, , ,

Boku Dake ga Inai Machi: the kinda comparative review


Ngomongin komik Jepang dengan segudang adaptasi, saya yakin sebagian besar dari kita akan teringat pada Death Note. Nggak salah, sih. Tapi belakangan ini saya melihat bahwa ternyata Death Note tampaknya punya calon pesaing. Yakni Boku Dake ga Inai Machi (terjemahan Inggris: The Town without Only Me), yang mana judul internasionalnya diubah menjadi Erased. Original material berupa manga diserialisasikan sejak tahun 2012 silam dan tamat pada bulan Maret 2016. Memang terbilang masih lumayan baru, namun sampai hari ini, Boku Dake ga Inai Machi sudah diadaptasi ke dalam serial animasi, live-action movie, dan 12 episode drama live-action Netflix. Pertanyaannya: apakah semua bagus? Lebih oke yang mana sih? Kira-kira sebaiknya menikmati yang mana? Nah. Makanya ulasan perbandingan ini saya buat.

FREE SPOILER OR NOT?

Saya akan berusaha seeeeeeeeemaksimal mungkin untuk tidak memberikan keypoint maupun detil-detil penting di sini. General overview saja dari segi cerita. However, this post will have rather plenty of screenshots. Maklum, kita kan mau membandingkan bagaimana masing-masing versi menggambarkan aura, suasana, dan tentu saja: pemilihan cast berdasarkan desain karakter di komik sebagai materi asli. Ringkasan cerita Boku Dake ga Inai Machi secara umum kurang lebih begini:

Fujinuma Satoru, aspiring manga writer berumur 29 tahun harus menghidupi diri dengan bekerja paruh waktu di restoran pizza karena manuskrip komiknya nggak pernah diterima editor dengan baik. Satoru memiliki suatu kemampuan membalikkan waktu yang dia namakan 'Revival', yang muncul selalu pada momen tak terduga dan―biasanya―ketika ada peristiwa yang mengancam nyawa, baik dirinya sendiri maupun orang lain. Seolah-olah Satoru disuruh menemukan 'kesalahan' tersebut dan memperbaikinya. Suatu malam, setelah sebuah insiden besar yang melibatkan ibunya, Satoru terlempar ke 18 tahun yang lalu dan dia harus bekerja keras memperbaiki semua dari titik tersebut untuk mencegah masa depan yang sudah pernah dialaminya.

Konsultasi dengan editor: versi live-action movie (2016)

Konsultasi dengan editor: versi Netflix drama series (2017)

Saya yakin bahwa lewat ringkasan ceritanya, sudah bisa ditebak bahwa genre Boku Dake ga Inai Machi adalah misteri, thriller, suspense, human drama, atau yang sejenis. Well... you're not wrong. Tema time-traveling atau time-hopping pun nggak bisa dikategorikan sebagai hal baru, namun Sanbe Kei, mangaka yang menulis cerita sekaligus ilustrator komik Boku Dake ga Inai Machi berhasil menggabungkan aspek personal demon yang memberikan motif meyakinkan bagi protagonis untuk melakukan hal-hal yang dia perbuat sepanjang kisah dipaparkan. The pacing is excellent, the panels are distributed rather carefully and wisely, and the use for widespread pages are very much on point they often gave me uncomfortable chills. Wajar jika Boku Dake ga Inai Machi dinominasikan di berbagai penghargaan komik Jepang. Apakah setumpuk adaptasi-adaptasinya bisa bersaing secara kualitas? Hm. Tunggu dulu.

- The Storytelling

For fictions, how the stories are told is the main key. Setidaknya begitu menurut saya. Apakah ceritanya receh (alias pasaran) atau 'berkelas' justru nomor dua. Aliran peristiwanya nyaman diikuti nggak ya? Banyak hal-hal tidak masuk akal yang terjadi nggak ya? Perkembangan karakternya gimana? Jawaban atas ketiga pertanyaan tersebut berpengaruh besar terhadap mood dan keterlibatan saya sebagai pembaca atau penonton. Manga Boku Dake ga Inai Machi nails it almost perfectly. Almost. Sebab kesempurnaan hanya milik Tuhan (halah). No, seriously. Sekarang kan lagi ngetren tuh tagline "Jangan kasih kendor". Nah, komik Boku Dake ga Inai Machi kayak gitu. Nggak ada kendor. Setiap bab dan peristiwa punya tujuan. Belum lagi ending cerita yang, bagi saya, sudah merupakan penutup paling tepat. Dramatic but neither overly-cheesy nor predictable. Wis pokoke menghantam tepat sasaran.

TENANG, TENANG, INI TIDAK TERLALU MASUK MAJOR EVENT KOK.

