, ,

Ayat-Ayat Cinta 2 is no greatest love story, it's the greatest fantasy


Sudahkah kalian menyaksikan Ayat-Ayat Cinta 2 di bioskop? Apa, belum sempat? Tenang, jangan panik. Silakan baca terlebih dahulu ulasan penjabaran seluruh kisahnya di sini, dan simpan uang jatah tiket kalian untuk hal-hal yang mungkin lebih berfaedah. Dipakai beli makan siang enak sebagai self-reward, disumbangkan ke kampanye pembangunan PAUD daerah terpencil, atau membantu Dik Dini yang menderita hydrocephalus via Kitabisa, misalnya. Tapi jika kalian sudah nonton (karena alasan apa pun, termasuk tekanan lingkungan) atau minimal khatam tulisan yang saya taruh tautannya di atas, mari bersama-sama menuju tahap pergunjingan pembahasan berikutnya.

Ayat-Ayat Cinta 2 sangat ambisius. Bahkan mungkin bisa saingan level dengan Gubernur DKI Jakarta yang sekarang. Memproklamirkan diri sebagai "The Greatest Love Story", film ini menghadirkan kembali tokoh-tokoh dalam kisah yang berhasil bikin SBY nangis saat nonton bareng di tahun 2008 silam. Jelas, ada pemeran yang harus ditukar-tambah. Kamu pikir semua orang mau diajak bikin sekuel setelah sekian tahun lamanya? Kamu pikir nggak ada tawaran kerjaan yang lebih oke? Hah? Hah? Kalau AADC 2 kehilangan Ladya Cheryl, kali ini Ayat-Ayat Cinta 2 nggak punya Rianti Cartwright lagi. Yodalah ya. Toh karakter Aisha yang dulu diperankan Rianti pun pakai cadar melulu.

Poster Ayat-Ayat Cinta (2008)

Meski bermodal ambisi dan pede setinggi kahyangan, Ayat-Ayat Cinta 2 dengan sukses justru bermanuver 180 derajat. Alih-alih living up to the self-proclamation as the greatest love story, film ini malah meliuk tajam menjadi the greatest fantasy. Beberapa orang bahkan menyebut Ayat-Ayat Cinta sejatinya ber-genre scifi. Luar biasa. Prestasi akbar di penghujung 2017. Namun terus terang, biarpun banyak pihak mengungkapkan kekecewaan―bahkan kemarahan―terhadap ending kisah Fahri sang Gary Stu versi Rohis dan seabrek perempuan yang jatuh bangun mengejarnya bak lagu Meggy Z, saya secara ajaib tidak terlalu terkejut. Asli. Sebagaimana telah saya ungkapkan lewat tweet, Ayat-Ayat Cinta memang merupakan kondensasi fantasi banyak orang yang jadi sasaran pasarnya. Apakah ini salah skenario yang jelek? Atau sekadar (meminjam istilah senior debat saya, Kak Terry) representasi setengah matang dari pembaruan Islam? Menurut saya, bukan.

Emang sejak awal niatnya gitu.

Now let's talk about Fahri.

Saat saya menyebut kondensasi fantasi, kita nggak mungkin nggak bahas Fahri. Hell, Ayat-Ayat Cinta is arguably a one-man show with all spotlights focused on this guy. Nggak dulu nggak sekarang. Bedanya, Fahri versi sembilan tahun lalu masih lusuh layaknya mahasiswa rantau. Belum necis mentereng. Persamaannya? Semua perempuan yang kenal pasti naksir. Fahri, I dare say, is the representation of eeeeeeeeevery guy's wishful thinking in Ayat-Ayat Cinta's target market list. Mereka ingin dipandang (atau memandang diri sendiri) sebagai sosok yang kuat secara religius―tapi tentu saja berpenampilan non-stereotipikal sehingga nggak bakal diperiksa kelamaan apalagi ditolak masuk di Arrival Gate bandara internasional, berpengetahuan tinggi, kaya-raya bergelimang uang dengan cash flow sederas air terjun Niagara, dan yang terpenting... digilai banyak perempuan (cantik), mulai dari yang terang-terangan kegatelan hingga jaim-jaim memperhatikan a la cewek-cewek ngefans senpai ganteng di shoujo manga.

