BIS SURAT" THESE DAYS???)

z. d. imama

10 comments:

  1. Aku suka nih kirim-kirim kartupos pas di luar negeri. Kemaren pas ke Rusia sempet ngirim buat temen-temen yg follow IG aku. :3

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku juga mau dikirimi dong kak meski ku tak punya Instagram :"))))

      Delete
    2. Udah telat sayangnya :'))))

      Delete
  2. Aku juga mainan kartu pos lagi. Akun Postcrossing-ku setelah 6 tahun nganggur akhirnya aku aktifkan lagi. 2 minggu lalu kirim kartu pos dan sampai sekarang belum ada yang sampai. Hahaha...

    Btw, nanti aku mau kirimin kamu kartu pos deh ya. Mau ngabisin stok kartu pos yang ada dulu. Nanti aku kirimin kamu kartu posnya pake kartu pos baru aja.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tapi kalau tujuannya luar negeri biasanya bakal nyampai juga, mbak... Aku dua bulan lalu ngirim ke temen di Gemolong (Jawa Tengah) malah nggak tahu sekarang nasibnya di antah-berantah (padahal udah dikasih kodepos)

      Delete
  3. *milih2 kartupos utk dikirimin*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Om mau volunteer ngirim ke saya??? *girang*

      Delete
  4. Aku pengen lah, Teh, dikirimin..hehe

    Btw, salam kenal ya..

    ReplyDelete
  5. Hai :)
    wah jadi kangen postcrosing lagi. dulu aku sampe join di cardtopost.com buat tuker-tukeran sesama anggota, paling jauh dari Amerika, ada dari Jerman juga. Kebanyakan sih mereka kuliah atau kerja disana dan kangen dengan Indonesia. Tapi setahun belakangan, udah hampir gak ada kartu pos yang mendarat. terakhir, kartu pos punya ko Alex dari Italia. Padahal dulu, hampir setiap bulan dapet paling enggak 4-5 kartu sampe bingung mau balesnya. heheheee.
    kalo kamu mau, nanti aku kirim kartu pos juga, masih nyimpen banyak kartu pos yang belom ke kirim:))

    ReplyDelete

Have you left me any comments? No? Why? Do not hesitate to write down your feedback so I can visit your blog in return!