Sedangkan, sayangnya, adaptasi animasi dan live-action movie Boku Dake ga Inai Machi tidak memiliki kualitas ending yang sama karena ceritanya diubah. Episode final anime dan 30 menit terakhir live-action movie dibuat berbeda dengan komiknya... namun tidak memberikan alternatif lebih baik. Percuma deh. Bikin gondok doang. Barulah di drama series Netflix yang tayang 15 Desember 2017 kemarin (wah barengan ulang tahun saya!), tim produksi memutuskan sticking to the original material and it turned out almost majestic. Finally, one adaptation of Boku Dake ga Inai Machi got the ending it always deserves. Sehingga kalau ingin tahu bagaimana kisah asli Boku Dake ga Inai Machi namun kurang suka baca komik―atau tidak cocok dengan gaya artwork Sanbe Kei―bisa maraton versi drama series-nya via Netflix. Hanya 12 episode.

- The Casts

It's obvious that both the manga and anime version will have similar character designs (which you can see at the opening picture). Jadi saya nggak akan bahas dua medium itu panjang-panjang. The movie and drama series, however, have rather different choice for casts. Sehingga saya akan menyingsingkan lengan baju untuk menghujat membeberkan sedikit tentang perkara itu. Pertama, Fujinuma Satoru selaku protagonis. Live-action movie yang menampilkan Fujiwara Tatsuya (betul sekali, dia juga yang memerankan Yagami Light di live-action movie Death Note) menurut saya agak gambling, sebab meski punya tampang yang cocok untuk karakter stressed out, chemistry-nya dengan Katagiri Airi, rekanan kerja di restoran pizza (diperankan Arimura Kasumi) jelek banget. Entah ini sebatas mereka berdua nggak klop dibarengin atau gara-gara karakterisasi Airi yang dibuat berbeda dari komik.

Airi yang lebih flirty dan gatel centil sedang meledeki Satoru: versi live-action movie (2016)

 Rambut Satoru yang senantiasa tertata sempurna: versi Netflix drama series (2017)

Sementara Furukawa Yuki, pemeran Satoru dewasa versi serial Netflix, punya aura down-to-earth yang lebih natural dibandingkan Fujiwara Tatsuya. And this is a very good thing. Ketiadaan nuansa high-class dari aktor utama menyebabkan chemistry antarpemain meningkat cukup signifikan sehingga lebih enak diikuti. However, if I had to be nitpicking, tampang Furukawa Yuki amat sangat baby face... padahal umur dia lewat 30 tahun. BENERAN. Ngerti nggak sih tipikal manusia beraura rakyat jelata tapi mukanya nggak kelihatan sengsara? Gitu lah pokoknya. Kadang-kadang kesel banget melihat Satoru hidupnya rempong dan penuh perjuangan tapi wajah stays supercute. Bikin sirik.

Berhubung Satoru nantinya terlempar ke 18 tahun lalu, otomatis akan ada aktor dan aktris anak-anak dong. If Furukawa Yuki outshines Fujiwara Tatsuya by being 'less bright', Nakagawa Tsubasa, the child actor playing elementary grader Fujinuma Satoru in live-action movie, overshines him by being brighter than Rihanna's diamond. Like, I'm no kidding. That kid is genuinely brilliant. I LOVE EVERY SCENE HE'S IN. Rasanya seperti menemukan Ashida Mana versi cowok. Semoga di tahun-tahun mendatang kemampuan akting dik Tsubasa terus berkembang. I'd like to see more of him. I want to see him grow.

Satoru kecil dan teman sekelasnya, Hinazuki Kayo: versi live-action movie (2016)

Dedek-dedek rapat geng: versi live action movie (2016)

Bangun tidur rambut berantakan: versi live action movie (2016)

Live-action movie of Boku Dake ga Inai Machi has a pretty solid lineup for its young casts. Aktor-aktris anak-anaknya bagus-bagus. Hinazuki Kayo (Suzuki Rio) dan Kobayashi Kenya―yang nama pemerannya nggak bisa ditemukan di mana pun... jahat bener―memberikan penampilan mumpuni serta mampu mengimbangi kualitas akting Nakagawa Tsubasa. Gampang sekali jatuh sayang pada dedek-dedek bertalenta ini. They succesfully make you wholeheartedly root for whatever shits they're doing, whatever plan they're making. Ibarat driver ojek online pasti saya kasih bintang lima tanpa pikir panjang. Bahkan bonus tip minimal goceng.