Saya lihat, tidak ada perkembangan karakter yang berarti pada Fahri. Dikisahkan di Ayat-Ayat Cinta pertama, Fahri risau karena dia kepengin nikah tetapi tidak bisa menetapkan target pasti. Setelah memperistri Aisha, Fahri kembali bingung soal menikahi Maria yang sakit keras sekaligus patah hati gara-gara dia sudah jadi suami orang. Sembilan tahun terlewati daaaaaaan Fahri lagi-lagi galau perkara mau nikah lagi atau nggak cuma karena Aisha lama nggak ketahuan rimbanya (udah gitu nggak dicariin pula). Hadeh. Hampir satu dekade berlalu tapi sebab-musabab gundah gulana mentok di "Gue enaknya kawin nggak yhaaa?"

Worst. Protagonist. Ever. 

Masa Fahri kalah sama Fadli Zon yang dulu bela-belain selfie genit bareng Donald Trump dan cepet-cepetan kirim tweet ucapan selamat pas dese menang, tapi mampu secepat kilat berbalik mengecam sewaktu Trump menyatakan Yerusalem adalah ibu kota Israel? Fadli Zon aja bisa punya so-called 'character development'. Nah, si Fahri? Kagak.

Lebih suka Fahri pas masih main gitar aja di garasi.

Rupanya selain terus-menerus pusing urusan nambah-bini-nggak-ya, di luar dugaan, Fahri ternyata punya kemiripan dengan saya. Dia juga penganut prinsip "99% masalah orang-orang bisa diselesaikan dengan uang". Mantap. Ada tetangga ketangkep ngutil? Tebus biar bebas, lalu kasih akses gratis buat ambil segala macam barang di minimarket. Ada tetangga nggak mampu bayar kursus biola? Suruh guru musik terbaik ngasih les, nanti Fahri yang urus tagihannya. Ingin mencegah tetangga jual diri? Sewa orang untuk nakut-nakutin, biar kapok! Tetangga yang lain diusir dari tempat tinggalnya? Gampang. Beliin aja dia rumah! Mau nggak masuk akal kayak apa, ini pendekatan menyegarkan dan jauh lebih realistis dibandingkan tipikal film-film atau sinetron religi yang cukup dengan berdoa maka segala masalah terselesaikan. Splash that cash, Daddy Fahri!

Moving on to the girls, shall we?

It's sad, really. Tampaknya perempuan-perempuan yang disasar pembuat film Ayat-Ayat Cinta dan direpresentasikan oleh tokoh-tokoh di dalamnya adalah mereka yang mengidam-idamkan "Mr. Perfect" datang melamar serta menjadikan pernikahan sebagai kartu As. The golden key. The final frontier. The end goal. The ultimate solution of all life troubles. Senjata pamungkas yang dapat menaklukkan segala musuh di dunia fana. Kamehameha milik Goku, Chidori khas Uchiha Sasuke, Tendangan Macan punya Hyuga Koujirou, hingga Badai Nebula-nya Shun bakal tumbang tak berdaya di hadapan rengekan "Nikahi aku, Fahri..." dari Keira bertampang Chelsea Islan.

OOOOOOOOOOkay.