Uchikawa Reo, aktor pemeran Fujinuma Satoru kecil di drama series Netflix, memang tidak seghumash dik Tsubasa but boy he did pull the job. Hinazuki Kayo yang dibawakan Kakihara Rinka juga terbilang cukup menyakinkan. Jujur saja, agak sulit memberikan penilaian objektif terhadap jajaran pemain anak-anak Boku Dake ga Inai Machi versi Netflix setelah performa gemilang geng Nakagawa Tsubasa. So when I, rather begrudgingly, mumbled "These kids are also good...", I meant it. Satu-satunya kekurangan dan 'cacat cela' dari serial drama Netflix adalah usia asli aktor-aktris kecil yang rata-rata sudah 13 tahun alih-alih 11 tahun layaknya kebutuhan naskah. Dibandingkan dengan live-action movie pendahulunya, Satoru, Kayo, dan Kenya di Netflix tampak jauh lebih matang. Not so kiddos anymore. Itu pun jika perkara tersebut boleh dianggap 'cacat cela', ya.

Satoru terbaring di hamparan salju Hokkaido: versi Netflix drama series (2017)

Kayo jalan digandeng Satoru: versi Netflix drama series (2017)

Satoru terpergok Kenya malam-malam: versi Netflix drama series (2017)

Bicara masalah kasting, pemilihan seiyuu a.k.a voice actor untuk serial animasi Boku Dake ga Inai Machi perlu diberi acungan jempol. Sebanyak mungkin. Kalau perlu minjem jempolnya kelabang atau ulat bulu biar rame. Memang apa bedanya dengan anime-anime lain? Well, they went as far as casting actual/physical actor and actress―people we usually see on television dramas and movies carrying out rolesinstead of the usual seiyuus. Sekadar informasi, aktor dan aktris 'beneran' biasanya hanya digunakan sebagai seiyuu untuk film-film animasi yang masuk ke bioskop. Serial animasi tayang reguler di televisi mah boro-boro. 

Mitsushima Shinnosuke, yang mulai menggoyang dunia akting Jepang lewat performa menterengnya sejak 2013, ditunjuk mengisi suara Fujinuma Satoru dewasa sementara aktris-merangkap-dancer kesayangan saya, Tsuchiya Tao, didapuk sebagai Satoru kecil. Peran partner in crime Satoru, Kenya, dipercayakan kepada Emoto Tasuku. I'm happy to say that they don't disappoint at all. Plus, it felt so refreshing. Kehadiran mereka mendatangkan angin segar, suara-suara baru yang belum sering terdengar di kancah dunia animasi.

- The Soundtracks

If there's only one legitimate reason allowed on why you should watch the anime series of Boku Dake ga Inai Machi, it's for the soundtracks. Kajiura Yuki can never go wrong. Bahkan ketika cerita asli serial animasinya jelek nggak ketulungan sampai jadi menyedihkan, asal komposer soundtrack-nya Kajiura Yuki maka adegan-adegan bisa tetap terasa grande (iya ini nyindir Sword Art Online). Lagu pembuka bertajuk Re:Re: yang dibawakan Asian Kung-fu Generation memang terasa agak out-of-place dan mood-nya nggak masukselain fakta bahwa lagu tersebut aslinya dirilis tahun 2004 kemudian direkam ulang di 2016tetapi vibe lagu Sore wa Chiisana Hikari no Youna sebagai penutup setiap episode sangat on point dengan keseluruhan serialnya meskipun karakter vokal Sayuri mirip emergency whistle on steroid.

Boku Dake ga Inai Machi live-action movie sayangnya nggak punya soundtrack sekece serial animasi dan drama Netflix. Bukan jelek, sih. Kalah aja. Yep. You heard me right. Soundtrack Netflix drama series lebih oke jika dikomparasikan dengan film bioskopnya. How should I say it... everything mixes perfectly at the precise moment. Seolah-olah nggak ada penempatan yang meleset. The music complimented the story so well it's rather memorable.

Hinazuki Kayo in ending credit: from TV anime series (2016)

Ngomong-ngomong, lagu penutup yang terdengar saat credit roll Boku Dake ga Inai Machi versi Netflix dibawakan Kanojo in the Display. Judulnya Akane (ini mungkin nama cewek kayak 'Sephia', 'Sally', atau 'Yolanda', tapi nggak ngerti dah kenapa juga pakai nama orang yang nggak ada di dalam cerita filmnya). Kalau dibikin head-to-head antar theme song, Chise Kanna dengan Hear ~Shinjiaeta akashi~ yang muncul di akhir live action movie jelas kelelep... secara lirik dan kesan yang ditinggalkan.

- The Overall Conclusion

Gimana ya... selaku seorang purist snob saya tetap menyarankan teman-teman yang ikhlas bertahan menyimak cerocosan panjang-lebar ini untuk baca manga Boku Dake ga Inai Machi dulu sebelum merambah ke yang lain. Paham kok, style gambar Sanbe-sensei belum tentu cocok buat semua orang, tapi nggak ada salahnya coba-coba. I really like how he depicted uneasiness, bad feelings, sense of disturbance, and how 'hints' are scattered all around the place for readers to pick up. Cuma kalau bener-bener nggak sanggup baca atau males banget banget banget, seperti saran yang sudah saya lontarkan dalam paragraf nun jauh di atas: cukup tonton versi Netflix drama series. Sisanya silakan dijamah apabila ada waktu senggang berlebih. 