God, my eyes roll so hard they're doing back flip in their sockets. Perempuan-perempuan yang sepintas diperlihatkan badass dengan jiwa kemanusiaan tinggi sampai jadi relawan Palestina, memiliki kecerdasan cukup mumpuni untuk sekolah magister, berprofesi sebagai lawyer, bahkan punya talenta serta kecintaan tinggi pada biola sampai dibela-belain ngamen supaya tetap bisa main musik ujung-ujungnya teteeeeep aja nggelendot ke Fahri (dan hanya Fahri)―lewat berbagai bentuk dan cara. Apalagi Keira. Ya Rabb. Generasi cetakan mana sih dia? Padahal bisa lho, Keira dikisahkan semakin gigih berlatih biola modal duitnya Daddy Fahri kemudian dapat beasiswa ke Conservatoire de Paris kayak Noda Megumi di serial Nodame Cantabile itu. Jadi musisi sukses dengan track record mumpuni, masuk nominasi Grammy bak Joey Alexander, lalu pas menang bikin deh speech khusus ditujukan secara langsung ke Fahri selaku easy money figur penolong.

TAPI NGGAK, DONG.

Keira lebih suka menawarkan dirinya untuk dinikahi. I'll repay you with my body, Fahri. Kacau. Sinting. Sedih cuy nontonnya. Sok dikasih backstory segala buat menjustifikasi, bahwa Keira udah terlanjur bikin sumpah kagak bermutu macem sayembara kerajaan cerita rakyat.

Para filmmakers Ayat-Ayat Cinta 2 dengan sengaja memilih nggak menggunakan opsi resolusi yang lebih waras, misalnya Keira mengganti hutang-hutang atas pertolongan Fahri sang glucose patriarchal figure under disguise of Hamba Allah selama ini dalam bentuk uang, atau minimal memberikan reserved VVIP seat with backstage access tiap hendak pertunjukan. Ngenes. Edukasi, bakat, kecerdasan, dan kemampuan individu perempuan-perempuan di Ayat-Ayat Cinta 2 berasa nggak ada makna apa-apa. Sekadar pajangan agar tampak 'progresif'. Padahal mah bodong. Mengingatkan pada petuah-petuah sumbang, "Nggak apa-apa mengejar cita-cita tapi kamu harus ingat kodrat". Mengingatkan pada sejumlah tulisan mahasiswa-mahasiswi yang kuliah nun jauh di luar negeri, bahkan disponsori, namun kampanye yang getol dilancarkan via media sosial mentok di nikah muda. Mubazir.


And please do not get me started on Aisha. Nggak tahu lagi deh mau marah atau sedih terhadap bagaimana penggambaran karakter Aisha dan implikasi pesan yang disampaikan penulis buku maupun skenario film. Oke, kita semua tahu Aisha dengan penuh kesadaran diri merusak wajah dan vaginanya agar tidak diperkosa orang-orang yang menahannya ketika jadi relawan Palestina. Tapi ya kalau setelah itu dilanjutkan dengan merasa "gagal dan tidak layak lagi menjadi istri untuk Fahri" 24/7, buat apa segala ke-badass-anmu Aisha????? Belum lagi akhir cerita yang membuat Aisha harus mengenakan wajah Hulya sepanjang sisa hidupnya hanya untuk alasan norak yang sangat terasa dipaksakan. Narasi yang dibawakan Ayat-Ayat Cinta 2 seakan-akan mengatakan bahwa nilai perempuan―dalam hal ini, istrijatuh luar biasa ketika dia tidak melahirkan anak, sudah tidak cantik, dan tidak bisa lagi diajak bersetubuh. Bagaimanapun caranya, asalkan sang suami, at the end of the day, harus berhasil mendapatkan keturunan, pasangan hidup yang cakep, dan tetap bisa hohohihe dengan istri (entah nomor berapa) maka barulah itu dianggap happy ending. Pembaruan Islam mbahmu kiper.

Lebih baik saya sudahi ngomel tentang Aisha sebelum segala hal yang carut-marut di benak tumpah semua dan menghabiskan sekian ribu kata untuk menguraikan dari A sampai Z.

Ya emang semua gara-gara Fahri, wong fokus ceritanya aja dia...