Kayak saya ini. Banjir waktu luang.

The golden combi, Satoru and Kenya: from TV anime series (2016)

Teman-teman sekelas Satoru di SD: versi TV anime series (2016)

«««« Boku Dake ga Inai Machi - Netflix drama series (2017)
Plus points: great pacing, camera works oh-so fine and polished, awesome color palette which brings out the suspense, solid casts whose performance is complementing each other, soundtracks on fleek, MOST FAITHFUL TO ITS MANGA.
Negative points: 404 not found (currently).

««« Boku Dake ga Inai Machi - TV animation series (2016)
Plus points: nice voice casts, character designs are a level-up from its manga counterpart, and the soundtracks!!!1!!!FTW!!!
Negative points: less attention to details than the manga, half-assed attempt at creating different ending.

««« Boku Dake ga Inai Machi - live-action movie (2016)
Plus points: good retelling by picking up right keypoints and focusing on fewer characters, all kids actors' performanceso please watch this just for those children please puh-lease pls.
Negative points: weak soundtracks, what-the-fuck ending, nonexistent chemistry between adult Satoru and Airi.

Saya sudahi saja tulisan ini sebelum panjangnya menyaingi jalan Anyer-Panarukan a la Daendels. Bagi yang belum sempat nonton atau baca Boku Dake ga Inai Machi, this one is a must try. And let me know what you think about this particular masterpiece on the Comment section below. Sampai jumpa di celotehan berikutnya!

z. d. imama
Share:

7 comments:

  1. aduh... aduh... jadi pengen ikutan nyerocos >< jadi mohon maap nih, sebelumnya.

    Yes, yes, yes! Setuju banget kalo Boku Dake ga Inai Machi disebut masterpiece dan disandingkan sejajar dengan Death Note.
    Aku sih, cuma nonton anime dan live action aja, karena duh.. mau sebagus apa tetep gak betah baca komik mending nonton langsung. Pengecualian buat Kuroshitsuji, beneran ngikutin komiknya kalo itu, hehe.

    Kalo live actionnya menurutku gak banget, aku sampai merasa menyesal karena udah nonton live actionnya. Fujiwara Tatsuya ora mathuk blas jadi Fujinuma dan iya gak ada chemistry sama Airi, sungguh hambar. Tapi ya itu... bocah-bocah itu sungguh stunning.

    Dan karena aku banyak setujunya sama review ini, maka akan nonton yang versi serial netfliknya, percaya deh, kalo mbak bilang "... it turned out almost majestic"

    Terus... beneran itu Furukawa Yuki umurnya udah lewat 30 tapi tampilan mukanya kayak gitu?? Duh. Harus nonton.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tapi Death Note, bahkan komiknya sekalipun, udah keburu ngondoy bin letoy sebelum akhirnya dibuat tamat (dan saya nggak suka sama sekali dengan endingnya like APAAN ANJER)

      Tonton aja mbak serial Netflix-nya. Kece. Tone keseluruhannya juga 'surem' agak-agak faded gitu jadi cocok sama nuansa suspense.

      Delete
  2. Saya sempat menghabiskan anime nya, Ceritanya apik. Walau latarnya tidak banyak berubah tapi petualangan yang dipertontonkan serasa luas. Konfliknya tidak terduga.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Animenya masih kalah jauuuuuuuuuuuh dengan materi asli :")

      Delete
  3. Saya suka jalan ceritanya sampai 5 kali di ulang ulang gak bosan, salut sama yang buat.

    ReplyDelete
  4. Nonton animenya; baru episode empat tapi udah suka banget. Di episode dua pas Satoru kecil ngeliat ibunya lagi, ikutan terharuuu T_T Hinazuki itu kecil-kecil tapi udah cool banget gitu ya >,< Udah sempat lega pas nonton episode keempat ketika mereka ngerayain ultah bareng, tapi endingnya bikin deg-degan lagi. Duh. Berharap ending secara keseluruhan gak suram-suram amat.

    ReplyDelete
  5. Aku suka banget ini Erased, belum baca bukunya tapi sekarang lagi coba nonton anime-nya. Walau filmnya agak depresi tapi aku suka banget tone-nya, akting para pemainnya, sampai ceritanya yang gemes-gemes gimana gitu. Yuki FTW!!

    ReplyDelete

Have you left me any comments? No? Why? Do not hesitate to write down your feedback so I can visit your blog in return!