Kata Fahri-nya sendiri Fedi Nuril, orang seperti Fahri betul-betul ada di dunia nyata dan bahkan bisa lebih fantastis lagi. Saya tidak meragukan hal itu. Serius. Coba diingat-ingat, siapa yang seumur hidup tidak pernah mendengar cerita tentang laki-laki yang kerap dipusingkan mau-nyetok-tambahan-istri-baru-apa-nggak dan kebetulan punya kekayaan sedikit berlebih? Rajin beribadah, rajin bersedekah, sekaligus rajin menikah―hanya karena merasa diperbolehkan atau mampu melakukan itu?

Doesn't it sound veeeeeeery familiar?

Ayat-Ayat Cinta 2, pada akhirnya, merupakan seonggok manifestasi fantasi. Seolah-olah mengimplikasikan bahwa sudah sepantasnya laki-laki yang religius, pintar, serta berduit nan dermawan tidak cukup memiliki satu orang istri. Lalu perempuan bagaimana? Bodo amat, yang penting inget kodrat.

z. d. imama

*P.S.: Tulisan ini adalah pelampiasan uneg-uneg pribadi sebagai reaksi atas sebuah film. Ngomong-ngomong, sewaktu SMA saya ada tugas kelompok untuk bikin film amatir, jadi bagi yang hobi nyolot, "Sok-sokan komentar!!! Bikin film itu susah!! Emang situ pernah??" jawabannya: "Pernah, kok. Bye."
Share:

13 comments:

  1. Resensimu ini dipenuhi emosi sana sini ckckck

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lho, di sebelah mananya saya bilang ini tulisan resensi, Om? Wong cuma tumpahan uneg-uneg :)))

      Delete
    2. pokoknya uneg2 pun kalo ttg film tetep saya anggap resensi *Semena2* :))

      Delete
  2. Hahahaha Nodame disebut-sebut xDD
    Coba seandainya logika Si Keira ini dipake sama Nodame juga "Auclair sensei, marry me please.. I'm begging you" -__-

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terus Auclair-senseinya bertampang Takenaka Naoto yang item keling itu. Nangis.

      Delete
  3. Astaga, gua ngakak. Fahri disamain fadli Zon. Hahahahahahaha.. Ya udah, gua nonton Jumanji aja dah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau punya duit lebih untuk dibuang-buang sih nonton aja mbak... supaya lebih greget emosi dan tekanan batinnya :)))

      Delete
  4. tapi aku lebih memilih Zafran sih. hahaaaa *eh beda cerita ya?

    saya juga agak kaget dan kurang setuju sih AAC dibikin sekuel. mirip sama surga yang tak dirindukan. sama-sama poligami. dan pemerannya pun (Fedi Nuril). saya nonton yang surga yang tak dirindukan 1, dan gak berharap akan berlanjut ke sekuelnya. karena dari trailernya pun sudah tertebak jalan ceritnya.
    sejak 99 cahaya di langit eropa, saya bahkan sudah tidak berniat menonton film tema poligami berbalut religi di bioskop.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya emang cerita-cerita macem itu mentoknya juga di sana sih mbak... Udah jadi fantasi kebanyakan target marketnya mah :))))

      Delete
  5. Aku belum nonton ini. Brb nonton dulu...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nanti kak Chika boleh numpang ngomel kalau udah nonton xixixi

      Delete
  6. I agree with you.

    Ketika yang lain pada nangis waktu nonton, saya malah bengong karena bingung harus merespon gimana. Ditambah Keira saya kira bakalan keren banget, terus tiba-tiba jadi kayak begitu... Entahlah saya gagal paham T T)

    ReplyDelete
    Replies
    1. MAU NANGIS JUGA SIH SEBENERNYA KARENA TERTEKAN HAHAHA KENAPA GINI AMAT (T____T)

      Delete

Have you left me any comments? No? Why? Do not hesitate to write down your feedback so I can visit your blog in return!